Jakarta (TROBOSAQUA). Melansir globalseafood.org (5/1), kajian AP Shinn dan tim mengungkapkan bukti empiris bahwa Vibrio parahaemolyticus atau VpAHPND (agen penyebab penyakit nekrosis hepatopankreatik akut atau AHPND), dapat diubah menjadi aerosol dari kolam udang yang terkontaminasi dan ditransmisikan jarak jauh melalui angin, sehingga menimbulkan risiko biosekuriti yang signifikan bagi produsen udang. Tim melakukan empat percobaan eksperimental terkontrol menggunakan aerasi untuk mensimulasikan kondisi kolam.
Dalam perlakuan kajian, tangki donor diinokulasi dengan VpAHPND, dan aerosol dihasilkan melalui aerator kincir. Bakteri yang masih hidup ditangkap pada pelat tiosulfat-sitrat-garam empedu-sukrosa (TCBS) sentinel yang ditempatkan pada jarak yang semakin jauh (hingga 20 meter) dan arah relatif terhadap angin.
Hasil menunjukkan bahwa aerosol yang mengandung VpAHPND tetap hidup saat berada di udara dan dapat menyebar ke area penerima hingga 20 meter secara langsung, dengan ekstrapolasi menunjukkan potensi penyebaran hingga ~73 meter. Penghalang terpal sepanjang 1,5 meter mengurangi tetapi tidak mencegah penularan, karena koloni terdeteksi hingga 5,5 meter di luarnya.
Untuk menguji mitigasi, penelitian ini mengevaluasi langkah-langkah perlindungan: menggabungkan layar dengan dua lapisan jaring peneduh 85 % mengurangi penyebaran bakteri 20 hingga 30 kali lipat dibandingkan dengan kontrol tanpa perlindungan. Validasi lapangan di tambak udang komersial mengkonfirmasi aerosol yang mengandung VpAHPND di sekitar kolam yang terinfeksi positif menggunakan pelat TCBS yang ditempatkan secara strategis.
Aerator mekanis memainkan peran kunci dalam menghasilkan bioaerosol. Penularan melalui udara kemungkinan berkontribusi pada penyebaran penyakit yang cepat antar kolam, terutama di sistem terbuka yang terpapar angin. Hasil penelitian juga menyoroti keterbatasan praktik biosekuriti saat ini dan menyerukan peningkatan manajemen aliran udara dan pengendalian serangga di sistem budidaya udang dalam ruangan atau semi-tertutup.
Hasil penelitian ini menunjukkan penularan melalui udara menjelaskan mengapa wabah sering terjadi secara serentak di berbagai tambak meskipun biosekuriti air dan pakan yang ketat, terutama di sistem kolam terbuka dengan kepadatan tinggi yang lazim di Asia dan Amerika Latin. Bagi petambak dan operator, studi ini menggarisbawahi perlunya mengevaluasi kembali tata letak dan desain tambak. Konfirmasi penyebaran aerosol juga memiliki implikasi bagi pihak berwenang, seperti memasukkan pemantauan patogen melalui udara ke dalam standar biosekuriti.
Studi pembuktian konsep ini menandai kemajuan signifikan dalam memahami epidemiologi VpAHPND dengan mengkonfirmasi jalur penularan yang sebelumnya belum menjadi fokus utama penelitian. Penelitian selanjutnya harus mengukur beban aerosol di dunia nyata di bawah kecepatan angin, kelembaban, dan suhu yang bervariasi, dan mengeksplorasi penyebaran jarak jauh atau pola musiman. Mengintegrasikan alat molekuler (misalnya, qPCR untuk gen toksin dalam aerosol) dapat memungkinkan pemantauan cepat.ist/dini/edt



