Budidaya patin sudah berkembang di kawasan Sumatera, Kalsel dan Jawa (khususnya Jawa Timur). Patin umumnya dibudidaya masyarakat di keramba jaring apung (KJA), kolam dalam, kolam beton, bahkan di kolam terpal.
Pembudidaya patin sudah menerapkan cara budidaya ikan yang baik (CBIB). Bagi mereka, perihal produksi sampai kebutuhan pakan tidak ada masalah mendasar. Para pembudidaya ada yang memanfaatkan pakan pabrikan dan ada juga yang memadukan dengan pakan mandiri berbahan baku lokal, untuk menekan cost produksi.
Ketua Dewan Penasehat Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI) dan juga Ketua Umum Kerapu (Keluarga Alumni Perikanan Budidaya Undip), Imza Hermawan mengungkapkan, usaha budidaya patin pada 2025 masih prospektif. Usaha budidaya patin cakupan pasarnya luas. Khususnya, untuk pasar dalam negeri dengan penduduk 270 juta jiwa, potensinya cukup besar. Sedangkan untuk pasar ekspor pun masih terbuka untuk fillet patin.
Budidaya patin tak hanya berkembang di Jawa, khususnya Jawa Timur (Jatim). Tapi, sudah meluas hingga ke Sumatera dan Kalimantan, yaitu Kalimantan Selatan(Kalsel). Bahkan, sebanyak 60 persen produksi patin nasional dihasilkan dari Sumatera dan Kalimantan.
Sebaran budidaya patin di Sumatera, umumnya terdapat di Sumatera Selatan, seperti di di Oku Timur, Musi Banyuasin, dan Lampung (Lampung Timur). Di Jawa, khususnya di Jatim (Tulungagung), dan di Kalimantan Selatan, khususnya di Banjarbaru. Sedangkan di Riau, banyak dikembangkan di Kabupaten Kampar. Di Sumatera Utara, berkembang di Deli Serdang. Data APCI menyebutkan, ada sekitar 400 pembudidaya patin yang tersebar di tanah air.
Menurut Imza, pembudidaya patin tak selamanya harus terintegrasi dengan pabrik pengolahan ikan (fillet). Sebab, di kawasan Kalimantan dan Sumatera, masyarakat sudah lebih dahulu mengenal patin dari perairan (sungai) di sekitarnya, sehingga lebih mudah untuk sosialisasinya . Tak mengherankan patin di kawasan Sumatera dan Kalimantan (Kalsel) sudah dijadikan konsumsi harian masyarakat. Komoditas yang satu ini sudah banyak dijual di pasar, rumah makan hingga restoran.
Beda dengan di Jawa. Masyarakat di Jawa lebih mengenal lele dibanding patin. Sehingga, produk patin di Jawa lebih diarahkan untuk dijadikan olahan berupa fillet patin.
Untungnya, di Jawa, khususnya Jatim banyak pabrik pengolahan ikan, sehingga banyak pembudidaya patin sudah menjalin kerjasama dengan pabrikan. Jika belum melakukan kerjasama, mereka bisa menjual patin ukuran fillet ke pengepul, yang selanjutnya dijual ke pabrik pengolahan ikan.
Ekspor Fillet Patin
Imza Hermawan mengatakan, dari 2021 sampai sekarang, usaha budidaya patin terus berkembang, khususnya untuk fillet patin. Di industri skala kecil saja, produksi fillet patin bisa mencapai 15 ton per hari.
Pasarnya pun bisa dibilang sudah terbentuk, mulai dari rumah tangga, warung makan, hotel, restoran, dan kafe (horeka). Bahkan, untuk fillet patin sudah merambah pasar ekspor.
Menurutnya, pada 2020 lalu sudah ekspor fillet patin ke Arab Saudi. Pada saat itu, volume ekspor sebanyak 250 ton. Namun, setelah covid 19 ekspor Arab Saudi terhenti, karena terbentur aturan baru.
Imza mengatakan, khusus untuk ekspor fillet patin harus dilakukan upaya lagi dan pemerintah harus ikut campur tangan. Hal itu dikarenakan, pasca covid 19, ada syarat tertentu dari lembaga berwenang di Arab Saudi mewajibkan prose ketelusuran.
Artinya, barang yang akan diekspor harus dilihat dulu. Dalam proses traceability, ada ketentuan untuk biaya audit sebesar 29 ribu real.
“Prospek ekspornya masih terbuka dan saat ini harus digali lagi. Sebab, kalau mengandalkan pasar dalam negeri, usaha budidaya patin akan stagnan, pertumbuhannya lamban. Harus ada upaya pemerintah untuk mengembangkan ekspor fillet patin,” jelasnya.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 152/Januari – Februari 2025



