Semangat Sumpah Pemuda, yang dicetuskan pada 28 Oktober 1928, mengusung nilai-nilai kebangsaan, persatuan, dan komitmen terhadap tanah air. Nilai-nilai tersebut sangat relevan untuk diterapkan dalam sektor kelautan dan perikanan Indonesia, mengingat Indonesia adalah negara kepulauan terbesar dengan potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar. Semangat Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 mengandung nilai-nilai penting yang relevan untuk diterapkan dalam berbagai sektor pembangunan bangsa, termasuk sektor kelautan dan perikanan.
Sumpah Pemuda yang tercetus pada 28 Oktober 1928, memuat nilai-nilai persatuan, cinta tanah air, dan tekad untuk bertindak bersama demi kemajuan bangsa. Dalam konteks sektor kelautan dan perikanan Indonesia, semangat ini dapat diterapkan dengan cara yang relevan, seperti pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat pesisir, pengembangan teknologi ramah lingkungan, dan kolaborasi antar berbagai pihak untuk mencapai tujuan bersama.
Dalam ‘The Role of Youth in Sustainable Fisheries Development in Indonesia’ ( Aminuddin, dan Alamsyah, 2020) membahas peran pemuda dalam pengembangan sektor perikanan yang berkelanjutan di Indonesia. Pemuda dapat menjadi agen perubahan dalam sektor ini dengan berpartisipasi dalam program-program pendidikan kelautan dan perikanan, inovasi teknologi, serta kegiatan konservasi laut. Semangat Sumpah Pemuda yang mengutamakan persatuan dan kerjasama bangsa diterapkan dengan melibatkan pemuda dalam proyek-proyek yang mendukung keberlanjutan sektor perikanan dan ekosistem laut.
Penerapan semangat Sumpah Pemuda adalah semangat persatuan dan kebersamaan diterjemahkan dalam kolaborasi antara pemuda, pemerintah, dan masyarakat untuk mengelola sumber daya laut secara berkelanjutan. Selain itu, ada penekanan pada cinta tanah air melalui upaya menjaga kelestarian laut sebagai bagian dari identitas bangsa Indonesia yang merupakan negara kepulauan.
Menurut Suharto dan Siregar (2021) dalam ‘Collaborative Marine Resource Management: Strengthening National Unity in Indonesia’s Coastal Areas’, menyoroti pentingnya pengelolaan sumber daya laut berbasis kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta untuk mencapai pengelolaan yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, semangat Sumpah Pemuda yang mengusung persatuan bangsa dapat diterapkan dengan mendorong kerjasama antara daerah dan stakeholder untuk menjaga kelestarian ekosistem laut.
Artikel ini menekankan bahwa pengelolaan kawasan konservasi laut dan pemberantasan penangkapan ikan ilegal (IUU fishing) memerlukan tindakan bersama dari berbagai pihak untuk menjaga kelestarian laut Indonesia yang kaya akan biodiversitas. Penerapan semangat Sumpah Pemuda adalah semangat untuk bertindak bersama, sebagaimana tercantum dalam Sumpah Pemuda, terlihat dalam upaya kolaboratif antara pemuda, masyarakat pesisir, dan pemerintah untuk memastikan bahwa sumber daya laut dikelola secara berkelanjutan. Ini juga mencerminkan rasa cinta tanah air, yang berarti menjaga kelestarian laut untuk generasi mendatang.
Dikutip dari Tanurawan dan Rahmawati (2020), dari ‘Innovating Sustainable Aquaculture Practices: Empowering Coastal Communities in Indonesia’ membahas berbagai inovasi dalam praktik budidaya perikanan yang berkelanjutan, dengan fokus pada teknologi yang ramah lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir. Penulis mengungkapkan bagaimana sektor perikanan Indonesia dapat berkembang dengan mengadopsi teknologi baru yang meningkatkan efisiensi dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan laut.
Program pemberdayaan masyarakat pesisir juga dibahas, di mana pemuda diharapkan dapat memainkan peran kunci dalam mengadopsi dan menyebarluaskan teknologi baru. Dan penerapan Semangat Sumpah Pemuda termaktub dalam semangat untuk berinovasi dan berkontribusi dalam kemajuan bangsa tercermin dalam peran pemuda yang dapat terlibat dalam riset, pengembangan, dan penerapan teknologi perikanan berkelanjutan. Ini juga mencerminkan rasa cinta tanah air dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan menjaga kelestarian laut.
Sementara dilansir dari Putra (2019), dengan ‘Marine Conservation and the Role of Local Communities: Towards Sustainable Development in Indonesia’, bagaimana masyarakat pesisir, termasuk pemuda, dapat berperan dalam konservasi laut dan pengelolaan sumber daya kelautan secara berkelanjutan. Dalam artikel ini, konservasi berbasis masyarakat dijelaskan sebagai salah satu strategi yang efektif dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut. Melalui pendekatan ini, semangat persatuan dan kesatuan bangsa dapat diwujudkan dengan melibatkan masyarakat lokal dan pemuda dalam pengelolaan sumber daya laut.
Disini, pemuda juga diberdayakan melalui pendidikan tentang pentingnya konservasi dan keberlanjutan. Dan dalam hal ini, penerapan Semangat Sumpah Pemuda berupa kolaborasi antara masyarakat lokal, pemuda, dan pemerintah dalam pengelolaan konservasi laut mencerminkan semangat Sumpah Pemuda untuk bertindak bersama dalam membangun bangsa. Pemuda, sebagai agen perubahan, dapat membantu mewujudkan cita-cita nasional untuk melestarikan laut sebagai warisan bangsa.
Semangat Sumpah Pemuda yang menekankan persatuan, cinta tanah air, dan bertindak bersama untuk kemajuan dapat diterjemahkan dalam berbagai aspek sektor kelautan dan perikanan Indonesia. Penerapan semangat tersebut dalam praktik pengelolaan laut yang berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat pesisir, dan pemberdayaan pemuda dalam inovasi teknologi dapat memperkuat kemajuan sektor kelautan Indonesia. Melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pemuda, Indonesia dapat mengelola sumber daya kelautan dengan lebih baik, menjaga kelestarian laut, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.



