WhatsApp Image 2026 06 02 at 13.58.09

Crayfish Papua yang Mendunia

 

Jakarta (TROBOSAQUA). Publikasi dalam jurnal Zootaxa pada (9/1), dusty crayfish resmi diperkenalkan kepada dunia. Crayfish ini resmi diperkenalkan dengan nama Cherax pulverulentus, atau lebih akrab disebut dusty crayfish. Nama Cherax pulverulentus berasal dari bahasa latin pulverulentus, yang berarti ‘tertutup debu’, merujuk pada bintik-bintik kecil yang menghiasi tubuhnya.

Pada Maret 2023, sekelompok peneliti di Republik Ceko membeli sekumpulan lobster air tawar dari Indonesia melalui salah satu distributor ternama. Crayfish atau lobster air tawar ini telah lama menjadi primadona di kalangan kolektor akuarium di berbagai belahan dunia, mulai dari Eropa, Amerika Serikat, Jepang, hingga Indonesia sendiri.

Penemuan ini dilakukan oleh tim ilmuwan dari Republik Ceko yang terdiri dari Jiří Patoka, Surya Gentha Akmal, Martin Bláha, dan Antonín Kouba. Saat meneliti crayfish tersebut, para ilmuwan menemukan sesuatu yang menarik. Salah satu spesies memiliki ciri unik yang membedakannya dari spesies lain dalam genus Cherax.

Untuk memastikan keunikan ini, mereka melakukan analisis morfologi dan DNA. Hasilnya? Spesies ini memiliki perbedaan genetik setidaknya 2% dari spesies serupa, sehingga layak dikategorikan sebagai spesies baru. Penemuan ini menjadi babak baru dalam dunia biologi, mengungkap kekayaan biodiversitas Indonesia yang tak ada habisnya.

Studi ini mengungkap bahwa dusty crayfish memiliki perbedaan genetik hingga 2% dibandingkan dengan spesies terdekatnya, Cherax pulcher. Meski angka ini tampak kecil, dalam dunia taksonomi molekuler, perbedaan genetik sebesar 2% sudah cukup untuk menunjukkan bahwa dua spesimen berasal dari spesies yang berbeda.

Tak hanya itu, perbedaan yang lebih besar juga ditemukan ketika dusty crayfish dibandingkan dengan Cherax wagenknecht, yakni hingga 6,8%. Perbedaan genetik sebesar ini semakin menguatkan klaim bahwa dusty crayfish memang memiliki karakter unik yang membedakannya dari spesies lain dalam kelompoknya.

Untuk memastikan status spesies ini, para ilmuwan menggunakan pendekatan berbasis morfologi dan genetika. Pengamatan fisik dilakukan dengan meneliti berbagai karakteristik tubuh dusty crayfish.

Warna cangkangnya cenderung lebih gelap dibandingkan spesies lain dalam genusnya. Struktur capitnya juga lebih kokoh dengan ujung yang sedikit lebih runcing dibandingkan Cherax pulcher.

Selain itu, spesimen yang ditemukan menunjukkan ukuran tubuh yang lebih kecil dibandingkan spesies lainnya dalam kelompoknya. Setelah melakukan pengamatan morfologi, para peneliti kemudian mengekstrak DNA dari spesimen yang ditemukan dan membandingkannya dengan DNA dari spesies Cherax lainnya.

Analisis ini dilakukan menggunakan teknik barcoding DNA, yang berfokus pada perbedaan dalam gen mitokondria. Dengan teknik ini, para ilmuwan dapat mengidentifikasi perbedaan genetik yang menunjukkan hubungan filogenetik antara spesies yang berbeda, sehingga memastikan bahwa dusty crayfish merupakan spesies baru yang sah.nattasya

 

Tag:

Bagikan:

Trending

penandatanganan kerjasama
Siger PIK Unila Dorong Inovasi Riset Perikanan Berkelanjutan Untuk Ketahanan Pangan
ADV-SYAQUA-2.jpg
SyAqua Mengoptimalkan Kadar Protein Dalam Pakan Udang: Bukti dari Uji Komersial Multi-Tambak di Thailand
Patin siap fillet by TROBOS
Ketika Dapur MBG Memburu Daging Ikan  
Lele tanpa kepala dan jeroan mulai disukai pasar by Pribadi
Benih Seret, Pasokan Lele Tertekan
Fillet patin by TROBOS
Patin-Lele Siap, Distribusi Belum  
banner6
banner9
Scroll to Top