Budidaya lobster di Indonesia memiliki prospek cerah dengan harga jual yang tinggi, menjadikannya daya tarik utama bagi nelayan untuk beralih ke sektor ini.
“Lobster sangat prospektif untuk dibudidayakan karena harganya stabil dan menjanjikan,” ujar Ibrahim, pembudidaya lobster laut di Desa Rompo, Kabupaten Bima-Nusa Tenggara Barat. Meskipun potensinya besar, berbagai tantangan masih menghadang, terutama dari segi ekosistem budidaya yang belum optimal.
Saat ini, sambung Ibrahim, klaster budidaya lobster belum merata di seluruh Indonesia. Pulau Lombok-NTB telah memiliki sistem klasterisasi mulai dari penangkapan benih, pembesaran, hingga pemasaran, sementara Sumbawa-NTB masih tertinggal.
“Klaster khusus budidaya sangat penting. Di Sumbawa, jumlahnya masih bisa dihitung jari,” tambah Ibrahim yang berkecimpung di dunia lobster laut sejak empat tahun lalu itu.
Hal serupa terjadi di Aceh, di mana nelayan masih bekerja secara individu tanpa dukungan teknologi dan sistem budidaya yang terstruktur. “Kami lebih banyak menangkap dan langsung menjual ke pengepul, belum banyak yang benar-benar membudidayakan,” kata Riswandi, seorang nelayan di Aceh (26/2).
Tangkap Malam, Hasil Maksimal
Metode penangkapan lobster di berbagai daerah di Indonesia bervariasi. Di Kabupaten Simeulue-Aceh, mayoritas nelayan menangkap lobster secara manual tanpa alat bantu.
“Kami menangkap lobster dengan tangan kosong pada malam hari. Karena saat itu mereka lebih mudah ditemukan,” ujar Riswandi. Beberapa nelayan menggunakan perangkap, tetapi jumlahnya masih terbatas.
Kepada tim TROBOS Aqua, Riswandi menjabarkan jenis lobster juga menentukan metode tangkapnya. Lobster batu yang hidup di kedalaman 3 hingga 4 meter masih bisa diambil dengan tangan kosong.
Sementara lobster bambu yang hidup lebih dalam memerlukan alat bantu seperti kompresor. Namun, penggunaan kompresor kini dilarang oleh pemerintah demi menjaga kelestarian sumber daya laut.
Cuaca menjadi faktor krusial dalam penangkapan. “Kalau cuaca buruk, ombak besar, atau air laut keruh, hasil tangkapan menurun drastis,” bebernya. Musim barat yang ditandai dengan badai dan hujan deras membuat nelayan sulit bekerja. Sedangkan musim timur dengan cuaca lebih tenang memberikan peluang lebih baik.
Pakan Mahal, Regulasi Ruwet
Pakan menjadi salah satu kendala utama dalam budidaya lobster. Saat ini, pembudidaya masih bergantung pada ikan hasil tangkapan nelayan sebagai pakan utama.
“Kami memakai ikan rucah dan ikan lembu sebagai pakan. Tapi idealnya lobster lebih baik diberi kerang atau kepiting,” ungkap Ibrahim. Harga pakan berkualitas tinggi yang mahal membuat pembudidaya kesulitan menjangkaunya. Beberapa nelayan mencoba mencari alternatif yang lebih murah, seperti udang kecil atau limbah ikan dari pasar, tetapi hasilnya kurang maksimal.
“Pertumbuhan lobster jadi lebih lambat dengan pakan alternatif ini,” jelas Riswandi yang sudah 14 tahun makan asam garam industri lobster. Inovasi dalam penyediaan pakan yang lebih terjangkau sangat dibutuhkan, baik melalui substitusi protein maupun dukungan pemerintah dalam bentuk subsidi atau teknologi pakan.
Selain pakan, regulasi terkait ukuran tangkap terus berubah, membingungkan nelayan. “Dulu ukuran minimal ekspor 8 ons ke atas, sekarang ada aturan baru yang lebih ketat. Ukuran di bawah 110 gram atau 1,1 ons tidak boleh ditangkap dan diekspor,” ungkap Riswandi ketika dihubungi via telepon.
Namun, lanjutnya, aturan ini masih membingungkan karena beberapa jenis seperti lobster pasir mulai diperbolehkan ditangkap dalam ukuran lebih kecil. Perubahan aturan yang mendadak membuat nelayan kesulitan menyesuaikan strategi bisnis mereka. “Kadang kami sudah siapkan lobster untuk ekspor, tapi tiba-tiba regulasi berubah, akhirnya kami harus mencari pasar lain atau menjual dengan harga lebih rendah,” keluhnya.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 154/Maret-April 2025



