Jakarta (TROBOSAQUA). Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendukung penuh pengembangan hatchery pembenihan udang oleh swasta, seperti di Kabupaten Lampung Selatan-Lampung. Pembenihan berkualitas berperan besar mendukung produktivitas udang nasional dari sisi hasil panen maupun daya saing.
“Kehadiran Post Larva Haji Agus (PLHA) tidak hanya menjawab kebutuhan benih bermutu, tetapi juga membuka lapangan kerja dan memberi manfaat bagi masyarakat lokal. Usaha ini baik sekali untuk mendukung industri udang kita,” ujar Dirjen Perikanan Budi Daya, TB Haeru Rahayu dalam siaran pers di Jakarta, Minggu (21/9).
Menurutnya, peningkatan investasi hatchery, dukungan teknologi ramah lingkungan, serta solidnya kolaborasi pemerintah, asosiasi dan pelaku usaha, dapat memperkuat posisi di Indonesia di pasar udang global yang nilainya mencapai USD 64,9 miliar tahun lalu. Nilai tersebut diproyeksi terus melonjak menjadi USD 140,4 miliar pada 2034.
Dok djpb

Saat ini indonesia berada di peringkat kelima produsen udang dunia setelah Tiongkok, Vietnam, Ekuador, dan India. Pasar utama ekspor Indonesia adalah Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, dan Tiongkok.
“Negara-negara pembeli kini sangat ketat dalam menilai mutu dan ketertelusuran produk. Karena itu, benih yang bermutu menjadi kunci menghasilkan udang berkualitas dan kompetitif di pasar global,” lanjut Tebe.
Pemilik PLHA, Agusri Syarief, mengungkap pembangunan hatchery didorong banyaknya permintaan benih udang. Menurutnya, hatchery ini bukan sekadar tempat produksi, tetapi momentum untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui penyerapan tenaga kerja, penyediaan benur andal dan berkualitas secara konsisten.
“PLHA telah merekrut lebih dari 60% tenaga kerja yang berasal dari masyarakat lokal. Selain fokus pada peningkatan produksi benih udang berkualitas, PLHA berkomitmen memperhatikan aspek lingkungan melalui instalasi pengolahan air limbah (IPAL),” tutur Agusri Syarief.
Nusa Dewa
Selain PLHA, di Lampung Selatan terdapat hatchery swasta lain seperti milik Uus yang juga berlokasi di Kalianda. Dia mengungkapkan, keberhasilan usaha pembenihan berkat induk udang Nusa Dewa hasil inovasi Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Balai Produksi Induk Udang Unggul dan Kekerangan (BPIUUK) Karangasem, Bali.
Hatchery yang dikelolanya mampu memproduksi hingga 90 juta ekor naupli udang Nusa Dewa per bulan. Hasil itu untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik hingga Aceh, bahkan sampai Singapura. Benih udang Nusa Dewa memiliki daya tahan tinggi dan pertumbuhan cepat sehingga diminati pasar.
“Pembeli dari Singapura menyampaikan kepuasan atas kualitas benih udang Nusa Dewa. Tingkat keaktivannya mencapai 90 persen. Bahkan ketika dibandingkan dengan benur dari Vietnam dan India, hasilnya tetap lebih unggul karena pertumbuhannya lebih rata dan stabil,” ungkap Uus.

Peluang Besar
Di tempat terpisah Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI), Andi Tamsil mengakui peluang besar usaha benih lantaran kebutuhan udang dunia terus meningkat. Sebagai contoh, Tiongkok membutuhkan sekitar 3 juta ton udang per tahun, tetapi hanya mampu memproduksi 2 juta ton. Selisih 1 juta ton harus dipenuhi dari impor.
“Penerapan cara budidaya yang baik harus terus dilakukan agar usaha berkelanjutan. Seperti penggunaan input produksi yang terdaftar dan penerapan IPAL. Karena negara-negara pembeli kini semakin selektif, sehingga aspek ketertelusuran asal usul udang menjadi sangat penting,” tegasnya.
Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono telah menekankan pentingnya peningkatan produksi dan kualitas hasil perikanan melalui penerapan program ekonomi biru. Strategi ini dinilai mampu memperkuat daya saing produk kelautan dan perikanan Indonesia di tingkat global.datuk-lampung/dini/edt



