Bogor (TROBOSAQUA). Perairan umum masihmenjadi tumpuan penting bagi budidaya ikan keramba jaringapung (KJA). Pasokan air yang berkelanjutan dan sirkulasialami menjadikannya media ideal untuk pertumbuhan ikan. “Perairan umum itu sangat mendukung, karena selain efisienjuga mampu membuka lapangan kerja dan menggerakkanekonomi,” ujar Etty Riani, akademisi IPB sekaligus penggiatpengelolaan lingkungan perairan.
Namun, peluang besar itu tidak lepas dari ancaman. Alih fungsi hutan menjadi lahan hortikultura, limbah pertanian, hingga sampah plastik dari kegiatan domestik dan wisata terusmenekan kualitas danau. “Residu pestisida dari pertaniansudah banyak masuk ke perairan. Kalau dibiarkan, ini akanberdampak pada ekosistem sekaligus keamanan pangan,” Etty mengingatkan. Menurutnya, daya dukung perairan harusdihitung dengan cermat agar jumlah KJA tidak melebihikapasitas lingkungan.

Efisiensi pakan juga menjadi sorotan. Ia menekankanbahwa pemberian pakan harus terkontrol dan tidak bersisa, sebab limbah organik bisa mempercepat penurunan kualitasair. “Pakan ramah lingkungan dengan fosfor rendah harusmenjadi pilihan. Pembudidaya juga bisa memanfaatkanteknologi sensor dan IoT untuk memantau kualitas air secararutin,” jelasnya dalam acara Outlook Tilapia beberapa waktulalu di Jakarta.
Lebih jauh, Etty mendorong penerapan GAP, CBIB,hingga sistem traceability dan ecolabel. Langkah ini tidakhanya menjaga lingkungan tetap sehat, tetapi juga meningkatkan daya saing produk ikan di pasar global. “Lingkungan sehat akan menghasilkan ikan sehat. Hasil budidaya yang aman akan bernilai lebih, baik untuk konsumsilokal maupun ekspor,” tambahnya.
Ia pun menutup dengan pesan optimistis. Belajardari Norwegia, Kanada, dan Jepang, Indonesia bisamengembangkan budidaya KJA yang ramah lingkungandan berkelanjutan. “Kalau pengelolaan dilakukan denganbenar, maka rakyat sejahtera dan lingkungan tetap lestaribisa kita wujudkan,” pungkas Etty. Dian



