banner12 1
Iklan Web R

 Cemaran Radioaktif: Tantangan Baru?

Kolom Achmad Poernomo by dok Trobos

 

Oleh: Achmad Poernomo*

 

Industri perikanan Indonesia bulan lalu (Agustus 2025) dikejutkan oleh berita ditolaknya produk udang beku Indonesia oleh Otoritas Pengawasan Makanan dan Obat Amerika (USFDA = United States Food and Drug Administration) karena ditemukan cemaran radioaktif di udang beku yang diimpor dari Indonesia. Kasus ini bermula dari laporan Otoritas Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan Amerika (USCBP = US Customs & Border Protection) kepada USFDA mengenai terdeteksinya  Cs-137 dalam kontainer pengiriman di empat pelabuhan AS (Los Angeles, Houston, Savannah, dan Miami).  Produk tersebut diimpor dan dipasarkan oleh Walmart dengan merek lokal Great Value. USFDA kemudian mengambil lima jenis sampel dari produk yang berbeda untuk analisis radionuklida dan hasilnya mengonfirmasi adanya Cs-137 dalam satu sampel udang tepung roti beku (frozen breaded shrimp).

Jumlah yang terukur dalam sampel tersebut adalah 68.48 + 8.25 Bq/kg (Bq adalah satuan radioaktivitas), dan angka ini jauh lebih rendah dari batas yang diperbolehkan, yaitu 1.200 Bq/kg atau lebih rendah 1/17 kalinya. Cs-137 pernah terdeteksi pada udang yang berasal dari Samudra Pasifik akibat uji coba nuklir dan kecelakaan di masa lalu, namun tingkat deteksi rutinnya sekitar 100 kali lebih rendah dibandingkan dengan udang beku dari Indonesia tersebut.

Angka 68 Bq/kg itu sebenarnya sama dengan radioaktivitas yang terdeteksi di pisang. Namun yang membedakan adalah di pisang radioaktivitas tersebut  berasal dari Kalium-40 yang terjadi secara alami, sementara Cs-137 adalah produk sampingan buatan manusia dari fusi nuklir. Meskipun tingkat radiasi ini tidak berbahaya bagi manusia, penemuan ini memicu respons negative karena  konsentrasi Cs-137 sebesar ini tidak terdapat di udang.

Akibatnya, semua kontainer dan produk yang hasil tesnya positif atau menunjukkan tanda-tanda Cs-137 telah ditolak masuk ke negara ini. Meskipun pengujian hingga saat ini belum mengonfirmasi adanya kontaminasi pada produk yang beredar di pasaran, kesimpulan yang diambil adalah produk tersebut tampaknya telah diolah, dikemas, atau disimpan dalam kondisi tidak higienis sehingga mungkin terkontaminasi dengan Cs-137 dan dapat menimbulkan risiko keamanan.

Cs-137 adalah singkatan dari Cesium-137, sebuah isotop radioaktif yang dihasilkan dari fisi nuklir dalam reaktor dan senjata nuklir. Isotop ini digunakan dalam perangkat medis dan alat ukur industri, namun dapat menyebabkan luka bakar, penyakit radiasi akut, bahkan kematian jika terpapar dalam jumlah besar.

Cesium-137 dapat berpindah melalui udara, air, tanah, beton, dan tanaman , bahkan karena umur paruhnya panjang (sekitar 30 tahun),  Cs-137 masih bisa ditemukan di lingkungan akibat uji coba senjata nuklir dan pada pertengahan abad lalu serta kecelakaan reaktor nuklir (Chernobyl, Rusia pada 1986 atau Fukushima Daiichi, Jepang pada 2011). Sifatnya yang mudah larut dalam air menyebabkan Cs-137 menyebar dengan mudah di lingkungan dan dapat mengancam kesehatan.

Udang yang terdeteksi terpapar radioaktif di atas diproduksi oleh PT Bahari Makmur Sejati (BMS) di Kawasan Industri Modern Cikande, Serang, Banten. Tiga institusi telah bekerjasama di dalam menginvestigasi penyebab adanya Cs-137 di udang beku di atas, yaitu Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).  Hasil pengukuran laju paparan di area pabrik menunjukkan keberadaan kontaminasi Cs-137.

