Ikan maupun udang hidup di dalam media air, mencari makan di dalam air, tumbuh dan berkembang di dalam air serta juga membuang limbah. Kalau di dalam sistem itu tempat mencari makan sekaligus membuang limbahnya tidak dikelola dengan baik tentu akan berimplikasi terhadap menurunnya kualitas air dan berpengaruh terhadap kesehatan dan pertumbuhan ikan dan udang yang dipelihara.
Oleh: Profesor Hefni Efendi, M Phil*
Terdapat tiga hal dalam mengelola kualitas air di tambak udang. Pertama, parameter kualitas air yang biasanya berkaitan dengan proses bisnis di tambak udang. Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah buffer system atau sistem penyangga. Dan yang terakhir adalah probiotik yang juga sangat penting di dalam proses budidaya udang.
Aspek kualitas air sangat dipengaruhi oleh bagaimana sistem budidaya itu dilakukan. Apakah menganut sistem tradisional atau ekstensif atau semi ekstensif ataupun intensif. Sistem budidaya yang menganut sistem ekstensif atau tradisional sepenuhnya tergantung kepada natural food yang ada di dalam kolam.
Budidaya sistem intensif akan banyak sekali exenus atau artificial feeding yang harus diintroduksi ke dalam sistem budaya. Konsekuensinya permasalahan pun juga akan lebih kompleks dibandingkan dengan natural food yang hanya mengandalkan sepenuhnya pada pakan alami.
Oleh karena, masalah kualitas air banyak mengemuka pada sistem budaya, baik semi intensif maupun intensif. Kenapa kualitas air menjadi penting? Karena ikan maupun udang hidup di dalam media air, mencari makan di dalam air, tumbuh dan berkembang di dalam air serta juga membuang limbah.
Jadi bisa dibayangkan di dalam sistem itu tempat mencari makan sekaligus membuang limbahnya juga sehingga kalau tidak dikelola dengan baik tentu akan berimplikasi terhadap menurunnya kualitas air.
leh karena itu diperlukan pemahaman yang cukup berkaitan dengan apa saja yang menjadi parameter dalam pertambakan udang ataupun ikan dan juga kualitas air yang kira-kira seperti apa disukai udang maupun ikan.
Lalu sejauh mana upaya untuk mengelola agar kualitas air berada dalam kondisi optimum. Artinya dalam kisaran yang memang disukai udang maupun ikan untuk hidupnya.
Di dalam tambak udang terdapat temperatur dan salinitas yang perlu dijaga dengan baik. Bagaimanapun juga kisaran suhu di tropik tetap berkisar dari 28 sampai 32 derajat Celcius. Ini adalah kisaran yang memang terjadi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan maupun metabolisme udang.
Kemudian juga salinitas harus pelihara dalam kisaran 15 sampai 30 PPT atau sekarang satuan dari salinitas adalah PSU (parsial salinity unit). Walaupun sebetulnya sama saja dengan PPT dan juga tetap menggunakan alat refraktometer dalam mengukurnya. Salinitas sangat berpengaruh kepada osmoregulasi dan pertumbuhan dari biota yang dipelihara di dalam kolam ataupun tambak.
Selanjutnya pH dan oksigen terlarut juga parameter kunci yang harus dijaga. Di dalam kolam maupun tambak harus dijaga pH di sekitar netral. Dan alkalin karena air laut itu berciri cenderung alkalin tidak asidik ke arah asam.
Oleh karena itu karena udang berbasis hidupnya di air payau maupun air laut maka tentu saja pH-nya harus dijaga di atas atau sekitar pH netral tujuh atau lebih kurang dari tujuh ke atas. Jangan sampai kurang dari tujuh karena berpengaruh terhadap kehidupan udang dan kesediaan nutrisi di kolam maupun tambak.
Yang tidak kalah pentingnya adalah DO. Semua makhluk hidup membutuhkan DO, baik itu makhluk akuatik maupun makhluk di daratan. DO diharapkan jangan kurang dari 4 PPM karena ini sangat penting untuk respirasi dari udang. Maka pada tambak udang intensif diperlukan aerasi dalam jumlah cukup.
Selanjutnya oksigen, salah satu gas yang penting diperhatikan. Di antara sekian banyak gas terlarut di dalam air, seperti karbondioksida, nitrogen maupun amoniak maka oksigen salah satu yang terpenting.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 154/Maret-April 2025



