banner12 1
Iklan Web R

Segera Tuntaskan Kontaminasi Cesium-137

cs 137

Jakarta (TROBOSAQUA). Kasus tercemarnya udang Indonesia yang diekspor ke Amerika Serikat oleh bahan radioaktif Cesium-137 (Cs-137)  berbuntut panjang. Bahkan belakangan cengkih juga terkontaminasi bahan serupa. Saatnya segenap pemangku kepentingan di Tanah Air bergerak cepat dan berkolaborasi menyelamatkan komoditas ekspor, termasuk yang beredar di dalam negeri agar dampaknya tidak terus meluas.

Demikian terungkap pada webinar dengan narasumber Prof. Supriyadi Sadi, Ph.D, peneliti dari diaspora USA bidang Nuclear and Radiological Emergency Response dengan topik “Mitigasi kasus udang terkontaminasi Cs-137, tantangan, regulasi dan aksi pemulihan” yang digelar Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Selasa (7/10) pagi.

Webinar yang ditayangkan melalui kanal zoom meeting tersebut dipimpin Hendra Sugandhi, Ketua Bidang Perikanan dan Peternakan APINDO dan diikuti 500-an partisipan dari berbagai pemangku kepentingan di Tanah Air. Dalam pengantarnya Hendra Sugandhi mengatakan, pada kasus udang ini zat radioaktifnya yang berbahaya. “Jadi bukan udangnya yang berbahaya melainkan zat radioaktif yang menempel pada udang. Makanya kita harus fokus pada zat radioktif tersebut. Selama ini kita sudah menghadapi berbagai zat berbahaya pada makanan seperti formalin dan lain-lain,” tuturnya membuka webinar.

Hendra Sugandhi
Hendra Sugandhi dok istimewa

cs 137

Menurut dia, kasus formalis dan sejenisnya saja belum tuntas, padahal sudah puluhan tahun dihadapi. Sekaranglah saatnya momen yang teapt untuk menuntaskan semuanya. Sebab zat aditif pada makanan tersebut membahayakan yang memakannya. “Seperti formalin, sebetulnya formalin itu mudah dan gampang mengatasinya tinggal dikasih brotowali yang berasa pahit ya bakal tidak ada lagi yang menggunakannya pada makanan,’ lanjutnya.

Termasuk kasus terakhir soal kontaminasi zat radioaktif pada udang dan bahan pangan lainnya, pengawasan oleh instansi pengawas yang berwenang harus diperketat, terutama Bapeten (Badan Pengawas Tenaga Nuklir). Tidak saja terhadap komoditas yang diekspor, yang beredar di dalam negeri pun sama harus diawasi agar tidak membahayakan masyarakat.

Bergerak Cepat

Sementara narasumber Supriyadi Sadi mengawali materinya dengan mengatakan, FDA (Badan Pengawasan Obat dan Makanan AS) melakukan pengawasan karena memang tugasnya menjaga keamanan pangan dan komoditas pangan yang masuk dan beredar di Amerika Serikat.

Supriyadi Sadi dok istimewa
Supriyadi Sadi dok istimewa

“Apakah kadarnya masih jauh di bawah ambang batas yang ditentukan, itu merupakan kewenangan mereka untuk menolak komoditas yang terdeteksi mengandung zat berbahaya bagi warga AS. Apalagi jika mengkonsumsi pangan yang terkontaminasi radioaktif dalam jangka waktu lama maka akan berakumulasi di dalam tubuh yang memakannya. Di samping itu juga terdapat orang-orang yang sensitif terhadap bahan radioaktif, terutama yang pernah menderita kanker,” ujar Profesor yang sedang berada di AS.

Kejadian ini, lanjutnya, bukan yang pertama. Sebelumnya Inggris dan Arab juga pernah mengalaminya. Malah kandungan radioaktif pada produk mereka jauh lebih tinggi daripada udang Indonesia, namun penanganan yang mereka lakukan lebih cepat.

