Usaha pendederan benih patin banyak diminati masyarakat, lantaran benihnya bisa dibeli dari sejumlah balai perikanan budidaya air tawar
Kendati tak secemerlang seperti dulu (sebelum pandemi Covid 19, red), usaha pendederan benih patin bisa dibilang masih eksis hingga saat ini. Usaha pendederan benih patin banyak diminati masyarakat, lantaran pembenih bisa membeli benihnya dari sejumlah balai perikanan budidaya air tawar mulai ukuran ¾ inci (21 hari).
Dari benih tersebut, kemudian didederkan di kolam pendederan hingga ukuran 3-6 inci (1-2 bulan). Selanjutnya, benih patin tersebut dijual ke pembudidaya (pembesaran, red) dengan harga Rp600 per ekor.
Tak hanya terhenti di segmen pendederan saja, para pembenih patin umumnya juga melakukan pembesaran yang waktunya lebih panjang, antara 8 bulan-1 tahun. “Kalau pendederan waktunya pendek, paling lama 2-3 bulan. Meski waktunya pendek, usaha ini cukup menguntungkan. Sedangkan, untuk pembesaran diperlukan waktu 8 bulan-1 tahun (tergantung kualitas benihnya, red),” kata salah satu pendeder benih patin, H Hopipudin, di Jakarta, belum lama ini.
Menurutnya, meski permintaan pasar tak seramai sebelum Covid 19, usaha pendederan benih patin masih mampu meraup keuntungan sekitar Rp12 juta/bulan. Mengingat, permintaan benih patin saat ini berkisar 10 ribu-20 ribu ekor per bulan. “Dulu, permintaannya sampai jutaan ekor per bulan. Saat ini hanya ratusan ribu ekor per bulan,” ujarnya.
Sebelum pandemi, permintaan benih patin sangat banyak. Para pembeli berasal dari Lampung, Palembang dan sejumlah daerah di Sumatera lainnya. Saat ini permintaan dari Sumatera sudah jarang. Hal itu dikarenakan, sudah banyak masyarakat Lampung , Palembang dan sejumlah daerah di Sumatera yang memiliki hatchery sendiri.
“Walaupun permintaan benih patin tiap minggu atau bulan masih ada, tapi tak seramai dahulu. Permintaan benih patin saat ini paling banyak dari sejumlah pembudidaya mandiri di Bogor, dan sejumlah daerah di Jawa Barat (Jabar),” katanya.
H Hopipudin mengaku, selain melakukan pendederan benih patin, juga merambah segmen pembesaran. Sehingga, benih patin yang diproduksinya sebagian untuk memenuhi kebutuhan sendiri.
“Selain kolam untuk pendederan, kami punya kolam tanah sekitar 40 unit. Kolam tanah inilah yang kami gunakan untuk usaha pembesaran patin,” jelasnya.
Bagi para pembudidaya patin yang khusus melakukan pembesaran, umumnya membeli benih patin ukuran 3 inci, dengan padat tebar rata-rata 30 ekor per m2. Namun, ada juga yang membesarkan benih patin hingga ukuran 5-6 ons per ekor. Untuk mencapai ukuran tersebut diperlukan waktu 5 bulan. Kemudian, ada juga yang dibesarkan hingga ukuran 1 kg per ekor, yang perlu waktu satu tahun.
“Tapi ada juga yang menjual benih patin secara tangkalan, ukuran 1 Kg 3-4 ekor ( usia 3 bulan), kemudian benih tersebut dijual lagi untuk pembudidaya yang khusus melakukan pembesaran (penggemukan) hingga ukuran yang diinginkan,” katanya.
Menurutnya, benih patin yang didederkan dijual dengan harga Rp100-Rp110 per inci. Artinya, apabila ada pembeli yang menghendaki benih patin ukuran 2 inci harganya Rp200 per ekor dan 6 inci Rp600 per ekor. Benih-benih patin yang didederkan tersebut diberi pakan cacing halus dan pelet yang berkualitas. Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas benih yang dihasilkan.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 157/ Juni – Juli 2025



