Perlu segera menggenjot produksi tilapia secara massal dengan orientasi pasar global. Tak dapat lagi suplai bergantung pada produksi pada petakan kolam skala rumah tangga. Produksi harus berkala industri dengan standar yang tinggi dan memungkinkan untuk sertifikasi agar lebih mudah menembus pasar mancanegara.
Ketua Umum Asosiasi Tilapia Indonesia (ATI), Alwi Tunggul Prianggono mengungkapkan tilapia secara teknis, mudah dibudidayakan pada hampir semua jenis perairan, baik pada kolam-kolam, tambak pesisir, maupun pada perairan umum seperti di sungai, waduk dan danau. Diapun menyatakan ikan nila menempati posisi yang semakin strategis dalam produksi perikanan budidaya nasional. Terbukti produksi nasional mencapai 1,4 juta ton pada 2024, dengan pangsa ekspor masih relatif kecil yaitu 7,65 %. Nilai ekspor tilapia pada 2024, disebutnya telah mencapai USD 93,5 juta atau Rp1,4 triliun; dengan estimasi pertumbuhan 2,68 % per tahun.
Namun volume ekspor tilapia masih perlu diperjuangkan untuk digenjot, karena bahkan belum mencapai 1% dari total produksi. “Peluang ini didukung oleh permintaan di pasar internasional yang terus meningkat dengan harga yang relatif stabil atau tidak mengalami gejolak berarti,” ujar dia pada Seminar Outlook Tilapia Tahun 2025 yang digelar oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan pada (28/8) lalu secara hybrid.
Alwi pun menyambut pencanangan program Revitalisasi Tambak Pantai Utara Jawa (Pantura) dengan budidaya nila khususnya nila salin. “ATI berharap program ini mampu menaikkan kelas pembudidaya tilapia UMKM menjadi pelaku industri budidaya berkelas ekspor. Tentu dibarengi dengan peningkatan skala usaha, kualitas manajemen budidaya,modernisasi kolam dan peralatan, peningkatan kapasitas SDM dan sertifikasi,” tegas dia. Sebanyak 85% pembudidaya tilapia saat ini masih berskala UMKM.
Budidaya Nila di Perairan Umum
Tampil pada acara yang sama, Etty Riani, Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University mempresentasikan ‘Pengelolaan Budidaya KJA(Karamba Jaring Apung) di Perairan Umum dari Perspektif Ramah Lingkungan dan Keamanan Pangan’. Menurut dia, perairan umum memiliki pasokan air berkelanjutan dan alami. Sirkulasi air relatif kontinu sehingga sangat baik untuk kehidupan dan pertumbuhan ikan. Maka perairan umum menjadi media yang baik untuk budidaya (KJA).
Etty menjelaskan budidaya nila di perairan umum bernilai positif, seperti mengurangi kebutuhan infrastruktur, membuka lapangan kerja, meningkatkan ekonomi kawasan, mengurangi mobilisasi lahan (tanah), dan kualitas lingkungan perairan umum lebih baik daripada lingkungan darat. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa budidaya nila di KJA di perairan umum lebih efisien dan efektif daripada budidaya kolam darat.
Walaupun demikian, dia merinci karakteristik budidaya KJA yang menguntungkan, diantaranya mengindahkan jumlah KJA dengan daya dukung dan daya tampung perairan umum, serta dikelola secara berkelanjutan. Selanjutnya, padat tebar harus ideal untuk mencegah akumulasi limbah pada air dan dasar perairan. Pakan yang digunakan juga harus ramah lingkungan, dengan manajemen pakan yang ketat, efisien dan terkontrol sehingga tidak bersisa. Dia pun mengimbau agar pembudidaya nila KJA mengadopsi teknologi untuk meningkatkan DO perairan, menghindari penggunaan bahan kimia dan obat-obatan, serta melakukan pengujian kualitas air secara rutin.
Etty juga mewanti-wanti, bahwa pemanfaatan perairan umum untuk digelar KJA juga memiliki kelemahan. “Jangan Jadi korban praktek coba-coba, sehingga membuat kesalahan fatal. Cukup KJA selama ini telah menjadi tertuduh. Selain itu perairan juga menjadi rentan eutrofikasi (peningkatan kesuburan sehingga terjadi blooming plankton), pencemaran bahan berbahaya dan beracun B3, ujar dia. Perairan juga memiliki risiko menjadi penampung pencemaran dari sepanjang DAS dan daratan sekitar.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 160/September – Oktober 2025



