Ahmad Syihabuddin, pria kelahiran Maret 1979 asal Kediri-Jawa Timur (Jatim) dikenal sebagai sosok berpengalaman di industri perunggasan, khususnya ayam petelur. Selama lebih dari dua dekade, ia membangun reputasi di sektor tersebut sebelum akhirnya melebarkan sayap ke dunia perikanan.
Sejak 2021, ia mengembangkan Kilang Tilapia, sebuah inovasi budidaya nila premium yang mengusung konsep water chicken. Konsep ini berupa kandang ayam di atas kolam lele untuk menciptakan ekosistem yang lebih efisien dan berkelanjutan.
“Lele di sini bukan untuk dibudidayakan, melainkan membantu mengurai amonia,” jelas Syihab-begitu sapaan akrabnya. Sementara itu, nila dibesarkan secara terpisah dengan sistem khusus untuk menjaga kualitas pertumbuhan.
Keputusannya merambah ke budidaya nila bukan tanpa alasan. Menurutnya, nila memiliki potensi pasar yang luas.
“Hampir semua orang dari berbagai kelas ekonomi suka makan nila. Dari segi keuntungan, nila juga menjanjikan. Margin keuntungan nila bisa mencapai Rp 10 ribu per kg loh,” kata Syihab, lelaki yang sedari dulu gemar memelihara ikan. Selain itu, nila juga masuk kategori hemat pakan karena cenderung mengonsumsi bahan nabati dibanding protein hewani yang lebih mahal.
Fokus pada Nila Sumber Derajat
Pemilihan Kediri sebagai lokasi budidaya juga bukan tanpa alasan. “Di sini lokasi saya tinggal, selain itu di sini ada supplier (penyuplai) bibit nila terbesar di Indonesia,” ujar bapak dua putri itu saat ditemui TROBOS Aqua pada 11 Februari lalu.
Kilang Tilapia fokus pada segmen pembesaran dengan menggunakan strain nila Sumber Derajat yang saat ini sudah generasi kelima (D5). “Indukan nila biasanya dipakai selama 84 minggu sebelum masuk kategori afkir,” jelas alumni SMKN 1 Kota Kediri itu.
Untuk pembenihan, Kilang Tilapia bermitra dengan Pokdakan (kelompok pembudidaya ikan) Sumber Derajat. “Kami membeli benih dalam satuan kilogram. Untuk kolam bulat, kami pesan yang gelondong, yaitu 1 kg berisi 100-150 ekor seharga Rp40 ribu,” ungkap Syihab. Dari ukuran gelondong hingga panen (1 kg berisi 4 ekor), prosesnya memakan waktu sekitar 3,5 hingga 4 bulan; dengan pakan berkadar protein 28% agar hasil optimal.
Meski masih terbilang baru, Kilang Tilapia kini mengelola 115 kolam di dua lokasi. Syihab menerangkan, satu orang bisa menangani hingga 30 kolam karena tugas utamanya hanya memberi pakan. “Untuk urusan teknis, kami punya tim tersendiri,” terang Syihab saat ditemui di kawasan Transyogi Cibubur-Jawa Barat.
Pasar dan Branding Nila Premium
Sekitar 90% nila yang dibudidayakan di Kilang Tilapia adalah nila hitam. Bapak dua putri itu memasarkan ikannya melalui tengkulak dengan harga jual bervariasi sesuai ukuran.
“Kalau ukuran besar (sekilo isi dua ekor), kami jual Rp28.500 per kg. Untuk ukuran 3-4 ekor per kg, harganya Rp26.500-Rp27 ribu per kg. Sementara all size kami lepas di harga Rp26 ribu per kg,” tuturnya.
Harga nila dari Kilang Tilapia lebih tinggi dibanding daerah lain, karena Syihab menegaskan kualitasnya yang sebanding harga. “Kami jaga kualitasnya, jadi tidak bau tanah dan dagingnya lebih tebal,” ujarnya. Di beberapa daerah Jatim, harga nila bisa turun hingga Rp 8 ribu per kg karena minimnya quality control, sertifikasi CBIB/CPIB, dan sortir ukuran.
Syihab juga fokus pada branding. Salah satu strateginya adalah melalui acara seperti Ageng-Angenan Nila, yang menjadi ajang promosi nila premium. “Kami tidak menjelekkan metode siapa pun, tapi kalau ingin nila punya harga jual tinggi, ya budidayanya harus sesuai standar dan branding-nya diperkuat,” tegas pria yang memiliki farm di Desa Susuh Bango, Kecamatan RIngin Rejo, Kabupaten Kediri itu.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 153/Februari – Maret 2025



