Memperkuat nelayan melalui Kampung Nelayan Merah Putih, menyiapkan budidaya di 500 kabupaten/kota, memastikan pasokan ikan untuk MBG, serta menata pengelolaan ekonomi desa melalui koperasi, pemerintah menempatkan menu ikan sebagai pusat pembangunan gizi sekaligus ekonomi.
MBG (Makan Bergizi Gratis) di sektor perikanan, diharapkan menjadi instrumen strategis yang menghubungkan. Yakni, pemenuhan gizi yang menarik penguatan produksi sehingga mempercepat peningkatan kesejahteraan pelaku usaha perikanan dari hulu sampai hilir.
Sebelum memasuki bahasan lebih mendalam, sedikit mengintip pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kelurahan Maguwoharjo, Kabupaten Sleman – DI Yogyakarta yang telah berjalan sejak 1 September 2025. Sebagai salah satu sekolah penerima manfaat, TK Annur III – Maguwoharjo mendapatkan pasokan MBG dari SPPG (satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) Krodan. Kepala sekolah TK Annuur III – Siswi Hendriyati menjelaskan satu setengah bulan berjalan, menu MBG yang diterima sekolah sudah beragam, namun belum termasuk ikan. SPPG menginformasikan bahwa menu ikan akan mulai diberikan pada pekan ketiga Oktober 2025 dalam bentuk lele goreng.
Menu yang selama ini diterima,dia mengungkapkan, meliputi telur, ayam, tempe, tahu, daging ayam, dan bola-bola daging sapi, dengan variasi olahan seperti digoreng, disemur, dimasak bumbu kuning, dan dibacem. Dia pun mengusulkan kepada SPPG agar diberikan pula menu ikan seperti lele, gurame, dan ikan laut dimasukkan dalam MBG. Olahan yang dinilai cocok untuk anak adalah yang tanpa duri, seperti fillet ikan goreng krispi, bakso ikan, nugget ikan, dan siomay ikan.
Berdasarkan pengalaman guru, anak-anak paling menyukai fillet ikan goreng crispy yang renyah. Sekolah memberikan usulan agar menu ikan diberikan minimal satu kali dalam seminggu. Untuk pendamping lauk ikan, anak-anak lebih mudah menerima makanan jika disajikan bersama kentang goreng, mie, atau roti, sementara sayur lebih disukai bila warnanya segar dan bentuknya rapi.
Siswi Hendriyati menuturkan MBG tiba sekitar pukul 07.00 pagi dan dikonsumsi hingga pukul 09.00 pagi untuk menjaga kualitas. SPPG Bersama guru juga sudah mendata anak-anak yang memiliki alergi, sehingga penyajian dapat disesuaikan. Guru memeriksa kualitas makanan sebelum dibagikan, dan sejauh ini rasa dan mutu MBG dari SPPG Krodan dinilai baik. Jadwal menu diberikan satu minggu sebelumnya, lengkap dengan bahan dan komposisi gizi.
“Tantangan yang dihadapi adalah masih ada anak yang enggan memakan makanan MBG, sehingga guru mendorong dan memotivasi agar anak mau mencoba. Kami juga berharap penambahan menu ikan secara rutin agar variasi dan kualitas protein semakin meningkat,” ungkapnya.
Menyapa sekolah yang sudah mendapatkan menu ikan pada Program MBG. Ning Sugiarti – Kepala Sekolah SD Negeri 4 Dawuhan Kabupaten Situbondo, menyatakan telah menerima sajian ikan yang disesuaikan agar disukai anak-anak. “Menu ikan disajikan dalam bentuk ikan (lele) goreng tanpa tulang, dan ikan laut fillet goreng tepung,” ujarnya.
Menu ikan diberikan satu kali dalam lima hari sekolah. Secara umum siswa memberikan respons positif terhadap variasi lauk berbasis ikan, meskipun ada beberapa yang kurang menyukai aroma khas ikan karena dianggap amis.
Ning menyarankan agar SPPG merotasi variasi bentuk olahan ikan, antara lain pepes ikan, bakso ikan, abon, nugget, hingga perkedel ikan. “Agar siswa tidak bosan, dan untuk meningkatkan minat mereka untuk mengonsumsi ikan,” ungkap dia.
Terkait kualitas makanan, Ning memastikan bahwa MBG yang diterima sekolah selama ini tergolong baik. “Makanan yang diberikan umumnya segar, memiliki cita rasa yang cukup disukai siswa, serta dikemas dengan rapi dan higienis,” ujarnya.
