banner12 1
Iklan Web R

Inovasi bagi Petambak Udang Dinaikkan di BSF  

Foto dok Ikhwan kamsil

Banyuwangi (TROBOSAQUA). Pada hari kedua Banyuwangi Shrimp Fair (15/10), Dosen Universitas Airlangga Andi Hamim Zaidan membuka sesi pertama. Ia memaparkan materi mengenai teknologi spektral dalam budidaya udang. Ia menjelaskan bahwa teknologi ini merupakan pendekatan berbasis penginderaan satelit (remote sensing) yang memungkinkan pengumpulan data secara akurat dan real-time mengenai kondisi tambak.

Melalui sistem ini, petambak dapat memperoleh gambaran menyeluruh tentang aspek fisik, kimia, maupun biologis perairan tambak, sehingga dapat menentukan perlakuan (treatment) yang tepat sesuai kondisi aktual di lapangan.

Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI), Andi Tamsil hadir secara virtual mengisi Banyuwangi Shrimp Fair (BSF) 2025 di Banyuwangi-Jawa Timur. Dalam paparannya ia menjelaskan  berbagai masalah serta tantangan yang dihadapi industri udang nasional, sekaligus menjelaskan peran SCI dalam mencari solusi bersama.

Andi menjelaskan bahwa industri udang Indonesia tengah menghadapi persoalan serius yang berdampak langsung terhadap para petambak, mulai dari isu ekspor, fluktuasi harga, hingga regulasi lingkungan yang semakin ketat.

“Setiap kali ada masalah, yang paling terdampak selalu petambak. Harga turun dibebankan ke petambak, biaya naik pun dibebankan ke petambak. Kalau ada persoalan di pasar, lagi-lagi yang menerima dampak paling besar adalah petambak,” ujarnya. Karena itu, solidaritas antarpetambak menjadi penting sebab seluruh pelaku dalam rantai industri udang sejatinya merupakan satu kesatuan mata rantai yang saling bergantung.

CEO Jala sekaligus Ketua Komisi IV Shrimp Club Indonesia (SCI), Liris Maduningtyas menjadi pemateri dalam Banyuwangi Shrimp Fair, Liris Maduningtyas, membuka paparannya dengan pernyataan yang tegas dan menggugah ‘Industri udang saat ini sedang tidak baik-baik saja’. Ia menggambarkan bahwa kondisi sektor ini tengah mengalami tekanan berat, terutama di bagian hilir, di mana rantai nilai perdagangan, harga jual, dan ekspor udang sedang menghadapi tantangan yang belum pernah sebesar ini sebelumnya.

Pakar kimia dari Suri Tani Pemuka (STP), Adu Damilsun memperkenalkan inovasi baru dalam pengelolaan tambak udang melalui konsep Sludge dan Nutrient Removal System. Sisitem ini yaitu sistem rekayasa teknik yang dirancang untuk mengeluarkan lumpur secara efektif dari kolam tambak.

Dalam Banyuwangi Shrimp Fair 2025, Hadi Mulyono, formulator dari Haida, menguraikan konsep High Production Sustainable Shrimp Farming atau budidaya udang berproduksi tinggi yang berkelanjutan. Ia membuka paparannya dengan menyoroti kondisi aktual di lapangan, terutama tren penyakit udang yang masih menjadi tantangan utama bagi para petambak di Indonesia sepanjang 2025, khususnya pada kuartal II dan III.ist/dini/edt

Tag:

Bagikan:

Trending

Ikan budidaya (nila merah) by TROBOS
Ikan Berlimpah Jelang Lebaran
KKP kirim 1852 kontainer udang bersertifikat bebas Cesium ke AS dalam tiga bulan dok istimewa
Sebanyak 1.852 Kontainer Lolos Cesium-137
Copy of Kolaborasi masyarakat untuk mangrove dok istimewa
Kuatkan Kawasan Mangrove dan Kepiting Bakau di Lantebung
HEIF Image
Empat Aspek Penting CBIB
HEIF Image
Hiu Blacktip, Ikon Ikan Laut di Rumah DeHakim
banner6
banner9
Scroll to Top

Tingkatkan Strategi Budidaya Anda! Baca Insight Terbaru di Trobos Aqua!