banner12 1
Iklan Web R

Kesiapan Hatchery untuk Prasyarat Padat Tebar Tinggi

Banyak yang harus disiapkan untuk udang padat tebar tinggi by Dini

Mengatrol produksi melalui sistem budidaya superintensif dengan kepadatan tebar tinggi (high density) yang didukung oleh benur berkualitas.

Oleh: Waiso

Waiso dok pribadi
Waiso dok Pribadi

Iklim industri udang nasional yang mulai pulih seiring meningkatnya harga jual udang vannamei diapresiasi pemangku kepentingan di tanah air. Pada webinar Budidaya Udang Padat Tebar untuk Ketahanan Pangan Nasional yang digelar Pusat Riset Budidaya Laut BRIN, beberapa waktu lalu penulis menjadi narasumber dimana dalam presentasi disebutkan, buat praktisi berbudidaya udang hari ini satu kali siklus berhasil, itu baru hoki dan rezekinya lagi bagus.

Tetapi manakala sistem yang dijalankan minimal lima kali dan produktivitasnya berjalan stabil baru bukan hoki dan keberuntungan yang bekerja, tetapi sudah sistem. Sistem harus didukung riset supaya bisa diulang-ulang. Kenapa? Karena ada data yang menunjang, ada sistem yang bisa terkontrol. Tapi kalau hoki tentu susah. Siklus yang lalu doanya seperti apa, diulang lagi doanya seperti siklus hari ini tidak mungkin begitu.

Berbudidaya itu biosaintifik, datanya harus kuat, kemudian bisa diulang. Bukan hanya sekali berhasil, besok gagal lagi, nanti gagal lagi, besok berhasil lagi. Dan itu harus ditopang hasil riset yang memang benar-benar mewakili sehingga bekerja berdasarkan sistem dan SOP yang jelas.

Permintaan benur secara nasional pada 2023 sebanyak 2,5 miliar per bulan, tetapi 2024 menurun dan 2025 menurun lagi. Kenapa? Karena tambak yang beroperasi hanya sekitar 40-50%, sisanya tidak operasi karena penyakit.

Jadi zaman dahulu berbudidaya tambak 10 kolam, gagal dua kolam masih untung, hari ini berbudidaya 10 kolam, gagal satu kolam sudah rugi karena biaya produksi dan harga jual sudah mepet. Ini harus dicegah para peneliti yang bisa menemukan hal-hal baru yang nantinya bisa diterapkan di lapangan.

Dari total hatchery se-Indonesia sekitar 330 unit, terdiri dari HSRT sekitar 290, medium dan besar sekitar 40 unit. Karena tambak yang operasi sekitar 40-50% sehingga hatchery yang operasi juga sekitaran itu. Kalaupun tetap operasi tetapi permintaannya turun. Dengan begitu masih ada cadangan 60% yang bisa gunakan. Pada saat udang sudah ketemu sistem operasi yang baik untuk berbudidaya dan berhasil, maka hatchery sudah siap.

Jadi contoh di Lampung, ketika WM dan Bratasena masih aktif, kebutuhan benurnya di atas 1 miliar per bulan, hari ini hilang separuh lebih. Ini tantangan bersama. Harus ada pendekatan-pendekatan yang bisa dilakukan praktisi, akademisi, peneliti dan mahasiswa. Artinya yang minat riset tentang udang sama-sama sehingga hasilnya bisa dipergunakan.datuk/dini/edt

Selanjutnya bisa dibaca di Rubrik Suara Ahli TROBOS Aqua Edisi 165

Tag:

Bagikan:

Trending

Budidaya nila dok trobos
Imbauan Pembudidaya Antisipasi El Nino
Pemaparan Ria Veriani by Istimewa
 Dari Diklat ke Ekosistem Pembelajaran ASN
By Istimewa
Nyamankan Benur untuk Padat Tebar Tinggi
Belida by KKP
Ikan Lokal Tertinggal di Negeri Sendiri  
Hasil panen udang dok trobos
Film Komposit Kitosan/CMC Pertahankan Kualitas Vannamei
banner6
banner9
Scroll to Top

Tingkatkan Strategi Budidaya Anda! Baca Insight Terbaru di Trobos Aqua!