Pihak yang dalam kondisi lemah ‘konsumsi ikan’, justru memiliki semangat yang besar untuk memperkuat diri. Yogyakarta menunjukkan semangat yang positif ini.
Oleh: Soen’an Hadi Poernomo*
Awal Agustus 2025, saat Pemerintah memiliki program prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG), Pemerintah Daerah Provinsi DIY, bersama dengan DPRD, mendukung pertemuan dengan segenap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)—Dapur MBG, beserta Dinas dan organisasi masyarakat terkait, yang diselenggarakan Dinas Kelautan dan Perikanan, berkolaborasi dengan Jejaring Pasca Panen untuk Gizi Indonesia (JP2GI) dan Global Alliance for Improve Nutrition (GAIN).
Suatu ‘kelemahan’ yang dimiliki Kota Gudeg, adalah merupakan daerah yang angka konsumsi ikannya terendah di Indonesia. Namun setiap tahun telah mengalami kenaikan yang signifikan. Pada tahun 2016 tercatat 23,74 kg/kapita/tahun, 2021—34,82 kg/kapita/tahun, dan 2024—36,03 kg/kapita/tahun. Angka ini jauh di bawah konsumsi ikan nasional, yakni rata-rata tahun 2016—43,94 kg/kapita/tahun, 2021—55,37 kg/kapita/tahun, dan 2024—62,5 kg/kapita/tahun.
Momen program MBG digunakan untuk edukasi dan menerapkan konsumsi ikan dengan memahami bahwa efek positifnya adalah suplai protein yang asam aminonya lengkap dan mudah dicerna, terbanyak mengandung omega-3, kalsium, selenium, besi, vitamin D dan E; hingga jelas menyehatkan dan mencerdaskan. SPPG di Mantrijero yang melayani 2.572 siswa PAUD hingga SLTA, memasukkan menu ikan patin yang diperoleh dari para pembudidaya kawasan Sleman. Adapun SPPG Kentungan yang mensuplai untuk 2.932 siswa, konsumsi ikannya berupa pepes tuna tanpa duri.
Yogyakarta memiliki potensi ketersediaan ikan dari budidaya air tawar, terutama lele dan patin—yang banyak dikenal sebagai ikan ‘dori’. Dua jenis ikan ini dagingnya mudah dipisahkan dari duri dan tulangnya, serta kulitnya tak bersisik banyak seperti ikan lainnya, sehingga mudah untuk disiapkan bagi menu program MBG. Efek positif lain, tentu meningkatkan perekonomian bagi masyarakat pembudidaya ikan lokal.
Beberapa tahun ini ‘budidaya lele terpal’ banyak berkembang di Yogya, setelah dilakukan penyuluhan pasca gempa di Gunung Kidul. Cara budidayanya tidak rumit, berbiaya rendah, tidak memakan waktu lama, sehingga menghasilkan produk pangan yang bergizi, namun berharga murah.
Di DI Yogyakarta diperkirakan ada 311-317 SPPG. Tidak hanya melayani siswa sekolah, tapi juga terhadap ibu hamil yang memerlukan asupan pangan bergizi. Program MBG yang menyehatkan dan mencerdaskan generasi remaja ini secara filosofis bisa memutus rantai kemiskinan. Yakni bila generasi tersebut cerdas, maju, dan aktif, kondisi saat dewasa tak akan dalam ekonomi rendah, seperti orang tuanya.
Program yang mulia ini tak lepas dari masalah atau tantangan. Terungkap yang tidak ringan, diantaranya adalah menghadapi selera makan anak-anak yang beraneka dan tidak terkendali. Hal ini tentu harus disikapi dengan mengolah secara kreatif dan implikatif untuk disukai anak-anak, misalnya pepes tanpa duri, nugget, lele crispy, dan sebagainya.
Secara ekonomi juga menghadapi masalah tidak stabilnya harga bahan mentah, terutama sayuran. Adapula yang mengeluh kualitas prasarana yang diperoleh kurang memadai. Namun yang jelas, etos kerja para pelaksana cukup tinggi. Setiap SPPG yang didukung sekitar 50 pekerja ini mulai aktif sekitar jam 02.00-04.00 dini hari.



