Akhir-akhir ini, petambak mulai ramai menerapkan two step system pada tambak udang vannamei, dengan nursery pond dan grow out pond.
Sebagaimana mencuat pada forum South Coast Shrimp Association (SCSA) atau Asosiasi Petambak Pantai Selatan – pulau Jawa beberapa waktu lalu. Sebagai narasumber seminar, Ahmad Rozikin, petambak muda dari pantai Selatan Purworejo – Jawa Tengah menyatakan bertambak udang, jika hanya mengikuti kebiasaan akan berpotensi lebih banyak mengalami kerugian. “Saya kemudian menerapkan nursery pond, agak spekulasi karena awalnya lihat di YouTube ada penggunaan nursery pond,” ungkapnya.
Two Step System
Rozikin menuturkan, dia lebih banyak praktik di lapangan, sehingga bahasa-bahasa yang digunakan juga ala petambak.Menurut dia, aplikasi nursery pond akan mempermudah manajemen kualitas air dan bahan organik terjaga rendah konsentrasinya. Kedua, efektif dalam aplikasi feed additive maupun probiotik sebagai imunostimulan. Ketiga, menekan risiko infeksi penyakit yang berpotensi outbreak pada awal budidaya. Keempat, jika terjadi masalah pada fase awal budidaya, maka kerugian maka kerugian hanya berada di tahap nursery pond saja.
Setelah dibesarkan di nursery pond, udang dipindah ke grow uut pond atau tambak pembesaran. Pemindahan ini memungkinkan penghitungan udang yang berhasil bertahan (survival rate post nursery) sehingga jumlah tebar dan penghitungan kepadatan tebar aktual di grow out pond lebih akurat.
Udang selepas tahapan nursery sudah lebih kuat dan siap menghadapi perubahan ekosistem air tambak. Di samping itu kualitas air pada awal segmen pembesaran lebih baik karena menggunakan air baru. Berbeda dengan budidaya yang terusan / tidak di segmentasi menjadi fase nursery dan grow out, sepanjang periode budidaya, udang harus menanggung beban kondisi air yang semakin berat.
Menurut dia, two step system sementara ini mampu menekan risiko permasalahan yang sering dihadapi oleh budidaya udang intensif. Bahkan dapat meningkatkan produktivitas pada lahan terbatas karena pada fase awal budidaya kepadatan tebar dapat sangat tinggi, yang kemudian diturunkan pada fase grow out. Kepadatan ini disesuaikan dengan baku mutu air yang tersedia. Sehingga manajemen SR (survival rate) awal lebih akurat.
Two Step Process
Rozikin menuturkan, prinsip two step system yang dia lakukan adalah membagi petakan tambak menjadi 2 kelompok yaitu nursery dan grow out pond. Setelah petakan dibersihkan, petakan nursery dipersiapkan untuk ditebari benur. Sedangkan petak grow out / pembesaran dijadikan tandon air. Tandon dijaga kebersihan dan sterilitasnya.
Setiap saat air tandon ini dipakai untuk mengisi petak nursery ketika butuh pengenceran media. “Karena di Pansela, lahan kami terbatas, tidak punya tambak tandon secara khusus. Maka disiasati dengan cara ini,” ujar dia.
Setelah benur dibesarkan hingga mencapai 1,5 – 2 gram per ekor, maka siap dipindahkan ke petak pembesaran. Petak pembesaran yang tadinya dijadikan tandon air, segera dipersiapkan untuk menjadi petak grow out.
Setelah kolam pembesaran siap, udang dari nursery pond dipindahkan ke grow out pond. Beberapa saat kemudian, petak grow out dikurangi kepadatannya dengan cara memindahkan sebagian udang di dalamnya ke petak nursery yang setelah dikosongkan kemudian dipersiapkan menjadi grow out pond.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 155/April -Mei 2025



