banner12 1
Iklan Web R

Swasembada Pangan Negeri Bahari

 

Oleh: Soen’an Hadi Poernomo*

 

Sebagai negeri yang sebagian besar wilayahnya berupa perairan, maka swasembada pangan sebagai salah satu program prioritas utama, tidak bisa terlepas dari sumberdaya pangan yang tersedia di Nusantara. Garis pantainya terpanjang di dunia, dan merupakan negeri kepulauan terbesar. Produksi perikanan tangkap sekitar 7 juta ton/tahun, budidaya sekitar 15 juta ton/tahun.

Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah ikan merupakan komoditi yang bergizi sangat baik. Proteinnya cukup tinggi, dengan asam amino lengkap dan paling mudah dicerna. Hal ini tentu sangat baik untuk pertumbuhan, termasuk bisa mencegah problema stunting. Ikan memiliki pula keunikan yang positif, yakni terbanyak mengandung asam lemak tak jenuh Omega-3, 6 dan 9 yang mencerdaskan, karena berfungsi pengembangan otak. Juga ikut menjaga stabilitas cholesterol. Mineralnya, kalsium, selenium dan lainnya banyak dikenal membantu tulang, enzim dan hormonal. Serta kandungan vitamin A, D, B6 dan B12 sangat mendukung kesehatan mata, tulang dan lainnya.

Agar terlaksana dengan baik, program swasembada pangan, terlebih dulu diperlukan pemetaan yang tepat dan jelas. Sebagai negara yang terdiri dari 16.671 pulau dan bergunung-gunung, ketersediaan pangan dan budaya sosial penduduk dalam konsumsi pangan sangat beraneka ragam. Keberadaan desa-terpencil, di pulau kecil atau di puncak perbukitan, juga tidak sedikit.

Untuk mempertimbangkan ketersediaan sumberdaya pangan akuatik, diantaranya bisa dilihat dari kondisi produksi atau lahan berproduksi. Misalnya penghasil perikanan tangkap tertinggi adalah Sumatera Utara (480 ribu ton/tahun), disusul Maluku dan Jawa Timur. Terendah adalah Yogyakarta, Kalimantan Utara dan Jambi. Adapun lahan budidaya terluas adalah di Aceh (145 ribu ha), disusul Jawa Barat dan Jawa Timur. Adapun yang terkecil adalah Jakarta, Maluku Utara dan Papua Barat.

Segi sosiologis, aspek selera masyarakat juga ada pengaruhnya terhadap keberadaan ikan di pasar. Masyarakat memilih jenis ikan untuk disajikan, juga mempertimbangkan dimensi harga dan ketersediaan. Kalau produksi terbanyak adalah nila (1.340 ton), menyusul lele, bandeng, kembung, layang, udang, tongkol, cakalang, patin, dan gurame. Adapun harga terendah adalah lele (Rp 22 ribu), lantas ikan layang, tongkol, patin, cakalang, bandeng, kembung, nila, gurame, dan termahal udang. Tentu harga tersebut beraneka, tergantung lokasi dan musim panennya.

Sejak 20 tahun yang lalu, Pemerintah bersama FORIKAN (Forum Peningkatan Konsumsi Ikan), kolaborasi dengan Pemerintah Daerah dan PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) senantiasa mengupayakan peningkatan konsumsi ikan, untuk menyehatkan dan mencerdaskan. Bahkan bisa juga dianggap memutus rantai kemiskinan, karena bila anaknya sejak dikandungan sudah mengasup pangan bergizi, akan tumbuh menjadi generasi cerdas, dan tidak miskin lagi seperti orang tuanya.

Angka konsumsi ikan saat ini adalah 57,61 kg/kapita/tahun. Tertinggi adalah Maluku (79.76 kg/kapita/tahun), disusul Papua, Papua Barat, Kalimantan Utara dan Sulawesi Tenggara. Terendah adalah Yogyakarta, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jambi. Ada suatu kajian sederhana, masyarakat yang memilih ikan sebagai lauk adalah berdasarkan pertimbangan gizi yang baik (48,57%) dan rasanya enak (30,48%). Adapun yang tidak suka ikan adalah karena berduri (58,82%) dan bau amis (16,47%).

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 152/Januari – Februari 2025

Tag:

Bagikan:

Trending

Ikan budidaya (nila merah) by TROBOS
Ikan Berlimpah Jelang Lebaran
KKP kirim 1852 kontainer udang bersertifikat bebas Cesium ke AS dalam tiga bulan dok istimewa
Sebanyak 1.852 Kontainer Lolos Cesium-137
Copy of Kolaborasi masyarakat untuk mangrove dok istimewa
Kuatkan Kawasan Mangrove dan Kepiting Bakau di Lantebung
HEIF Image
Empat Aspek Penting CBIB
HEIF Image
Hiu Blacktip, Ikon Ikan Laut di Rumah DeHakim
banner6
banner9
Scroll to Top

Tingkatkan Strategi Budidaya Anda! Baca Insight Terbaru di Trobos Aqua!