WhatsApp Image 2026 06 02 at 13.58.09

Kesiapan Hatchery untuk Prasyarat Padat Tebar Tinggi

Banyak yang harus disiapkan untuk udang padat tebar tinggi by Dini

Mengatrol produksi melalui sistem budidaya superintensif dengan kepadatan tebar tinggi (high density) yang didukung oleh benur berkualitas.

Oleh: Waiso

Waiso dok pribadi
Waiso dok Pribadi

Iklim industri udang nasional yang mulai pulih seiring meningkatnya harga jual udang vannamei diapresiasi pemangku kepentingan di tanah air. Pada webinar Budidaya Udang Padat Tebar untuk Ketahanan Pangan Nasional yang digelar Pusat Riset Budidaya Laut BRIN, beberapa waktu lalu penulis menjadi narasumber dimana dalam presentasi disebutkan, buat praktisi berbudidaya udang hari ini satu kali siklus berhasil, itu baru hoki dan rezekinya lagi bagus.

Tetapi manakala sistem yang dijalankan minimal lima kali dan produktivitasnya berjalan stabil baru bukan hoki dan keberuntungan yang bekerja, tetapi sudah sistem. Sistem harus didukung riset supaya bisa diulang-ulang. Kenapa? Karena ada data yang menunjang, ada sistem yang bisa terkontrol. Tapi kalau hoki tentu susah. Siklus yang lalu doanya seperti apa, diulang lagi doanya seperti siklus hari ini tidak mungkin begitu.

Berbudidaya itu biosaintifik, datanya harus kuat, kemudian bisa diulang. Bukan hanya sekali berhasil, besok gagal lagi, nanti gagal lagi, besok berhasil lagi. Dan itu harus ditopang hasil riset yang memang benar-benar mewakili sehingga bekerja berdasarkan sistem dan SOP yang jelas.

Permintaan benur secara nasional pada 2023 sebanyak 2,5 miliar per bulan, tetapi 2024 menurun dan 2025 menurun lagi. Kenapa? Karena tambak yang beroperasi hanya sekitar 40-50%, sisanya tidak operasi karena penyakit.

Jadi zaman dahulu berbudidaya tambak 10 kolam, gagal dua kolam masih untung, hari ini berbudidaya 10 kolam, gagal satu kolam sudah rugi karena biaya produksi dan harga jual sudah mepet. Ini harus dicegah para peneliti yang bisa menemukan hal-hal baru yang nantinya bisa diterapkan di lapangan.

Dari total hatchery se-Indonesia sekitar 330 unit, terdiri dari HSRT sekitar 290, medium dan besar sekitar 40 unit. Karena tambak yang operasi sekitar 40-50% sehingga hatchery yang operasi juga sekitaran itu. Kalaupun tetap operasi tetapi permintaannya turun. Dengan begitu masih ada cadangan 60% yang bisa gunakan. Pada saat udang sudah ketemu sistem operasi yang baik untuk berbudidaya dan berhasil, maka hatchery sudah siap.

Jadi contoh di Lampung, ketika WM dan Bratasena masih aktif, kebutuhan benurnya di atas 1 miliar per bulan, hari ini hilang separuh lebih. Ini tantangan bersama. Harus ada pendekatan-pendekatan yang bisa dilakukan praktisi, akademisi, peneliti dan mahasiswa. Artinya yang minat riset tentang udang sama-sama sehingga hasilnya bisa dipergunakan.datuk/dini/edt

Selanjutnya bisa dibaca di Rubrik Suara Ahli TROBOS Aqua Edisi 165

Tag:

Bagikan:

Trending

ADV-SYAQUA-2.jpg
SyAqua Mengoptimalkan Kadar Protein Dalam Pakan Udang: Bukti dari Uji Komersial Multi-Tambak di Thailand
Patin siap fillet by TROBOS
Ketika Dapur MBG Memburu Daging Ikan  
4F23737F-7727-4307-8E5C-36132EF5E8C4
Indo Livestock 2026 Himpun Pelaku Industri dari 30 Negara
ABCA02C5-D56C-454E-8A1F-48C9F82CAD4D
YUKI Dorong Pengendalian Penyakit Lewat Air
AgResults mengapresiasi pelaku usaha yang mempercepat adopsi teknologi di sektor akuakultur by Agresult
Adopsi Teknologi Akuakultur Meningkat, Ribuan Pembudidaya Rasakan Manfaat Program AgResults  
banner6
banner9
Scroll to Top