banner12 1
Iklan Web R

Menghitung (B)Untung Tarif AS Bagi Perudangan

panen udang by ramdan

 

Waktu hingga Juli 2025 diminta untuk dimaksimalkan dalam penyiapan negosiasi hingga solusi ‘pengalihan’ pasar

 

Kata-kata “Is life not a thousand times too short for us to bore ourselves?”, “Apakah hidup ini seribu kali lebih singkat untuk kita membuat diri kita sendiri bosan?” dari Friedrich Nietzsche bisa jadi moto hidup seorang Donald Trump, Presiden Amerika Serikat (AS). Tidak membuang waktu dengan kebijakan pemimpin yang bisa jadi baginya itu-itu saja, dia mengeluarkan kebijakan yang bisa dibilang ‘mengagetkan’.

Ketika kondisi global masih berkutik dengan ketidakpastian perdagangan efek ketidakstabilan politik, Donald Trump mengeluarkan kebijakan yang booomm…Otomatis, semua pemimpin negara yang sedang menyesap minuman teh dengan tenang, bisa langsung berbalik badan.

Tanpa ada kebosanan dalam lika-liku kehidupan seorang presiden, memberlakukan tarif resiprokal tentunya membuat segalanya tidak berjalan statis. Ada saja tingkahnya. Dilansir dari berbagai sumber, tarif resiprokal adalah kebijakan perdagangan yang mengenakan pajak impor setara dengan tarif yang diterapkan negara lain terhadap produk domestik.

Dampaknya? Direktur PT Holi Mina Jaya Semarang-Jawa Tengah, Tanto Hermawan mengatakan, membuat pengusaha yang mau ekspor ke AS, berhenti dulu. Mereka menunggu, dan melihat, serta mengamati kondisinya ke depan.

“Mau ekspor, kami takut (tarif impor tinggi, hingga 47 % yang diterapkan pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump. Ini masalah. Nggak ada yang berani (importir) Amerika beli barang kita. Sementara, kita ekspor (produk perikanan) ke Amerika dalam jumlah besar,” papar pengusaha yang mengekspor ragam komoditas mulai dari gurita, tuna, dan kakap merah ini.

Kondisi ini, menurutnya membuat khawatir para pelaku usaha perikanan, walaupun Tanto mendengar tim lobi dari Indonesia sedang berusaha untuk bernegosiasi. “Walau begitu, ekspor tetap berhenti. Importir di sana tidak mau beli komoditas tuna, gurita, kakap merah, dan lain-lain dari Indonesia. Hampir semua berhenti. Daripada kena tarif impor, mereka juga tidak bisa jual. Lebih baik berhenti dulu,” sebut Tanto ketika diwawancarai (8/5).

Kekhawatiran di sektor perikanan, bukan tanpa alasan. Manajer Budidaya PT Dua Putra Perkasa (DPP) di Bintuhan, Kabupaten Kaur-Bengkulu, Teguh Setyono mengungkapkan, pengaruh sudah terasa di kalangan petambak udang.

“Sudah sedikit berpengaruh terhadap industri perudangan di tanah air. Saat ini harga udang relatif masih stabil meskipun ada tren penurunan,” ungkap Teguh ketika diwawancarai awal Mei lalu. Walau tidak menampik, Ketua Paguyuban Akuakultur Kaur ini masih menimbang sejauh mana dampaknya setelah adanya penundaan selama tiga bulan kedepan.

 

Dampak Bergerilya

Kegelisahan juga tidak hanya menjadi milik pelaku usaha tambak dan pengekspor. Senin, menjadi pembuka waktu kerja yang penuh kesibukan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) di Jakarta. Raut wajah serius tampak dari para peserta Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi VII DPR RI (28/4) lalu.

Tema yang dibahas kali itu, masa depan ekspor udang Indonesia setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberlakukan tarif resiprokal. Dan dilansir dari berbagai sumber, tarif resiprokal adalah kebijakan perdagangan yang mengenakan pajak impor setara dengan tarif yang diterapkan negara lain terhadap produk domestik.

Dalam rapat tersebut, Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Divisi Akuakultur, Denny Mulyono, menyuarakan, langkah yang diberlakukan AS dikhawatirkan bisa memukul industri udang nasional. “Udang kita sebanyak 63-65% itu ekspornya ke AS. Jadi tarif ini sangat terdampak dan sangat besar. Masalahnya bukan hanya volume ekspor yang besar, tapi juga besarnya beban tarif yang kini harus ditanggung. Jika tarifnya tidak turun, tetap 32%, ditambah tahun lalu kita sudah terdampak anti-dumping sebesar 3,9%. Jadi 32% ditambah 3,9%, 36% sudah kena, ” jelas Denny dilansir cnbc Indonesia.

Ditilik kebelakang, AS selama ini menjadi pasar utama bagi ekspor udang Indonesia, dengan kontribusi sekitar 70% terhadap total ekspor. Namun, kebijakan perdagangan yang diterapkan oleh Presiden AS, Donald Trump, yang berpotensi meningkatkan tarif impor, bisa memberikan dampak yang cukup besar bagi sektor ini.

Jika kebijakan tersebut diterapkan, harga udang Indonesia di pasar AS diperkirakan akan meningkat. Hal ini tentu akan mengurangi daya saing produk udang Indonesia, yang pada gilirannya akan mengurangi minat impor dari AS, yang ketika dikonfirmasi dengan pernyataan Tanto, sudah mulai terjadi.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 156/Mei-juni 2025

Tag:

Bagikan:

Trending

By Istimewa
Nyamankan Benur untuk Padat Tebar Tinggi
Belida by KKP
Ikan Lokal Tertinggal di Negeri Sendiri  
Hasil panen udang dok trobos
Film Komposit Kitosan/CMC Pertahankan Kualitas Vannamei
Panen nila by TROBOS
Nila Hitam dari Kediri
Fillet patin by Ramdan
Patin Indonesia Incar Pasar Haji  
banner6
banner9
Scroll to Top

Tingkatkan Strategi Budidaya Anda! Baca Insight Terbaru di Trobos Aqua!