Jakarta (TROBOSAQUA). Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara-Jawa Tengah dikenal sebagai gudangnya udang vannamei dan windu. Begitu orang ingin budidaya udang vannamei dan windu, benihnya didatangkan dari BBPBAP Jepara.
Kiprah BBPBAP Jepara (Balai Jepara, red) dalam hal manajemen udang sudah tak diragukan lagi. Tak mengherankan, pada 2025, balai yang berada di bawah naungan Ditjen Perikanan Budidaya ini tetap fokus dan memprioritaskan budidaya udang sebagai komoditas yang memiliki potensi pasar luas bernilai ekonomi tinggi.
Kepala BBPBAP Jepara, Supito Sumarto mengatakan, pada 2025 BBPBAP Jepara fokus melakukan pembenihan dan pembesaran udang vannamei dan windu. Kedua komoditas yang memiliki pasar luas dan nilai ekonomi tinggi ini tetap akan ditingkatkan produksinya.
Caranya adalah, dengan memanfaatkan teknologi dan menekan cost produksi, sehingga dalam proses pembenihan dan pembesaran ada nilai tambahnya. Khususnya untuk pembenihan udang vaname kapasitasnya mencapai 100 ton/tahun. Sedangkan untuk udang windu sebanyak 80 ton/tahun.
Benih udang vaname yang diproduksi Balai Jepara banyak dimanfaatkan petambak udang di kawasan Pantura Jawa. Sedangkan benih udang windu umumnya diminati petambak udang tradisional di Kalimantan dan Jawa Timur (Jatim).
Menurut Supito, benih udang yang dihasilkan Balai Jepara cukup bagus, dengan survival rate (SR)-nya cukup tinggi, di atas 70 %. Benih udang, khususnya vannamei dihasilkan melalui hasil breeding indukan dari Balai Produksi Induk Udang Unggul dan Kekerangan (BPIU2K) Karangasem-Bali.
“Nauplinya juga dikembangkan sejumlah hatchery di Rembang dan Tegal-Jawa Tengah dan Lampung. Kami juga menyiapkan aplikasi yang bisa diunduh melalui android bagi pembudidaya udang, aplikasi tersebut bisa dijadikan panduan bagi mereka untuk budidaya udang,” kata Supito, di Jakarta, belum lama ini.dimas