Jadi, sambungnya, jika produk yang diimpor dari Indonesia terdeteksi mengandung radiasi radiokatif, artinya tidak sanitari atau higienis untuk dikonsumsi. Makanya pemerintah Indonesia bersama pemangku kepentingan terkait perlu aksi cepat karena waktunya sudah sangat kritis.

“Ini persoalan sensisif, kita harus bergerak cepat. Sebab bagaimana strategi pemulihan ekspor berikutnya yang sangat sulit. Apalagi kita banyak kendala karena belum clear di Indonesia tetapi saya kira bisa dihindari jika para pemangku jabatan, seperti Bapeten, BRIN, KKP dan APINDO bekerja sama secepat mungkin pada minggu-minggu terakhir ini. Kalau bisa sebelum 25 Oktober 2025 persoalannya sudah clear.

Lebih cepat lebih bagus, kita bisa langsung konek ke FDA. Apalagi sekarang semua produk udang dari Jawa, Sumatera termasuk Lampung mungkin juga Sumatera Utara, sudah di-band impornya oleh AS, masalahnya kimia dan virus/bakteri serta radioaktif,’ narasumber mengingatkan.

Supriyadi menekankan, Indonesia harus mengikuti beberapa tahapan yang berlaku di AS. Nanti setiap produk harus disertifikasi oleh badan yang ditunjuk oleh FDA. Meski begitu komoditas yang masuk masih ditahan tanpa pengujian fisik. Artinya barang kita disita dulu. Setelah itu mereka mengecek yellow list-nya. Setiap pengapalan harus memiliki yellow list.

“Untuk sertifikasi ini tidak susah karena hanya identifikasi dan melengkapi dokumen. Namun yang paling susah sekarang dan harus dikaji lagi adalah adalah masalah sertifikat entitas. Ini mungkin KKP yang lebih tepat yang jelas pemangku kepentingan, instansi pemerintah yang ditunjuk oleh FDA. Kalau sertifikat komoditas yang diekspor tidak valid otomatis ditolak,” terangnya.

Ia mengingatkan, kini kepercayaan publik AS terhadap produk impor dari Indonesia rendah. Mungkin perlu juga sertifikat lab guna memulihkan kepercayaan publik tersebut.

Pada bagian akhir materinya, pakar nuklir ini menekankan, perlunya pihak berwenang di Tanah Air untuk investigasi menyeluruh terhadap kontaminasi radioaktif pada udang ini karena hingga kini belum terjawab secara detail. Kemudian bikin SOP, namun yang yang utamanya adalah bagaimana menyelesaikan impor produk yang terkontaminasi tersebut. Usahakan semuanya sudah beres sebelum akhir tahun

“Jika kita sudah punya panduan sampaikan ke FDA. Jika ada kekurangan-kekurangan bisa kirim email ke FDA. Lakukan komunikasi secara transparan. Ini rekomendasi untuk Bepeten, KLH, KKP dan eksportir,” tegasnya.

Menurut dia, ini akan sangat membantu, sebab warga AS perhatian sekali terhadap kejadian yang terjadi di Indonesia sehingga pejabat Indonesia perlu berhati-hati di dalam menyampaikan pernyataan. Jika ada pihak yang tidak punya otorisasi memberikan pernyataan bisa menjadi bumerang atau berefek buruk. Ini harus diperhatikan para pihak jika ingin menyampaikan pernyataan pers. Seperti memperbandingkan udang yang mengandung Ce-137 dengan pisang, jelas salah kaprah tidak sesuai dengan sains.

“Terakhir saya menganjurkan ke pihak Indonesia agar memiliki detektor radioaktif setara yang dimiliki FDA sehingga secara kualitatif bisa mendeteksi radioaktif dan bisa mengetahui sumbernya yang bisa dilihat dengan kamera. Di AS mereka menggunakan X-ray dan detektor radioaktif,” tambahnya sesaat sebelum sesi diskusi.

