Yogyakarta (TROBOSAQUA). Industri budidaya udang nasional menghadapi tekanan berat sepanjang 2025, terutama dari penurunan harga dan meningkatnya gangguan penyakit. Namun di tengah tekanan tersebut, kinerja produksi justru menunjukkan perbaikan, menandakan adanya adaptasi teknis yang terus berlangsung di tingkat tambak.
Dalam pemaparan JALA Shrimp Outlook 2026, terungkap bahwa 50,5% petambak menempatkan harga udang sebagai persoalan utama usaha, sementara 34,3% lainnya menghadapi gangguan penyakit yang secara langsung memengaruhi produksi. Tekanan ini muncul di tengah posisi Indonesia yang masih bertahan sebagai eksportir udang terbesar keempat dunia, meskipun volume ekspor tercatat turun 0,7% secara tahunan. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa tantangan industri tidak semata berasal dari aspek teknis produksi, tetapi juga dipengaruhi dinamika pasar global yang menekan harga jual di tingkat pembudidaya.
Menariknya, di tengah tekanan tersebut, performa produksi tambak secara nasional justru menunjukkan perbaikan. Produktivitas median pada 2025 tercatat mencapai 19,07 ton per hektar, meningkat 4,61% dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan ini mencerminkan perbaikan praktik budi daya, efisiensi teknis, serta penguatan manajemen tambak sebagai respons pelaku usaha terhadap tekanan usaha yang semakin kompleks.

Meski demikian, capaian produksi belum merata di seluruh wilayah. Kawasan timur mencatat produktivitas tertinggi dengan capaian 28,33 ton per hektar, jauh melampaui rata-rata nasional. Perbedaan ini mengindikasikan adanya kesenjangan performa antarwilayah yang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari tingkat adopsi teknologi, manajemen tambak, hingga kondisi lingkungan produksi.
Peningkatan produktivitas juga berjalan seiring dengan kecenderungan penggunaan padat tebar tinggi. Lebih dari separuh siklus budi daya, atau sekitar 55,4%, menggunakan kepadatan di atas 150 benur per meter persegi. Intensifikasi ini menunjukkan upaya pembudidaya untuk meningkatkan output produksi, namun sekaligus menuntut pengelolaan lingkungan dan kesehatan udang yang lebih ketat guna meminimalkan risiko penyakit.
Dari sisi hasil panen, ukuran udang yang dihasilkan berada pada median size 58 atau sekitar 58 ekor per kilogram. Ukuran tersebut mencerminkan strategi produksi yang menyeimbangkan kecepatan panen dengan efisiensi biomassa, sekaligus menggambarkan standar produksi yang berkembang di tingkat tambak.
Pengolahan data dilakukan berdasarkan catatan lapangan dari pengguna aplikasi manajemen tambak yang dipadukan dengan informasi pasar global, kesehatan udang, serta kondisi iklim. Pendekatan ini memberikan gambaran menyeluruh mengenai dinamika produksi sekaligus tantangan yang dihadapi industri sepanjang periode pengamatan.
Secara umum, pemaparan Shrimp Outlook 2026 menunjukkan industri budidaya udang nasional berada dalam situasi paradoks. Di satu sisi, tekanan harga dan risiko penyakit meningkat, tetapi di sisi lain kinerja produksi justru membaik. Kondisi ini mencerminkan proses penyesuaian yang terus berlangsung di tingkat pembudidaya, sekaligus menegaskan bahwa keberlanjutan industri tidak hanya bergantung pada peningkatan produktivitas, tetapi juga stabilitas pasar dan pengendalian kesehatan udang.dian/edt



