Yogyakarta (TROBOSAQUA). Menurut Pj Sekda DI Yogyakarta, Aria Nugrahadi, program MBG harus menjadi momentum untuk sekaligus menyukseskan program Gemar Makan Ikan (Gemarikan). Maka Pemprov DIY bersama pihak terkait mendorong agar ikan menjadi menu rutin MBG.
“Cukup banyak produk ikan segar maupun olahan ikan yang tersedia di DIY. Sehingga dapat menyuplai menu olahan ikan, baik ikan segar, olahan ikan utuh maupun variasi olahan lanjut. Sehingga pembudidaya ikan dan pengolah ikan di DIY dapat menjadi bagian dari supply chain MBG,” ungkapnya saat membuka Seminar ‘Zero Waste dan Pangan Akuatik pada Program Makan Bergizi Gratis’ yang digelar Dinas Kelautan dan Perikanan DIY bersama Jejaring Pasca Panen untuk Gizi Indonesia (JP2GI) dan Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) di Ruang Gurami, Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan DI Yogyakarta pada Selasa (5/8). .
Kepala Dinas KP DIY – R Hery Dulistio Hermawan menyatakan acara ini akan membahas pemanfaatan sisa pangan akuatik sebagai upaya strategis dalam mewujudkan bebas limbah organik, sekaligus mendorong optimalisasi pemanfaatan bahan pangan akuatik pada dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) – atau dikenal sebagai dapur MBG – dalam rangka meningkatkan konsumsi ikan masyarakat.

Ibnu Budiman, Environment Manager, GAIN Indonesia membahas kebijakan pengurangan susut dan sisa pangan. Target pengurangan susut dan sisa pangan sebesar 3-5% per tahun (RPJMN 2025-2029). Melalui kebijakan dan Program Gerakan Selamatkan Pangan di 17 provinsi. Gerakan ini didukung 30 LSM, UMKM, dan horeka (hotel, restoran dan kafe) yang mulai berkomitmen menginisiasi reduksi FLW. Penyelamatan pangan juga diatur pada Revisi UU Pangan dengan target pengurangan susut dan sisa pangan 3-5% per tahun atau mencapai 15-25% di 2029. “Tanpa penyelamatan pangan, MBG berpotensi meningkatkan angka sisa pangan,” ungkapnya.
Dia pun menawarkan solusi alternatif reduksi risiko FLW pangan akuatik pada MBG di DIY, yaitu penggunaan ikan kecil (seperti wader) sebagai zero waste fish. Ikan kecil yang digemari, bergizi tinggi dan dapat dikonsumsi secara utuh tanpa sisa panganSoen’an Hadi Poernomo – Ketua Jejaring Pasca Panen untuk Gizi Indonesia (JP2GI) menyatakan pangan asal ikan sangat penting diakomodasi dalam menu MBG, karena kaya asam amino yang lengkap, terlengkap kedua setelah telur. Selain itu lebih mudah diserap pencernaan daripada daging hewan darat. “Jarang disebutkan, ikan mengandung asam lemak omega-3 atau EPA dan DHA yang mencerdaskan otak dan melindungi jantung dan pembuluh darah. Ikan mengandung lemak baik, lebih banyak daripada bahan pangan hewani lain,” tegasnya.
Mengenai konsep zero waste dan reduksi FLW, Soen’an mengatakan sangat perlu untuk efisiensi bahan pangan, melestarikan lingkungan dan menekan risiko perubahan iklim global. Terlebih MBG menyasar anak sekolah dalam lingkup lembaga pendidikan sekolah maupun pondok pesantren. Sehingga juga merupakan bagian dari pendidikan etika pangan, kebersihan dan kelestarian lingkungan untuk mereka.
Pondok Kami adalah berangkat dari panti asuhan yang terdiri dari balita usia SD sampai SMA, ABK, dan Lansia. Total berjumlah 387 orang. Disamping akademik (sekolah) para santri mendapatkan ilmu agama (pesantren), untuk membekali mereka juga diajarkan berbagai keterampilan / kecakapan hidup sebagai bekal di kemudian hari.
Di sela acara, dilakukan penandatanganan komitmen bersama Pemanfaatan Limbah Pangan Akuatik Sebagai Komitmen Bebas Limbah Organik pada Program MBG di Provinsi DI Yogyakarta oleh Budi Waljiman – Wakil Ketua DPRD DIY, Sekda DIY, DKP DIY, GAIN, JP2GI, Koordinator SPPG DIY, dan PP Madania.ntr/dini/edt