Dia menegaskan, belum pernah terjadi kasus keracunan pada siswa penerima manfaat MBG yang dipasok oleh SPPG ditempatnya. “Prosedur kebersihan dan pengawasan makanan dilakukan secara ketat untuk memastikan keamanan dan kesehatan siswa. Pengawasan dilakukan oleh tim khusus yang melibatkan Koordinator MBG dan wali kelas, mulai dari pengecekan warna, aroma, hingga kondisi kemasan sebelum makanan dibagikan. Selain itu, siswa diberikan edukasi untuk tidak mengonsumsi makanan yang berbau atau terlihat aneh,” dia menguraikan.
Meski demikian, dia bersama guru-guru mengidentifikasi titik rawan keamanan pangan jarak waktu antara memasak dan konsumsi, serta durasi pengiriman yang berpotensi menyebabkan penurunan kualitas. Oleh karena itu, sekolah menekankan pentingnya pengaturan waktu masak yang lebih dekat dengan jam makan.
Untuk peningkatan pelaksanaan MBG, Ning menekankan perlunya variasi menu yang lebih menarik, baik rasa maupun tampilan. Dengan pengawasan yang kuat serta peningkatan ragam menu, terutama ikan sebagai sumber protein hewani, Ning Sugiarti menilai MBG dapat terus memberikan manfaat nyata bagi pemenuhan gizi murid-murid SD Negeri 4 Dawuhan Situbondo.
Level Kebijakan KKP
Sebagaimana dinyatakan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono pada sebuah talkshow media di Jakarta pada 24/10 lalu menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan protein dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus diupayakan untuk ditopang langsung oleh sektor kelautan dan perikanan nasional.
Dia menyebutkan penyediaan menu ikan untuk MBG disusun sebagai sistem yang terhubung dari hulu hingga hilir, sehingga meningkatkan konsumsi gizi sekaligus memperkuat ekonomi nelayan dan pembudidaya. Dijelaskan Trenggono, jumlah penerima MBG mencapai sekitar 38 juta hingga 39 juta orang, sehingga kebutuhan protein perikanan dipastikan sangat tinggi dan harus terpenuhi secara berkelanjutan.
“Tentu di situ kebutuhan proteinnya kan tinggi sekali. Jadi mulai dari protein hewani maupun protein perikanan,” katanya. Ia menegaskan bahwa produk hasil tangkapan nelayan dan hasil budidaya ikan akan terserap langsung dalam program tersebut.
“Hasil produknya kan bisa larinya juga ke MBG,” ujar Trenggono. Dengan cara ini, MBG tidak hanya berfungsi sebagai program pemenuhan gizi, tetapi juga memberi pasar pasti bagi sektor perikanan rakyat di seluruh Indonesia.
Peran Pembudidaya dan Pengolah Ikan
Selain sektor penangkapan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), juga membangun sentra budidaya ikan di 500 kabupaten/kota. Adapun komoditasnya disesuaikan dengan preferensi konsumsi lokal, termasuk lele, nila, dan gurami serta jenis ikan air tawar lainnya. Hasil produksi budidaya ini diarahkan sebagai suplai rutin untuk MBG, sehingga tidak hanya nelayan, tetapi pembudidaya di darat juga terhubung langsung dengan pasar yang stabil.
Trenggono menegaskan bahwa pola ini akan berdampak langsung terhadap kesejahteraan pelaku sektor perikanan, diantaranya nelayan, pembudidaya dan pengolahan ikan. Salah satu contohnya, medio Oktober 2025 lalu, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDMKP) merilis bahwa lembaga di bawah KKP itu terus bergerak memastikan pasokan produk perikanan berkualitas. Salah satunya melalui kegiatan penyaluran produksi kelompok pengolahan ikan berbahan baku ikan hasil budidaya kepada SPPG / dapur MGB di Kabupaten Maros-Sulawesi Selatan.
BPPSDMKP melalui penyuluh perikanan setempat, membina Poklahsar Raja Bandeng, Cahaya Bandeng, dan Marlo Jaya. Sehingga dapat menyalurkan sebanyak 6,3 ton ikan bandeng tanpa duri ke Stasiun Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Maros.
I Nyoman Radiarta – Kepala BPPSDMKP menyatakan keterlibatan Poklahsar dalam penyediaan ikan olahan sebagai langkah konkret pemberdayaan ekonomi berbasis perikanan. Program ini membuktikan bahwa penguatan sektor perikanan mampu menghadirkan manfaat gizi sekaligus dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 161/ Oktober-November 2025



