Budidaya maggot BSF tak sekadar membantu masyarakat mengatasi sampah rumah tangga, tapi bisa menjadi pilihan untuk mendapatkan cuan menggiurkan. Selain pasarnya masih terbuka, bisnis ini menawarkan profitabilitas menggiurkan.
Usaha budidaya maggot (larva) Black Soldier Fly (BSF) semakin dilirik masyarakat. Owner Joglo Larva Center (JLC), Mulyanto Diharjo mengatakan, usaha budidaya maggot BSF memiliki masa depan cerah dan pasarnya masih terbuka lebar. Pembudidaya maggot BSF bisa memberdayakan usahanya mulai dari telur, larva, hingga bekas maggot (Kasgot) yang bernilai bisnis. Bahkan, nilai bisnisnya juga berkelanjutan.
“Pembudidaya bisa menjual maggot segar maupun yang sudah dikeringkan. Limbahnya berupa bekas maggot bisa dijadikan pupuk organik untuk tanaman dan laku dijual di masyarakat,” kata Mulyanto, di Jakarta, belum lama ini.
Mulyanto mengaku, khususnya maggot (segar,red) banyak diminati peternak ayam, bebek, dan pembudidaya lele. Para pembeli umumnya berasal dari Kota/Kabupaten Bekasi dan sekitarnya. Maggot segar yang diproduksi JLC sebanyak 20 kilogram (kg)/hari, dengan harga jual Rp6.000/kg. Usaha budidaya maggot BSF yang dikelola sejak 2019 ini mampu meraup omzet dari penjualan maggot segar sebesar Rp3,6 juta/bulan.
Selain maggot segar, JLC juga menjual telur BSF dengan harga Rp4.000/gram. Jika produksi telur BSF 10-20 gram/hari, maka omzet penjualan dari telur tersebut sebanyak Rp1,2 juta/bulan. Sedangkan untuk maggot yang sudah disangrai (dikeringkan) atau maggoter tiap 1 botol (40 gram) dijual dengan harga Rp 10 ribu per botol. Bekas maggot (kasgot) pun bisa dijadikan pupuk organik yang dibandrol dengan harga Rp 2.000/kg (curah) dan yang sudah dikemas dijual dengan harga Rp 4.000/Kg.
Menurut Mulyanto, usaha budidaya maggot yang dilakukan hingga saat ini sudah mulai berkembang. Apabila ditambah dengan anggota binaan JLC, produksi maggot saat ini bisa meningkat 50-70 kg/hari. Hal itu dikarenakan, saat ini ada 50 RW yang menerima manfaat berupa kandang maggot dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi dan CSR (Corporate Social Responsibility) dari sejumlah perusahaan.
“Kami berharap usaha budidaya maggot BSF bisa dikembangkan di setiap RW di Bekasi. Karena, budidaya maggot juga membuka peluang pemberdayaan masyarakat. Inisiatif seperti pelatihan teknologi budidaya maggot dan kolaborasi dengan pemerintah daerah untuk memperluas pasar terus kami lakukan,” paparnya.
Seperi diketahui, maggot merupakan organisme yang berasal dari telur BSF, pada metamorfosis fase kedua setelah fase telur dan sebelum fase pupa yang nantinya akan menjadi BSF dewasa. Maggot dapat diproduksi dengan mudah dan cepat. Panen maggot dapat dilakukan mulai dari usia 10 hari hingga 24 hari, dimana telur BSF sudah menetas dan memasuki fase larva yang tumbuh sekitar 15-20 mm hingga sebelum masuk fase pupa.
Mulyanto mengatakan, siklus BSF hanya 45 hari. Artinya, ketika lalat hitam tentara ini usai bertelur akan mati. Untuk itu, ketika panen maggot (larva) hanya diambil sebanyak 80 persen, sisanya yang 20 persen dibiarkan untuk dijadikan indukan. Dengan begitu, maggot BSF dapat diproduksi dalam waktu singkat, dalam jumlah melimpah sepanjang waktu.
Maggot BSF tidak berbahaya bagi ikan dikarenakan bukan vektor penyakit. Bahkan, maggot BSF mengandung nutrisi sesuai dengan kebutuhan ikan yakni kandungan protein sebesar 40-48% dan lemak 25-32%.
Maggot BSF ini, lanjut Mulyanto menjadi alternatif pakan ikan atau ternak yang ramah lingkungan, harganya terjangkau, nilai proteinnya tinggi (40 persen) dan berkelanjutan. Maggot BSF bisa dijadikan pakan lele, bebek, ayam kampung dan ternak lainnya.
“Pembudidaya lele yang menggunakan pakan maggot panennya lebih cepat 2 minggu dari target panen biasanya. Sehingga, penggunaan pakan maggot akan lebih efektif dan efisien,”ujarnya. Maggot BSF yang dikonsumsi ternak ayam atau bebek, kualitas telurnya menjadi lebih bagus. Ayam yang mengkonsumsi maggot BSF lebih sehat dan jarang terkena penyakit. Ternak ayam yang memanfaatkan pakan maggot juga lebih cepat besar.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 155/April -Mei 2025



