Bengkulu (TROBOSAQUA). Di tengah masih bergejolaknya berbagai penyakit, Paguyuban Aquakultur Kaur, Provinsi Bengkulu berbagi strategi agar tetap aman dan lancar dalam menjalankan budidaya udang vaname. Diskusi dan sharing strategi tersebut digelar bersamaan dengan acara halal bihalal dan silaturahmi paguyuban yang dihadiri segenap anggota dan partisipan di Bintuhan, Kabupaten Kaur-Bengkulu pekan lalu.
Diskusi dibuka Ketua Paguyuban Akuakultur Kaur Teguh Setyono. Dalam sambutannya Teguh mengatakan, pada intinya acara halal bihal adalah menjalin silaturahmi antaranggota yang selama ini mungkin jarang bertemu langsung secara tatap muka.
“Melalui halal bihalal kita jaga tali silaturahmi agar tetap solid dan kompak dalam kebersamaan meski berbagai tantangan dalam budidaya udang yang kita jalankan terus datang menghadang,” tutur Teguh di depan sekitar 80-an anggota yang hadir pada acara yang digelar di aula kantor PT Dua Putra Perkasa (DPP) tersebut.
Menurut Teguh yang sehari-hari Manajer Budidaya PT DPP Bintuhan tersebut, saat ini iklim budaya udang masih tertatih-tatih. Petambak masih menghadapi tantangan berbagai serangan penyakit. Untuk itu teknisi perlu menyiasatinya dengan penerapan standar operasional operation (SOP) yang lebih ketat. “Kondisi kurang baik ini makin perparah pula oleh harga jual udang yang belum bagus makanya budidaya harus dijalankan secara efisien agar agar memperoleh keuntungan usaha,” Teguh mengingatkan.
Senada dengan Teguh, Manajer Budidaya PT.SSS Anton S juga mengakui tantangan budidaya udang vaname saat ini belum banyak berubah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. “Jadi kita sebagai praktisi yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan problem yang ada di lapangan,” ia menjelaskan.
Agar sukses dalam menghadapi tantangan tersebut, Anton melanjutkan, utamakan disiplin dengan manajemen pakan, pergantian air yang sesuai, serta menjaga lingkungan kolam budidaya dengan optimal. “Jangan membebani diri dengan masalah pekerjaan. Justru jalani pekerjaan dengan riang gembira dan penuh tanggung jawab dan disiplin,” Anton memberikan tips suksesnya.
Sementara pemateri diskusi berikutnya Iwan Suryadi, Animal Health Technical Service PT CP Prima menyatakan, budidaya sebaiknya tetap memperhatikan lingkungan perairan sekitar, baik kimia, fisika dan biologi serta faktor eksternal dalam hal ini cuaca/musim saat ini. Pasalnya parameter lingkungan tersebut akan banyak mempengaruhi pola harian budidaya dengan perbedaan-perbedaan musim di Indonesia, khususnya Bengkulu dan Lampung.
Terakhir Kepala Lab PT Dua Putra Perkasa Edy Prayitno memberikan masukan bahwa untuk sukses menjalankan budidaya udang dimulai dari persiapan awal yang maksimal, meliputi kebersihan kolam dan tandon air. “Proses sterilisasi dasar kolam harus maksimal agar benar-benar bersih dari virus, bakteri dan parasit lainnya,” ujar Edy.
Seusai pemaparan dari sejumlah narasumber, acara dilanjutkan dengan diskusi di antara peserta yang hadir. Diskusi berlangsung hangat dan penuh keakraban. Di antara peserta saling memberikan saran dan masukan terhadap berbagai permasalahan yang dialami di lapangan.datuk