Petambak Rugi

Pada sesi diskusi, Ricky, petambak dari Medan, Sumatera Utara menyampaikan keluhannya. “Selama ini udang kami dari Sumut, Sumbar dan Aceh dibeli oleh PT BMS. Sejak udang yang diekspor PT BMS ke AS ditolak masuk karena ditemukan kontaminasi radioaktif Cesium-137 oleh FDA maka PT BMS juga menyetop pembelian udang di Sumut. Sekarang tidak ada yang mau mebeli udang kami sementara udang harus dipanen sehingga kami sangat dirugikan,” bebernya.

Ricky Liduan Kho dok istimewa
Ricky Liduan Kho, dok istimewa

“Kami minta pemerintah serius untuk segera mencarikan solusinya. Tidak saja soal kerugian biaya operasional yang kami alami juga ribuan tenaga kerja yang bekerja di tambak dan industri pendukungnya terancam kehilangan pekerjaan,” tambahnya.

Partisipan lainnya, Alexander Luankali juga menyampaikan sejumlah masukan. Disebutkannya, ini persoalan bangsa yang harus diselesaikan secara cepat. Selama ini, sudah ada prosedur dan aturan yang harus dilakukan dan dijalankan tetapi tidak diperhatikan. Penyebabnya disfungsi kualitas dan kompetensi para pejabat.

“Di hulunya sebenarnya sudah ada Amdal dan soal lingkungan sudah jelas aturannya.

Ada audit lingkungan dan lain-lain. Tetapi ini tidak dikerjakan. Jika dikerjakan dengan baik tentu tidak akan terjadi ekses seperti sekarang. Seharusnya yang dikejar KLH, Kemenperin dan perusahaan besi tersebut. Bila perlu mereka membayar ke PT BMS sebagai korban,” tegasnya.

Menurut dia, perlu dicari dan ditelusuri latarbelakang pejabat-pejabat kenapa tidak memiliki sensitivitas terhadap keamanan pangan. “Siapa yang mengizinkan memasak atau mengolah udang di bengkel mobil, kan seharusnya di dapur. Siapa yang mengizinkan PT BMS membangun pabrik di kawasan industri. Peraturan KKP jelas tidak boleh dicampur begini. Ke depan pemerintah dan masyarakat kita perlu awarenes terhadap bahan berbahaya ini,” ia menggambarkan.

Dia juga menyinggung soal penggunaan irradiator dan adanya anggapan bahwa seolah-olah ikan itu harus diradiasi dulu baru aman dan mutu terjamin. Padahal ikan diciptakan Tuhan untuk dimakan segar. Semakin fresh semakin bagus nilainya.

Peserta lainnya, Jamil Musanif juga berharap instansi berwenang melakukan identifikasi total dan menyeluruh terhadap sumber dan penyebaran Cesium-137 ini secara detail dan jujur. Karena sampai sekarang masih belum ada kepastian apalagi selain udang juga terdeteksi cengkeh dari Indonesia juga terkontaminasi radioaktif.

Nah ini persoalannya semakin meluas, bisa jadi juga banyak komoditas pangan lainnya yang juga terkontaminasi, termasuk yang beredar di dalam negeri yang selama ini tidak diawasi secara ketat oleh pihak berwenang,” ia menggarisbawahi.datuk-lampung/edt

 

 

Tag:

Bagikan:

Trending

By Istimewa
Nyamankan Benur untuk Padat Tebar Tinggi
Belida by KKP
Ikan Lokal Tertinggal di Negeri Sendiri  
Hasil panen udang dok trobos
Film Komposit Kitosan/CMC Pertahankan Kualitas Vannamei
Panen nila by TROBOS
Nila Hitam dari Kediri
Fillet patin by Ramdan
Patin Indonesia Incar Pasar Haji  
banner6
banner9
Scroll to Top

Tingkatkan Strategi Budidaya Anda! Baca Insight Terbaru di Trobos Aqua!