Mitigasi risiko meliputi mengenali sumber infeksi, pemicu, vektor, juga mekanisme kesakitan dan kematian. Serta prosedur pengurangan risiko infeksi penyakit pada udang vannamei.
Sumber infeksi AHPND bisa berasal dari semua rantai produksi udang (hatchery sampai grow out). Sehingga perlu dipastikan sebelum ditebar, benur yang berstatus SPF dan kolam yang akan digunakan untuk budidaya bebas dari toksin AHPND.
“Pernah kejadian di Kebumen-Jawa Tengah, sekitar 2021, saat awal-awal AHPND sehingga pengetahuan dan pengalaman kami belum seperti sekarang. Ada tambak yang menggunakan sumur bor dangkal antara 5 – 10 meter kedalaman, lokasinya juga di pinggir laut. Tambak mengalami kematian massal diduga AHPND. Pikiran dangkal kami saat itu penyebabnya adalah Vibrio parahaemolyticus sehingga harus diukur total vibrio count – nya,” tutur Narendra Santika Hartana, Shrimp&Fish Health Manager – Animal Health & Lab Services PT Suri Tani Pemuka. Mengejutkan, ternyata TVC – nya nol, green dan yellow vibrio nol. Bahkan total bakterinya juga sedikit.
Mengenali Sumber Infeksi
Narendra menjelaskan toksin yang dihasilkan oleh Vp AHPND bersifat eksotoksin. Sepanjang toksin eksis di lingkungan, maka tidak perlu ada bakteri V parahaemolyticus di sekitar area kolam untuk bisa menyebabkan dengan gejala AHPND. Maka deteksi toksin pirA pirB pada petakan tambak saat periode persiapan itu tak kalah penting bahkan pada beberapa kondisi lebih penting daripada deteksi vibrio. Agar dilakukan langkah sanitasi lanjut, untuk mengeliminasi toksin.
Selanjutnya, lanjut dia, outbreak AHPND juga juga dapat dimitigasi dengan mengenali sumber risiko infeksi. Surveilans yang dilakukan ShrimpVet lab Vietnam menunjukkan, Acute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND) yang bisa berasal dari semua rantai produksi udang (hatchery – grow out). Cacing darah (blood worm), kekerangan dan cumi memiliki risiko menjadi perantara AHPND dengan level bervariasi antara 3,6% sampai di atas 40%. Bahkan transmisi AHPND dari hatchery, bisa mencapai 53% pengalaman pada 2019, meskipun pada 2019 turun menjadi 2,9%.
Narendra menyatakan, dibandingkan dengan bagian inlet (22,2%), reservoir terbesar AHPND (65,2%) adalah pada sedimen / lumpur bagian petakan sampai outlet, sehingga pada bagian ini pula potensi terbesar eksotoksin dari vibrio terakumulasi. Pada wild crustacean, lumpur sub soil (bawah lapisan plastik pada tambak lapis HDPE) dan air petakan dan masing-masing sebesar 8,6%, 2,3% dan 1,8%.
Fungsi Koagulan
Narendra mengungkapkan, asam humat dapat berfungsi sebagai koagulan yang dapat mengendapkan suspensi air tambak, seperti total organic matter (TOM) dan bahkan mengendapkan Vp AHPND sehingga konsentrasinya daam air turun signifikan. Selain itu, aplikasi asam humat 50% sebanyak 0,5 – 1 ppm juga dapat menaikkan pH 0,4 – 0,5. Selain itu juga dapat mendongkrak alkalinitas.
“Nilai penurunan toksin bukan berarti toksin hilang, tapi bisa mengendap, karena air yang diuji diambil secara aseptis di kolom air. Sebelum aplikasi asam humat di kolam budidaya, perhatikan populasi plankton. Safe spot kepadatan plankton harus di atas 700.000 CFU/m. Jika populasi kurang dari itu, air akan tambak akan menjadi jernih setelah diberi asam humat. Atau, gunakan setengah dari dosis yang disarankan,” dia menguraikan dalam materinya di seri pertama ekspos materi seminar teknis ‘Optimisme Budidaya Udang Di Wilayah Pantai Selatan’ yang digelar oleh South Coast Shrimp Association (SCSA) di Novotel Yogyakarta International Airport pada (21/1).
Dia pun merekomendasikan untuk mengaplikasikan asam humat di siang hari. Kemudian penggantian air / buka central drain dilakukan pada malam hari.
Peroksida dan Nanosilver
Narendra menyarankan petambak untuk tidak tergantung pada klorin. Sebab penggunaan klorin yang tidak tepat dapat membahayakan lingkungan budidaya, membuat mikroorganisme patogen resisten, dan efektivitasnya dapat menurun pada kondisi pH air laut yang basa. “Mengambil pelajaran dari Vietnam, desinfeksi dengan klorin dosis tinggi tidak 100% bisa mengontrol Vibrio parahaemolyticus (Vp) AHPND. Bahkan vibrio bisa tumbuh lebih cepat pada air yang sudah di desinfeksi,” ujarnya.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 154/Maret-April 2025



