Oleh: Usama Umar Alhadadi*
Mengobrol tentang budidaya laut, tentunya tak lepas dari kondisi jeda Covid 19 lalu. Pandemi ini tidak hanya berpengaruh ke komoditas perikanan di darat dan payau, namun juga ke komoditas laut. Selepas Covid 19, pergerakan pembudidaya itu belum signifikan kembali sedia kala sebalum pandemi. Dimana saat korona menyerang, perusahaan atau pembudidaya laut tutup karena tidak adanya market (pasar). Yang secara perlahan, pembudidaya mulai ada kegiatan kembali untuk usaha komoditas kakap dan kerapu.
Walau demikian, total produksi yang dihasilkan belum bisa menyamai masa-masa sebelum Covid. Kondisi hingga sekarang, setidaknya baru 30% yang beroperasi dari sebelumnya di setiap wilayah budidaya laut. Contoh di Bali, dari yang semulai terdapat 5.500 unit KJA (keramba jaring apung), sekrang yang aktif sekitar 1.000-1.500 unit. Di sisi komoditas kakap putih, perusahaan yang memproduksi lebih memilih mengecilkan volume produksi sehingga belum kembali ke potensi produksi sebelumnya. Namun di wilayah Kepulauan Riau, satu tahun terakhir sudah ada gairah yang lebih menggebu, ada peningkatan produksi.
Kondisi Cuaca Tidak Pasti
Dalam menghasilkan produksi yang diharapkan, aspek teknis pun menjadi pertimbangan penting. Bagi pembudidaya laut, keramba apung, selalu memilih waktu untuk penebaran. Jadi di periode tertentu pembudidaya tidak menebar benih, di periode tertentu ada fase penebaran. Karena biasanya pembudidaya sudah punya data sepanjang tahun, di musim atau bulan apa pembudidaya tidak melakukan penebaran, dan sebaliknya.
Dan dengan kondisi cuaca yang terbilang tidak menentu saat ini, pembudidaya umumnya sudah melakukan antisipasi. Yaitu dengan memperkuat benihnya.
Dulu, laju sintasan ikan di pembudidaya bisa mencapai 70-75 %, kemudian turun-turun sampai kalau di kakap putih di level 50 %. Untuk kerapu di sekitar 30-50 %. Sekarang pembudidaya meningkatkan sintasan dengan adanya rekanan pihak vaksin dari universitas maupun dari pihak swasta.
Pembudidaya mencoba vaksinasi Irido, VNN (Viral Nervous Necrosis), dan Streptococcus. Untuk kakak putihnya Streptococcus, ada juga yang menggunakan Irido dan Streptococcus, dan untuk di kerapunya vaksin Irido dan VNN.
Di wilayah hampir keseluruhan, karena produksi benih itu cenderung di timur (Indonesia bagian timur), maka otomatis ketika benih di bulan-bulan cuaca kurang baik, di bulan dingin sekitar bulan 6-7-8 (Juni-Juli-Agustus), dari mulai jumlah telurnya juga menurun, aktivitas benihnya juga menurun, jadi penebaran juga menurun.
Kalau di laut, di bulan itu hasil tidak terbaik. Jadi, mulai dari Mei-Agustus pembudidaya laut itu jarang tebar hampir di semua wilayah. Kemudian di September-November baru rata-rata pembudidaya melakukan penebaran. Puncaknya penebaran.
Selanjutnya, dikarenakan hujan, angin, ombak dan sebagainya itu, biasanya pada Desember-Januari-Februari, pembudidaya khususnya di wilayah timur juga tidak tebar, karena ombak tinggi. Di barat, sebagian ada yang masih bisa, sebagian tidak. Kemudian peak (puncak) lagi di akhir Februari, sampai di April atau awal Mei. Jadi efektif tebar selama tujuh bulan.
Inovasi Butuh SDM
Selain antisipasi dari penguatan benih dan waktu tebar, inovasi juga mesti bergerak selalu untuk mencari solusi peningkatan produksi. Kalau di keramba apung teknologinya hampir sederhana. Tetapi yang perlu adalah benteng daripada benih itu.
Dan kedua, biosekuritinya. Sumber daya manusia (SDM)-nya ditingkatkan pengetahuan untuk membuat biosekuritinya ini bisa berjalan sebagaimana mestinya.



