Sampah, khususnya sampah plastik hingga saat ini masih menjadi persoalan krusial. Persoalan sampah tak hanya di darat, tapi sudah merambah perairan umum dan laut.
Oleh: Hendra Yusran Siry*
Sampah plastik di Teluk Jakarta misalnya tak hanya mencemari kawasan perairan, tapi juga mengganggu kenyamanan perjalanan kapal wisata dari Jakarta ke Kepulauan Seribu. Sampah plastik tersebut kerap kali nyangkut di baling-baling kapal yang berlayar dari Dermaga Ancol ke Kepulauan Seribu.
Sampah plastik juga menjadi masalah di pesisir dan pantai sejumlah kawasan wisata, seperti Bali. Salah satu solusi untuk mengantisipasinya adalah melakukan pembenahan dan sistem manajemen sampah di hulu.
Masalah sebenarnya ada di hulu. Jadi yang dibenahi atau ditata itu di hulunya. Kalau belum dilakukan penataan dengan baik, maka sampah yang dibuang di TPA, khususnya sampah plastik akan merembes ke laut.
Kunci penyelesaian sampah dan mikroplastik di laut itu tak lepas dari persoalan hulunya. Karena itu sistem pembuangan sampah di hulu harus dibenahi. Sampah sebelum dibuang ke tempat pembuangan sementara (TPS) dan tempat pembuangan akhir (TPA) harus dipilah terlebih dahulu.
Sebanyak 70 % sampah, khususnya sampah plastik di laut berasal dari daratan. Agar lautnya sehat, hulunya harus dibenahi terlebih dahulu. Mengingat, sampah plastik yang bocor ke laut efeknya sangat krusial. Selain terurainya lama, sampah plastik yang melayang akan dimakan penyu, karena dikira ubur-ubur.
Beberapa mamalia terdampar dan mati, ketika dibedah perutnya isinya sampah plastik. Kalau mikro dan nano sampah plastik tersebut masuk dalam rantai makanan akan memicu penyakit kanker.
Guna mengantisipasi bocornya sampah plastik ke laut, di hulunya harus mulai disiapkan dengan pemilahan dan pemilihan sampah. Begitu juga terkait dengan masalah kolektif sampah di TPS dan TPA juga dibenahi. Sebab, kalau sampah organik dan anorganik sampai di TPA tidak disortir (masih tercampur) akan susah mengelolanya.
Agar tak menimbulkan masalah di TPS dan TPA, mulai di tingkat rumah tangga, masyarakat diedukasi untuk melakukan pemisahan antara sampah organik dan anorganik. Seperti sampah plastik, sampah limbah rumah tangga dan kaca harus dipisahkan.
Setelah dipisahkan, sampah organik bisa dikelola menjadi pupuk organik. Masyarakat di tingkat RT/RW bisa membudidaya black soldier fly (lalat tentara hitam). Larva BSF berupa maggot ini nantinya bisa dimanfaatkan untuk pakan ikan dan ayam.
Sudah di beberapa tempat seperti di Bogor mengembangkan budidaya BSF ini dalam skala rumah tangga. Artinya, dari pengelolaan sampah di hulu tersebut juga mendatangkan manfaat atau benefit bagi masyarakat.
Setelah dilakukan pemilahan antara sampah organik dan non organik, truk pengangkut sampah dari TPS ke TPA harus dibedakan. Sayangnya truk pengangkutnya juga sama. Sehingga, perlu ditata ulang truk pengangkutnya, kapan mengangkut sampah organik dan kapan atau hari apa mengangkut sampah anorganik.
Di sejumlah negara sudah melakukan manajemen sampah dari hulu dengan baik. Mulai dari rumah tangga, sampah organik dan non organik sudah dipisahkan. Bahkan, tempat pembuangan sampahnya pun sudah diberi tanda mana yang organik, anorganik dan untuk sampah kaca (botol kaca).
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 159/ Agustus-September 2025



