banner12 1
Iklan Web R

Noribet yang Bikin Ngebet

 

Bermula dari menonton film, terciptalah produk yang mencari celah pasar untuk konsumsi semua kalangan

 

TROBOS Aqua siang itu ingin berkunjung ke salah satu produsen pengolahan produk perikanan di kawasan Bandung-Jawa Barat. Ketika mampir di sebuah minimarket, tampak seorang ibu dan anaknya membeli produk nori (rumput laut kering). Sambil mengamati, tim TROBOS Aqua berpikir, cemilan ringan seperti nori banyak disukai berbagai generasi sehingga memiliki potensi pasar cukup luas.

Lewat tengah hari, tibalah TROBOS Aqua di kawasan Kecamatan Lengkong, Kota Bandung-Jawa Barat dan bertemu dengan Atika Octa Yusyanti, owner nori bermerek Noribet. Lingkungan perumahan ini diubah Atika menjadi rumah produksi dan tempat tinggal sekaligus. Ia bahkan bisa memproduksi sekitar 500-2500 kemasan nori setiap harinya.

 

Dua Jenis Nori

Menurut Atika, produksi khusus nori ada produk yang lokal dan impor. “Kalo yang impor pake (rumput laut) Porphyra,” terang Atika yang memulai usaha olahan nori ini sejak 2013 lalu.

Untuk yang impor, Atika memasok bahan nori dari penyuplai (supplier) khusus satu bulan sekali. Saat ini dia bekerjasama dengan lima supplier nori impor. “Ini supplier nya beda-beda karena nori itu impornya kan musiman juga, jadi kadang yang satu (supplier) itu gak ada (stok), yang satu lagi ada (stok), gitu. Jadi kita amanin dulu produksi,” ungkap Atika yang mendapat ide usaha nori dari sebuah film Thailand 2011 lalu, berjudul ‘The Billionaire’ yang mengisahkan biografi pengusaha produk nori.

Dari supplier Atika biasanya mengambil minimum 10 karton. Walaupun, dari supplier tidak membatasi berapa karton minimum yang dibeli. Dia menyebut banyaknya pembelian stok tergantung dari banyaknya stok atau tidak, kadang kalau stok supplier sedikit dia hanya membeli cukup dua karton.

“Dan hitungan kartonnya bukan kilogram (kg), tapi lembaran.  Jadi satu karton itu isinya 7 ribu lembar dengan ukuran 20×20 cm per lembar,” imbuh Atika.

Harga per karton dari masing-masing supplier pun berbeda karena tergantung kualitas grade yang ia ambil. “Iya ada A , B, C sampe D. Jadi kita ambil C atau B itu masih masuk. Bedanya dari grade nya itu dari tebalnya sih, kadang ada yang tipis keliatan kayak transparan. Jadi kalo digoreng, jadinya tipis gitu, paling itu yang paling mencolok bedanya. Kalau D itu agak tipis banget dan jenisnya agak kuning, kurang juga jadinya sangat berbeda, kok nori kuning,” papar Atika sambil tertawa santai.

Untuk grade C harga itu mulai dari per 10 lembar Rp150-190 ribu (per November 2024). Sementara, imbuh Atika, grade A bisa di harga Rp210 ribu (per November 2024). “Ketebalan bisa dilihat dari sampelnya, dulu awal-awal kita membeli grade A. Tapi, lama-lama harga naik terus, jadi kita ambil grade B dan C juga masih aman,” sebutnya.

Ia berucap, supplier nya memasok nori dari Korea Selatan (Korsel), Jepang, hingga China. Dan saat ini ia banyak membeli dari supplier yang memasok dari Korsel karena harga dan kualitasnya cocok dengannya.

Memasok stok nori impor ini, tambah Atika, disarankan melalui PO (pre order).Kalau impor pesan hari ini, sampainya dua minggu lagi biasanya, dan kalau mau lebih murah bisa dua bulan lagi (ketawa),” ucapnya terkekeh.

Dia melanjutkan, perbedaan waktu sampai ini karena biasanya ada yang sudah ready (stoknya). “Kalau supplier kan udah tahu kebutuhan kita segini, jadi mereka udah stok estimasi untuk sekian bulan. Disarankan untuk PO itu karena lebih aman stoknya. Walaupun, kadang kita kalau lagi abis banget ya udahlah, yang ada (stok di supplier) mana gitu,” beber perempuan berusia 39 tahun itu.

Sementara untuk nori lokal, Atika menggunakan jenis Ulva yang dipasok dari Pangandaran-Jawa Tengah, NTT (Nusa Tenggara Timur), hingga Makassar-Sulawesi Selatan. “Kalau lokal itu dari awal udah ada yang ngambil. Misalnya di Pangadaran, pengepulnya ngambilin aja, karena kan liar ya, gak ditanam begitu dan ada musimnya,” sebutnya.

Per November lalu, Atika menyebut harga Ulva dibeli seharga Rp 15ribu per kg dengan kondisi setengah kering. “Untuk stoknya kita tergantung musim di lokasi asal, makanya kita juga produksi nori lokal ini belum berani banyak,” paparnya.

Membangun kepercayaan dengan supplier, tuturnya, tidak ada yang spesial dan betul supplier Atika selama tiga tahun terakhir selalu aman dalam komunikasi dan pasokan. “Khususnya yang lokal, ada teman juga yang bolak-balik misal ke NTT dan mengirim foto saat panen Ulva yang lagi musim. Misalnya dia nanya, ini mau ini gak sambil difotoiin Ulva-nya,” jelas ibu dua orang anak ini.

elengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 153/Februari – Maret 2025

Tag:

Bagikan:

Trending

By Istimewa
Nyamankan Benur untuk Padat Tebar Tinggi
Belida by KKP
Ikan Lokal Tertinggal di Negeri Sendiri  
Hasil panen udang dok trobos
Film Komposit Kitosan/CMC Pertahankan Kualitas Vannamei
Panen nila by TROBOS
Nila Hitam dari Kediri
Fillet patin by Ramdan
Patin Indonesia Incar Pasar Haji  
banner6
banner9
Scroll to Top

Tingkatkan Strategi Budidaya Anda! Baca Insight Terbaru di Trobos Aqua!