Pangkalpinang (TROBOSAQUA). Seminar From Farm to The Table yang digelar di Bangka (22/11), memperlihatkan satu kenyataan penting yakni industri udang Indonesia tengah berada pada persimpangan yang menentukan. Di hadapan petambak, akademisi, eksportir, pemerintah, dan pelaku usaha, satu pesan menggema dari seluruh narasumber yaitu tantangan semakin berat, namun jalan keluar tetap terbuka jika seluruh rantai pasok bergerak serempak.
Dari lini budidaya, Putriana Onasiya Rizki Wardani, Wakil Direktur CV Riz Samudera, menegaskan petambak saat ini berhadapan dengan tekanan berlapis berupa penyakit, fluktuasi kualitas air, dan biaya produksi yang terus meningkat. “Prevalensi EMS, WFD, hingga vibriosis masih tinggi, sementara teknologi tidak merata di petambak kecil,” ujarnya. Penurunan serapan ekspor juga membuat harga domestik tertekan dan selisih antar ukuran tajam. Ia mendorong edukasi teknis yang lebih luas dan kolaborasi lintas pelaku agar kualitas benur, pakan, dan SOP dapat lebih terstandar.
Dari sisi teknologi budidaya, Sony, Teknisi Manager PT Haida BioTechnology Indonesia, memaparkan sistem ADHP (Automatic Drainage High Production) yang mengandalkan elevasi kolam untuk pembuangan limbah otomatis. “Dengan dasar kolam yang bersih dan air yang lebih stabil, produksi bisa mencapai 40–58 ton per hektare, lebih tinggi dari kolam non-ADHP,” jelasnya. Menurutnya, sistem ini membantu meningkatkan efisiensi tanpa mengorbankan kualitas lingkungan.

Bergerak ke hilir, Hasanuddin Yasni, Ketua Umum ARPI, menekankan pentingnya penguatan rantai dingin. Baginya, mutu udang sangat ditentukan oleh pengelolaan suhu sejak menit pertama pascapanen. “Pertumbuhan pasar cold chain global yang mencapai CAGR dua digit adalah peluang besar, tapi tanpa integrasi logistik nasional, mutu produk tetap akan turun di perjalanan,” paparnya. ARPI mendorong peningkatan cold storage, transportasi berpendingin, serta digitalisasi pemantauan suhu.
Pada sisi regulasi, Woro Nur Endang Sariati, Plt. Sekretaris Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan menyoroti konsekuensi temuan Cs-137 pada salah satu perusahaan. Meski bersifat kasuistik, kasus tersebut memicu DWPE dan pengawasan ketat dari FDA. “Situasi ini menjadi pengingat pentingnya respons cepat, laboratorium yang siap, dan penguatan sistem sertifikasi,” ungkapnya. Ia menegaskan perlunya jaminan keamanan produk yang konsisten agar reputasi Indonesia tetap terjaga di pasar premium.
Dari perspektif kebijakan perdagangan, Miftah Farid, Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kemendag, menjelaskan bahwa persaingan global kian ketat, terutama dari negara dengan biaya produksi rendah. Pemerintah merespons melalui peningkatan laboratorium, sertifikasi bebas Cs-137, dan diplomasi pasar ke sejumlah negara baru. “Penguatan ekspor bertumpu pada lima pilar: produksi, mutu dan ketertelusuran, akses pasar, promosi internasional, dan logistik,” jelasnya.
Menambahkan perspektif permintaan global, Mr. Li Bo, Direktur Indonesia Wanhui Food Ltd., menyampaikan bahwa pasar Tiongkok sangat terbuka bagi udang Indonesia. “Larangan total antibiotik di Indonesia menjadi nilai tambah yang dilihat buyer. Selain itu, kedekatan wilayah membuat biaya logistik lebih efisien,” ungkapnya. Ia menilai Indonesia memiliki kondisi lingkungan budidaya yang stabil sehingga peluang peningkatan volume sangat terbuka.
Rangkaian seminar ini menunjukkan satu benang merah, industri udang hanya bisa bertahan dan tumbuh jika seluruh pelaku dari hulu hingga hilir saling menguatkan. Tantangan penyakit, biaya produksi, logistik, standardisasi, dan akses pasar bukan lagi persoalan sektoral. Bangka menjadi ruang pertemuan gagasan bahwa kolaborasi bukan pilihan tambahan melainkan kebutuhan mendesak untuk memastikan masa depan industri udang Indonesia tetap kokoh di pasar dunia.dian/dini/edt



