WhatsApp Image 2026 06 02 at 13.58.09

Cupang Hias, Si Pemersatu Bangsa Rambah Mancanegara

cupang koi dok trobos

 

 

Keberadaan cupang hias  kian  populer di masyarakat. Berkat keindahan warnanya, cupang hias telah memikat hati banyak orang.

 

Mulai dari anak-anak, orang dewasa, hingga orang tua dari lapisan bawah, menengah hingga atas banyak yang menyukai ikan hias jenis cupang ini. Si mungil ini tak hanya digemari hobbyist (penghobi) dalam negeri, tapi juga mancanegara.

Lantaran banyak peminatnya, cupang hias kerap disebut sebagai ikan hias pemersatu bangsa dengan cakupan pasar yang luas, dan banyak dibudidaya masyarakat. Tak heran apabila si mungil pemersatu bangsa ini sudah tembus pasar ekspor  seperti Asia, Amerika Serikat (AS) hingga sejumlah negara Eropa.

Pelaku usaha yang juga eksportir cupang hias, Ferry Luhur mengaku, sudah ekspor cupang hias secara reguler ke sejumlah negara di Asia Tenggara, Asia, AS hingga Eropa. Hampir tiap bulan puluhan ekor cupang hias diekspor ke Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei, Thailand , China, Korea Selatan hingga Timur Tengah.

“Ekspor reguler ke sejumlah negara di Asia dan Asia Tenggara ini dilakukan tiap satu bulan sekali. Masing-masing negara lebih kurang 10 ekor,” ujar Ferry Luhur, di Jakarta, belum lama ini.

Cupang hias yang diekspor umumnya  cupang hias untuk kontes yang harga rata-ratanya Rp500 ribu per ekor. “Yang kami ekspor ini kualitasnya khusus untuk kontes,” ujarnya.

Ferry mengaku, untuk ekspor cupang hias ke AS dan sejumlah negara di Eropa tak sebanyak yang dilakukan  di Asia. Bahkan, kualitas cupang yang diekspor  tak sebagus yang diekspor ke Asia.  Musababnya, di AS dan sejumlah negara di Eropa jarang dilakukan kontes cupang hias seperti di Asia dan Asia Tenggara. Kalau di Asia dan Asia Tenggara, dalam satu bulan ada puluhan kontes cupang hias. Namun, di AS dan sejumlah negara di Eropa, kontesnya hanya sesekali saja tiap bulan. Ekspor ke AS dan sejumlah negara di Eropa hanya sekitar 6-10 kali selama setahun.

“Sedangkan jumlah ikan yang diekspor ke masing-masing negara rata-rata 5 ekor. Harganya pun cukup murah, sekitar US$ 50 per ekor,” jelas Ferry.

Sebagai reseller yang sekaligus eksportir cupang hias, Ferry tak sembarangan dalam menjual cupang hias di galerinya. Cupang hias tersebut umumnya didapat dari sejumlah pembudidaya di  sejumlah daerah, seperti di Jabodetabek, Banten, Pekanbaru, Surabaya, Solo, Semarang, Pekalongan dan sejumlah daerah lain.

Selain berburu ke pembudidaya, ia juga kerap ditawari  atau dikirimi langsung berbagai jenis cupang hias dari pembudidaya atau reseller lainnya. Cupang hias yang dipajang di galerinya sekitar 1.500 ekor cupang. Dari jumlah tersebut, 90 % berupa cupang hias jenis serit. Sisanya jenis plakat dan half moon.

Menurutnya, perkembangan cupang hias  cukup pesat. Pada 1967  hingga saat ini ada ikon cupang hias yang dikembangkan  di Thailand, yakni jenis plakat (jenis cupang ekor pendek).  Kemudian sejak 1967 hingga 1980 ada pengembangan cupang hias ekor panjang, seperti half moon, delta, super delta dan sejenisnya.

“Khusus di Indonesia ada jenis cupang ekor panjang yang spesifik yakni jenis serit dengan warna oranye, merah atau biru. Secara kasat mata, jenis cupang hias ini tulangnya kelihatan. Hal inilah yang membuat jenis cupang hias tersebut tampak eksotis,” ujarnya.

Perkembangan yang cukup pesat inilah, akhirnya berdampak terhadap  jumlah jenis cupang hias hingga ribuan. Bisa dibilang, dari sekian banyak jenis cupang hias yang popularitasnya stabil hingga saat ini diantaranya jenis serit.  Banyak hobiis menyebut  serit ini lebih eksotis. Cupang jenis serit mulai berkembang sejak 90-an hingga 2.000 -an, dan masih stabil hingga saat ini. Begitu juga untuk plakat (ekor pendek) juga masih stabil hingga saat ini.

Pembudidaya  cupang hias umumnya melakukan penyilangan untuk mendapatkan jenis dan warna cupang hias yang indah dan eksotis. Proses selanjutnya dilakukan dengan cara di degrading untuk mendapatkan cupang hias dengan grade terbaik.

Para reseller berburu cupang hias yang sudah dipilah-pilah dan disortir dari grade rendah sampai atas. “Grade yang dilakukan sesuai dengan standar kontes nasional maupun internasional,” ujarnya.

elengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 153/Februari – Maret 2025

Tag:

Bagikan:

Trending

ADV-SYAQUA-2.jpg
SyAqua Mengoptimalkan Kadar Protein Dalam Pakan Udang: Bukti dari Uji Komersial Multi-Tambak di Thailand
Patin siap fillet by TROBOS
Ketika Dapur MBG Memburu Daging Ikan  
4F23737F-7727-4307-8E5C-36132EF5E8C4
Indo Livestock 2026 Himpun Pelaku Industri dari 30 Negara
ABCA02C5-D56C-454E-8A1F-48C9F82CAD4D
YUKI Dorong Pengendalian Penyakit Lewat Air
AgResults mengapresiasi pelaku usaha yang mempercepat adopsi teknologi di sektor akuakultur by Agresult
Adopsi Teknologi Akuakultur Meningkat, Ribuan Pembudidaya Rasakan Manfaat Program AgResults  
banner6
banner9
Scroll to Top