Bahkan ketika monitoring radiasi dilakukan di area yang lebih luas ditemukan adanya paparan radiasi yang signifikan di tempat pengumpulan besi bekas di kawasan tersebut. Perluasan monitoring di radius 2 km menemukan 2 sumber lain yang menunjukkan adanya laju dosis radiasi yang tinggi. Bapeten dan Polri telah memasang garis polisi sebagai langkah pengamanan sementara, sebelum dilakukan penanganan dan penyelidikan lebih lanjut . Sampai saat artikel ini ditulis, perkembangan penyelidikan masih belum dilaporkan.

 

Perlu Langkah Cepat

 

Menurut data KKP, Amerika Serikat merupakan pasar utama produk perikanan Indonesia. Pada 2024 pasar Amerika Serikat (AS) mencapai USD 1,90 miliar atau setara dengan 32,0% dari total nilai ekspor perikanan Indonesia. Lalu diikuti Tiongkok USD 1,24 miliar (20,9%), ASEAN USD 856,87 juta (14,4%), Jepang USD 598,75 juta (10,1%), dan Uni Eropa USD 414,36 juta (7,0%). Pada 2024 nilai ekspor udang Indonesia mencapai US$1,68 miliar dengan volume 214,58 ribu ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 63,7% diantaranya diekspor ke AS, kemudian diikuti Jepang dan China.

Sampai saat ini hanya udang dari PT BMS yang harus ditarik dan kita berharap permasalahan bisa dilokalisir di satu pabrik ini dan harus segera diatasi.  Jangan sampai satu kasus ini melebar ke komoditas lain atau bahkan kemudian dipersyaratkan melalui uji radioaktivitas dulu sebelum masuk Amerika. Bila ini terjadi tentu ini menjadi pukulan kedua bagi daya saing udang Indonesia di Amerika setelah terkena tarif 19%. Di pasar Amerika posisi udang Indonesia ada di peringkat tiga sesudah India dan Ekuador. Bila isu radioaktif ini berlanjut terus dan melebar ke eksportir udang lainnya, maka bisa dipastikan Indonesia akan menjauh dari peringkat sekarang.

Di dalam negeri, adanya kandungan Cs-137 telah menjadi isu liar yang mengakibatkan harga udang di tambak merosot, konon sampai 30%. Tentu hal ini tidak bisa dibiarkan berlangsung terus dan harus ada pernyataan dari pemerintah bahwa kandungan radioaktif tidak berasal dari bahan baku atau lingkungan tambaknya, tapi berasal dari lingkungan pabrik. Itupun terjadi hanya di satu kasus yaitu di Kawasan Industri Cikande, sehingga tidak seharusnya harga di tambak terpengaruh. Pemerintah harus berani menyatakan bahwa udang Indonesia dibudidayakan di tambak yang bebas radioaktif sehingga udang yang dihasilkannya pun bebas dari paparan radioaktif.

Kasus udang beku ekspor ini harus segera diselesaikan untuk mengembalikan kepercayaan pasar Amerika, dan juga konsumen dalam negeri. Pemerintah Indonesia harus sesegera mungkin menyampaikan kepada USFDA bahwa serangkaian investigasi telah dilakukan untuk mencari penyebabnya sekaligus melaporkan tindakan mitigasinya. Kita tahu, USFDA dalam hal ini tidak saja memerlukan laporan, namun yang terpenting adalah langkah nyata yang dilengkapi dengan data terpercaya.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 160/September – Oktober 2025

Tag:

Bagikan:

Trending

Bobby dok pribadi
Ikan Lokal, Momentum yang Butuh Komitmen
Banyak yang harus disiapkan untuk udang padat tebar tinggi by Dini
Kesiapan Hatchery untuk Prasyarat Padat Tebar Tinggi
Ikan budidaya (nila merah) by TROBOS
Ikan Berlimpah Jelang Lebaran
KKP kirim 1852 kontainer udang bersertifikat bebas Cesium ke AS dalam tiga bulan dok istimewa
Sebanyak 1.852 Kontainer Lolos Cesium-137
Copy of Kolaborasi masyarakat untuk mangrove dok istimewa
Kuatkan Kawasan Mangrove dan Kepiting Bakau di Lantebung
banner6
banner9
Scroll to Top

Tingkatkan Strategi Budidaya Anda! Baca Insight Terbaru di Trobos Aqua!