Oleh: Riris Yuli Valentine dan Jhon Septin M Siregar
Bagian dari upaya pemulihan habitat karang yang penting bagi kehidupan ikan budidaya
Dari Kupang-Nusa Tenggara Timur (NTT), suara cinta laut kembali bergema. Dalam rangka memperingati Hari Laut Sedunia (8 Juni 2025) dan Hari Segitiga Terumbu Karang (9 Juni 2025), Languan Diving Club (LDC) Kupang menginisiasi aksi nyata melalui kegiatan transplantasi karang di perairan Desa Bolok, Sabtu (7/6). Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk membangun kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga laut sebagai warisan tak tergantikan.
Dibuka langsung Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, melalui penanaman karang secara simbolis bersama Direktur Politeknik KP Kupang dan perwakilan mitra yang hadir. “Setiap pembangunan di NTT harus menjaga kelestarian lingkungan, termasuk laut dan ekosistemnya. Kegiatan seperti transplantasi karang ini adalah langkah bijak yang harus terus dilakukan dan didukung,” terang gubernur.
Kegiatan ini juga merupakan bagian dari kompetisi ‘Lomba Adopsi Karang’ oleh Jaringan Adopsi Karang Indonesia (JARI). Namun bagi LDC Kupang, kegiatan ini bukan sekadar ajang lomba, melainkan panggilan untuk menyatukan edukasi, aksi, dan refleksi dalam memperingati dua hari besar lingkungan laut. Dengan semangat kolaborasi dan kesadaran ekologis, LDC Kupang berhasil meraih penghargaan sebagai penerima donasi karang terbanyak dan dinobatkan sebagai Juara 1 Nasional dalam lomba tersebut.
Dari Krisis ke Aksi Nyata
Lokasi transplantasi karang berada di perairan Bolok, tepatnya tidak jauh dari kawasan kampus Politeknik KP Kupang. Wilayah ini sebelumnya dikenal sebagai area menyelam dengan keindahan karang yang luar biasa. Namun, pada April 2021, badai Siklon Tropis Seroja melanda sebagian besar wilayah NTT, termasuk perairan Bolok.
Hantaman badai merusak ekosistem bawah laut secara besar-besaran. Kini, sebagian area terumbu karang di Bolok mengalami kerusakan parah. Padahal, terumbu karang bukan hanya elemen estetika laut semata, ia merupakan pondasi penting bagi keberlanjutan akuakultur air laut. Banyak spesies ikan ekonomis penting, termasuk yang dibudidayakan, menggantungkan hidupnya pada ekosistem karang sebagai tempat berlindung, memijah, dan mencari makan. Jika karang rusak, maka populasi ikan pun akan terancam, yang pada akhirnya berdampak pada produktivitas sektor perikanan dan akuakultur.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 158/ Juli-Agustus 2025



