Lampung (TROBOSAQUA). Di tengah kejatuhan harga jual udang, para praktisi tambak udang yang tergabung dalam paguyuban Forum Komunikasi Praktisi Aquakultur (FKPA) menggelar diskusi bertemakan kolaborasi pencegahan penyakit. Diskusi digelar di tambak PPI, desa Kamping Baru, Kecamatan Marga Punduh, Kabupaten Pesawaran-Lampung, Sabtu (12/07) lalu.
Pada diskusi yang dibuka Ketua Umum FKPA Waiso, tersebut dihadiri sekitar 50 orang peserta dari berbagai tambak di Kabupaten Pesawaran, Tanggamus dan Lampung Selatan. Tampil menjadi narasumber Kuncoro, Risnanda dan Jarwo.
Dalam sambutannya Waiso mengajak para praktisi tambak anggota FKPA untuk bersinergi dan berkolaborasi menghadapi berbagai penyakit yang masih mewabah di Lampung, seperti AHPND. “Jangan pelit berbagi ilmu sebab jika tetangga terserang penyakit bisa berbalik ke kita karena sumber airnya satu yakni perairan di depan tambak,” ujarnya mengawali sambutan.
“Lebih-lebih pada saat harga jual udang jatuh hingga Rp10 ribu/kg sekarang ini, bukan untuk diratapi melainkan menjadi pemacu semangat kita untuk selalu optimis bahwa mendung pasti berlalu. Kita cegah penyakit sekuat tenaga sehingga ketika produktivitas tinggi maka usaha budidaya tetap meraih untung,” lanjutnya.

Pakan Fungsional
Kuncoro, teknisi tambak yang tampil perdana mengatakan, ia mengelola tambak tanah ‘uzur’ yang selama ini dikenal paling sulit dan rumit mengelola kualitas airnya. Bahkan karena di dalam lumpurnya sudah mengendap banyak zat-zat organik seperti H2S, ia sampai membuatkan pipa dari dalam tanah ke atas permukaan air untuk mengeluarkan gas-gas berbau busuk tersebut agar tidak meracuni udang.
Adapun kunci pencegahan penyakit yang dilakukannya adalah dengan persiapan lahan yang optimal, mulai dari pengairan selama 2 minggu, lalu dikeringkan, buang lumpur, pencucian dengan mengisi air selama 2 hari. Kemudian keringkan lagi dilanjutkan dengan pengapuran dan kembali diisi air setinggi 130 cm.
Kemudian setelah penebaran benur, ia menggunakan pakan fungsional sebanyak 20 % dari total pakan dari usia 30 hingga 40 hari sebagai upaya meningkatkan imunitas udang. Selain itu ia menggunakan bakteri lactobacillus yang difermentasi. Lalu secara rutin ia membuka pipa centraldrain dan melakukan ganti air. “Akhirnya saya bisa panen pada usia 95 hari dengan FCR 1,28, SR 116,19 % dan produktivitas 66 ton/ha,” ungkapnya.
Sementara Risnanda yang mengelola tambak PPI mengatakan, baru tahun ini tambaknya bebas dari serangan penyakit AHPND. Ia juga mengaku kunci pencegahan penyakit adalah dengan optimalisasi persiapan berupa pembersihan tambak. Karena konstruksi tambaknya berupa plastik HDPE maka pembersihannya lebih mudah dan lebih cepat.
Lalu yang juga ditekankan Aris adalah bahwa selain kolam budidaya, kolam tandon juga harus dibersihkan dengan SOP yang sama dengan kolam budidaya. “Jangan sampai kolam tandon menjadi sumber penyakit,” tegasnya.
Narasumber terakhir Jarwo, teman Risnanda di tambak PPI mengatakan, ia melakukan manajemen pakan yang ketat di fase awal budidaya. Ia yakin benur yang baru ditebar ke kolam tidak sepenuhnya memakan pakan pabrikan melainkan pakan alami. Oleh sebab itu ia berusaha menyuburkan pakan alami di dalam kolam pada fase awal budidaya.
Lalu frekwensi pemberian pakan juga ditingkatkan hingga delapan kali sehari semalam, mulai dari pukul 06 pagi hingga 22 malam. “Meski kami tidak memiliki autofeeder namun frekwensi pemberian pakan disamakan dengan autofeeder,” ungkap Jarwo sebelum diskusi dengan peserta.datuk-lampung/dini/edt



