banner12 1
Iklan Web R

Berharap Udang Pulih, Petambak Kembali Sugih

Istimewa

 

 

Di penghujung 2024, iklim budidaya udang di tanah air membaik setelah ‘berdarah-darah’ sejak beberapa tahun sebelumnya.

 

Penyakit udang berangsur teratasi dan harga bergerak naik sehingga diharapkan tahun ini kondisinya lebih baik. Terutama di Jawa dan Sumatera, termasuk Lampung kondisi budidaya udang sepanjang 2024 berfluktuasi alias naik turun yang disebabkan oleh wabah penyakit yang didominasi AHPND. Lalu makin kuat dugaan bahwa penyakit juga disebabkan berfluktuasinya mutu pakan dan benur.

Sebagaimana diakui Andi Prasetya, Ketua South Coast Shrimp Association (SCSA), tiga tahun terakhir budidaya udang di daerahnya mengalami stagnasi. Bahkan banyak tambak Pantai Selatan (Pansela) Yogyakarta, Jawa Tengah dan sebagian Jawa Barat yang berhenti menebar benur.

Kini  petambak Pansela (Pantai Selatan Jawa) bertekad bangkit lagi. “Tahun 2025 kita nambak lagi,” ucap Andi Prasetya saat memberikan sambutan pada peresmian organisasinya di Novotel Yogyakarta International Airport pada (21/1). Pada acara yang diisi dengan seminar teknis ‘Optimisme Budidaya Udang di Wilayah Pantai Selatan’ Andi mengungkapkan, SCSA diinisiasi petambak muda Pansela yang terpanggil untuk memperjuangkan kebangkitan tambak udang pantai selatan yang mengalami degradasi sejak tiga tahun terakhir.

Begitu pula di Lampung, menurut Ali Kuku, Ketua Shrimp Club Lampung (SCL), secara umum kondisi budidaya udang di daerah ini kurang baik dibandingkan dengan daerah lain, seperti di Sumbawa, Indonesia Timur, Banyuwangi, Jawa Timur dan di Bengkulu. Lantas di penghujung 2024, mulai muncul harapan baru.

Harga udang cenderung membaik sehingga bisa menutupi biaya produksi. “Kenaikan tersebut juga memotivasi petambak untuk bangkit. Namun tidak sampai ekspansi karena tambak yang eksisting saja masih banyak yang tidak beroperasi penuh,” ujar Ali di Bandarlampung-Lampung, pekan lalu.

Pada tahun ini, lanjutnya, petambak belum sepenuhnya yakin kondisi akan baik sehingga budidaya dijalankan bertahap sambil melihat perkembangan. Termasuk mengenai pergerakan harga udang. Maklum sepanjang tahun 2024 petambak sering gagal sehingga modal kerja terkuras.

“Artinya petambak mencari selamat, karena harga pakan juga mengalami kenaikan meski tipis. Tapi karena pakan menjadi komponen terbesar dalam struktur biaya produksi maka sekecil apapun kenaikannya dampaknya cukup signifikan,” sambungnya.

 

Membaik

Teguh Setiyono, Ketua Paguyuban Akuakultur Kaur, Provinsi Bengkulu juga mengakui kondisi budidaya udang di pantai barat Sumatera, khususnya di Bintuhan dan Kaur sekitarnya mulai membaik. Umumnya petambak sudah panen size 70 ke bawah. Serangan penyakit AHPND sudah mulai berkurang. Bagi yang masih ada serangan AHPND, rata-rata serangannya di atas usia 30 hari ke atas.

“Sudah ada pembenahan teknis budidaya dengan belajar dari kasus-kasus penyakit pada siklus-siklus sebelumnya. Panen mulai naik, bahkan ada yang sudah mencapai 40 ton/ha. Teknologi, terutama autofeeder dan sensor mulai banyak digunakan. IPAL mulai dijalankan, beberapa tambak sudah membangun IPAL 10 hingga 30 % dari luasan tambak. Lalu kepadatan tebar benur juga mulai ditingkatkan menjadi sekitar 200 ekor/m2,” ungkapnya ketika dihubungi, pekan lalu.

 

Ketika kondisi budidaya mulai membaik, lanjut Teguh yang sehari-hari Manajer Budidaya PT Dua Putra Pratama, Bintuhan, Kabupaten Kaur, mulai banyak tambak mandiri dibandingkan dengan pendampingan. Adapun yang masih menjadi kendala, Teguh mengatakan, adalah mutu benur tidak stabil. Kalau pakan sudah steril, meski ada pihak-pihak yang meragukannya. Teguh sendiri untuk fase 40 hari pertama menggunakan pakan protein 38 % dan selanjutnya 35-36 %.

