Lumajang (TROBOSAQUA).Gerbas Tani menjadi ajang inovasi penjualan langsung; menghindari tengkulak, penjualan langsung ke warga lebih murah dan menguntungkan, meski belum menutup biaya produksi. Dalam pelaksanaannya, setiap tahun nuansanya berbeda.
Pada 2025 (5-6/8) lalu, ada gebrakan Gerbas tani menjadi event mingguan, bulanan dan tahunan. Rintisannya dimulai dengan menyiapkan rekan gerbas dan program PesaT (Pekarangan Sehat). Hasilnya dipasarkan di stand-stand gerbas. Percontohan PesatT saat ini berlaku di 18 RT dengan perwakilan masing-masing RT sebanyak 5 warga. 1 warga menanam di 50 polibag. Polibag, media tanam, bibit, POC disediakan oleh Bumdes. Ada 4.500-5.000 polibag aktif yang ditanami berbagai jenis sayur (kangkung, terong, kacang panjang, tomat, pare, dll).
Event Gerbas akhirnya menjadi ajang berjejaring. Tidak hanya Lumajang, tapi sudah lintas provinsi (Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, DIY Yogyakarta). Saat ini, sudah ada 2 anak muda Pekalongan yang belajar bersama/ magang di Gerbas Tani.
“Makanya, kita sebagai kepala desa harus sering kumpul/ berbaur dengan warga desa. Berada di tengah-tengah warga. Kerja tidak harus di balai desa, tapi di ladang-ladang, di pos kamling, rumah-rumah warga. Serap aspirasi warga, lalu anggarkan untuk kegiatan produktif,” ungkap Kepala Desa Kedungrejo, Hariyanto sebagai tuan rumah Gerbas Tani 2025 ini.
Dalam sesi berbagi cerita, Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Lumajang, Eko Adis Prayoga menuturkan, adalah PR bersama adalah bagaimana mengenalkan petani, pertanian yang produktif pada generasi penerus. “Mengingat situasi hari ini sudah tidak sama dengan sekian tahun lalu di mana penggunaan bahan-bahan kimia dalam aktivitas budidaya sudah di luar ambang batas. Kebutuhan pangan sehat, inovasi-inovasi ilmu pengetahuan yang ramah lingkungan sudah mendesak,” terangnya.ning-denpasar



