Oleh: drh Granita Khanaria*
Francisella merupakan ancaman serius bagi pembudidaya ikan nila. Bakteri ini dapat menginfeksi ikan sejak tahap larva hingga dewasa, dan menyebabkan kematian massal dengan tingkat mortalitas mencapai 50–90% dari total populasi di kolam. Risiko kematian bahkan dapat meningkat jika suhu air turun di bawah 25°C.
Berbeda dengan infeksi bakteri lainnya yang sering menimbulkan luka atau borok pada permukaan tubuh, Francisella justru menyerang diam-diam menyerang organ dalam ikan tanpa meninggalkan tanda luar yang mencolok.
Ketika ikan dibedah, nodul-nodul putih kerap ditemukan pada limpa dan ginjal. Namun sebenarnya, nodul tersebut tidak terbatas pada dua organ itu saja. Karena banyak organ ikan nila secara alami berwarna putih atau cokelat pucat, keberadaan nodul putih ini kerap tersamarkan dan luput dari pengamatan.
Sebagai analis histopatologi penyakit ikan, penulis sering menemukan bahwa infeksi Francisella memicu terbentuknya radang granuloma yang tersebar di berbagai organ. Mulai dari limpa, ginjal, hati, usus, lambung, mata, hingga insang.
Granuloma merupakan bentuk peradangan kronis yang ditandai oleh kumpulan sel-sel radang, seperti makrofag dan limfosit, yang mengelilingi area jaringan nekrotik dan agen infeksi serta sering kali dibatasi oleh jaringan ikat, membentuk struktur menyerupai lingkaran. Reaksi ini merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk ‘mengisolasi’ agen infeksi atau benda asing yang sulit dihancurkan dan mencegahnya menyebar ke jaringan sehat lainnya.
Radang granuloma pada ikan yang terinfeksi Francisella tampak sebagai nodul putih pada limpa dan ginjal, dua organ utama dalam sistem imun ikan. Menurut penulis, kerusakan pada organ-organ ini dapat menyebabkan penurunan fungsi sistem kekebalan tubuh, sehingga membuat ikan menjadi lebih rentan terhadap infeksi penyakit lain. Beberapa kasus yang sering penulis temui, ikan yang mengalami infeksi Francisella juga terinfeksi Iridovirus.
Melihat kenyataan bahwa sebagian ikan tetap mampu bertahan hidup meskipun mengalami infeksi, penulis berhipotesis bahwa nila memiliki bentuk adaptasi imun atau metabolik tertentu yang memungkinkan mereka bertahan dalam kondisi kronis semacam ini.
Menurut penulis, sangatlah penting pemahaman lebih dalam mengenai mekanisme ketahanan ini. Terutama, dalam upaya mengembangkan strategi pengendalian penyakit yang lebih efektif, baik dari sisi deteksi dini, penerapan biosekuriti, maupun intervensi pengobatan yang lebih tepat sasaran.
*Analyst Histopathology, PT Central Proteina Prima