Kecuali itu, lanjut Teguh, yang masih dikeluhkan petambak adalah harga jual udang yang belum pulih sepenuhnya. Untuk udang size 70 masih Rp60 ribu/kg sehingga keuntungan belum mencapai angka yang diinginkan. Sebab dalam kondisi normal keuntungan budidaya udang berkisar antara 30 hingga 40 %, sementara sekarang baru berkisar 20-25 %. Apalagi harga pakan terus naik, saat ini berkisar antara Rp12 ribu hingga Rp17 ribu/kg.

Banyaknya tambak mangkrak sepanjang 2024, diakui Teguh, memperlambat kenaikan TOM perairan di daerahnya. Kondisi perairan tidak banyak berubah, TOM masih 60-80. “Hal itu mungkin disebabkan karena banyak tambak yang tidak beroperasi,” tambahnya.

 

Efisiensi

Sementara Agusri Syarief, Ketua Ikatan Petambak Pesisir Barat Sumatera (IPPBS), meski secara umum budidaya udang yang dijalankannya berjalan baik, namun ia tetap menjalankan efisiensi guna menekan biaya produksi agar tetap meraih keuntungan. Caranya dengan melakukan efisiensi pemakaian obat-obatan dan saprotam. Yang masih banyak digunakan adalah probiotik, sementara kapur, dolomit, zeolit, molase dan lain-lain ditekan karena tambak sudah konstruksi HPDE dan semen.

Beda jika tambak tanah di lahan gambut yang harus banyak menggunakan kapur dan lain-lain. Menurut petambak senior ini, jika menggunakan banyak obat-obatan dan mineral HPP udang sekitar Rp55 ribu, sementara dengan dihemat maka HPP bisa di bawah Rp50 ribu/kg udang.

Di samping itu, Agusri yang memiliki tambak di Kalianda, Lampung Selatan; Pesawaran dan Lemong, Pesisir Barat tersebut menjalankan budidaya dengan kepadatan tebar tinggi agar dapat untung guna mengimbangi harga pakan dan saprotam yang terus naik, sementara harga udang rendah. Bahkan di Lemong kepadatan tebar benurnya mencapai 350 ekor/m2 dengan kedalaman air tambak 2,6 meter.

Diakui Agusri, kedalaman air 2,6 meter juga sangat membantu menstabilkan suhu air tambak pada musim kemarau. Sebab jika suhu air di atas 30 derajat Celcius maka udang stres. Untuk tambak konstruksi HDPE kedalaman air minimal 2 meter, bahkan jika sampai 3 meter, suhu air lebih stabil dan bisa tebar benur dengan kepadatan di atas 300 ekor/m2.

Dengan metode tersebut baru bisa dicapai panen tinggi sehingga bisa menutupi biaya produksi. Di mana pada panen terakhir tambaknya di Pesawaran mencapai 52 ton/ha dengan kepadatan tebar di atas 300 ekor/m2.

Menurut Agusri, pada 2024 merupakan tahun terburuk produksi udang nasional. “Saya perkirakan tahun lalu produksi udang nasional hanya 30 % dari produksi normal tahun-tahun sebelumnya. Penyebabnya serangan penyakit dan anjloknya harga udang. Tahun ini harga udang belum begitu membaik, meski serangan penyakit berangsur bisa diatasi. Itu bisa dicapai jika dilakukan perubahan dalam pola budidaya,” lanjutnya.

Terutama, sambungnya, dalam hal meminimalisasi zat-zat organik di dalam kolam budidaya. “Selain rutin ganti air, sifon dan buka central lebih sering, juga dilakukan pembersihan klekap di permukaan air secara manual oleh ibu-ibu. Klekap tersebut adalah plankton mati sehingga yang namanya bangkai pasti menjadi racun bagi udang. Daripada membeli obat-obatan lebih baik mempekerjakan warga sekitar sehingga mereka mendapat pendapatan tetap,” ia beralasan.

elengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 153/Februari – Maret 2025

Tag:

Bagikan:

Trending

Budidaya nila dok trobos
Imbauan Pembudidaya Antisipasi El Nino
Pemaparan Ria Veriani by Istimewa
 Dari Diklat ke Ekosistem Pembelajaran ASN
By Istimewa
Nyamankan Benur untuk Padat Tebar Tinggi
Belida by KKP
Ikan Lokal Tertinggal di Negeri Sendiri  
Hasil panen udang dok trobos
Film Komposit Kitosan/CMC Pertahankan Kualitas Vannamei
banner6
banner9
Scroll to Top

Tingkatkan Strategi Budidaya Anda! Baca Insight Terbaru di Trobos Aqua!