Tasikmalaya (TROBOSAQUA). Penurunan tarif bea masuk udang Indonesia di Amerika Serikat dari 32% menjadi 19% sempat memunculkan optimisme baru bagi pelaku usaha perudangan. Namun bagi Heri C Utomo, Direktur Utama PT Karyanesia Utama Jaya sekaligus petambak di Cikalong, Tasikmalaya, kebijakan ini justru seperti ‘pisau bermata dua’.
“Di satu sisi menggembirakan karena permintaan udang AS kembali naik, tapi di sisi lain ini bisa jadi jebakan jangka panjang yang membuat pasar kita tergantung pada AS,” ujarnya kepada TROBOS Aqua. Heri menyebutkan, sejak kebijakan tarif berlaku, permintaan dari eksportir dan pabrik turun hingga 30–40%. Dampaknya langsung terasa di tingkat tambak. Harga udang ukuran 100 yang semula berkisar Rp52 ribu per kilogram, kini hanya sekitar Rp44 ribu per kilogram.
“Tambak tetap berproduksi, tapi cuaca kemarau basah ikut memperburuk kondisi. Banyak tambak kesulitan menjaga kualitas air, sementara harga di pasar juga terus tertekan,” ungkapnya.

Dengan harga yang nyaris menyentuh biaya produksi, yakni di bawah Rp35 ribu per kilogram rencana ekspansi usaha pun harus ditunda. Petambak kini lebih berhati-hati, menerapkan padat tebar lebih rendah agar efisiensi tetap terjaga.
Menurut Heri, dukungan pemerintah dan asosiasi menjadi kunci di tengah situasi sulit ini. Pemerintah diharapkan bisa menjaga citra udang Indonesia tetap aman di pasar global, sementara asosiasi diharapkan aktif mencari pasar alternatif seperti Tiongkok, Timur Tengah, dan Eropa.
“Yang paling petambak butuhkan sekarang adalah jaminan harga yang stabil. Budidaya udang itu berisiko tinggi, jadi kalau harga terlalu fluktuatif, sulit bagi kami untuk menentukan strategi produksi,” tegasnya sore itu.
Ia menilai penguatan pasar domestik bisa menjadi jalan keluar yang realistis. Heri bahkan mengusulkan kampanye nasional seperti Gerakan Makan Udang atau memasukkan menu udang dalam program ‘Makan Bergizi Gratis’ agar konsumsi di dalam negeri meningkat.
“Badai ini pasti bisa kita lewati. Yang penting semua pemangku kepentingan bisa duduk bersama mencari solusi nyata agar petambak bisa tersenyum lagi,” pungkasnya optimistis.dian/dini/edt



