Bogor (TROBOSAQUA). Pusat Riset Budidaya Laut (PRBL) di bawah Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi bioflok sebagai solusi budidaya yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Artikel ini dilansir dari laman resmi Badan Riset dan Inovasi Nasional
Bioteknologi ini memanfaatkan bakteri menguntungkan. I Ketut Sugama, peneliti PRBL BRIN, menjelaskan, bakteri tersebut berfungsi mengikat sisa pakan, feses udang, dan senyawa beracun seperti amonia menjadi gumpalan mikroorganisme atau flok. Flok ini kemudian dapat dimanfaatkan kembali oleh udang sebagai sumber pakan alami, sehingga limbah tambak justru menjadi bagian dari siklus nutrisi.
Penerapan bioflok memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas kualitas air, menurunkan kebutuhan pergantian air, serta menekan biaya pakan yang selama ini menjadi komponen terbesar dalam struktur biaya produksi. Dengan pengelolaan yang tepat, sistem ini mampu meningkatkan efisiensi budidaya sekaligus mengurangi beban lingkungan tambak.

Hasil riset lapangan PRBL BRIN di Bali, Jawa Timur, dan Banten menunjukkan performa yang menjanjikan. Melengkapi, I Gusti Ngurah Permana, periset PRBL BRIN, menyebutkan, produktivitas tambak bioflok dapat mencapai 15-50 ton per hektare per siklus, dengan tingkat kelangsungan hidup udang hingga 98% dan rasio konversi pakan (FCR) yang relatif rendah, berkisar antara 0,9-1,2.
Selain produktivitas, manajemen panen juga berperan penting. Haryanti, periset PRBL BRIN, menuturkan, penerapan panen parsial memberi ruang tumbuh yang lebih optimal bagi udang yang tersisa, menghasilkan ukuran panen yang lebih seragam dan bernilai jual lebih tinggi. Di sisi lain, komunitas mikroorganisme pembentuk flok menunjukkan biodiversitas yang baik dan tidak bersifat toksik.
Meski demikian, para periset menegaskan bahwa keberhasilan bioflok sangat ditentukan oleh manajemen tambak. I Ketut Mahardika, periset PRBL BRIN, menekankan pentingnya komposisi bakteri dan plankton yang seimbang. Dominasi bakteri menguntungkan seperti Bacillus dapat mendukung kinerja sistem, sementara bakteri Vibrio perlu dikendalikan. Melalui penerapan standar prosedur baku dan disiplin berbasis sains, teknologi bioflok diyakini menjadi fondasi kuat menuju budidaya udang Indonesia yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.ist/dian/edt



