Oleh: Hasanuddin Atjo*
Mutu benur, sistem budidaya dan lingkungan menjadi faktor utama keberhasilan produksi budidaya udang. Ketiga faktor ini harus dimaksimalkan agar memberi hasil produksi sesuai dengan harapan. Kemarau basah satu fenomena perubahan iklim, menyebabkan curah hujan tetap tinggi (diatas 100 mm per bulan), meskipun telah masuk musim kemarau, yang normalnya berlangsung dari April hingga September. Dan puncaknya pada Agustus setiap tahunnya.
Tahun 2025, kemarau basah kembali melanda Indonesia, diprediksi berlangsung hingga september. Sebelumnya negeri tropis ini juga mengalami hal serupa yaitu pada 2010, 2013, 2016, 2020, 2023, dan 2024 (sumber: BMKG). Tiga tahun terakhir Indonesia mengalami kemarau basah secara berturut-turut, yaitu pada 2023, 2024 dan tahun 2025. Kondisi seperti ini disinyalir bisa berdampak pada produksi udang budidaya dan hasil tangkapan laut.
Data ekspor udang dinilai bisa menjadi salah satu pendekatan untuk menjawab sinyalamen itu. Pada 2022 ekspor udang Indonesia sebesar 231.413 ton, kemudian 2023 turun agak tajam menjadi 209.066 ton.
Pada 2024 ekspor udang kembali turun menjadi 202.464 ton. Pada 2025 ekspor udang Indonesia diprediksi akan turun lagi dan diperkirakan tidak lebih dari angka 200.000 ton. Kemarau basah menyebabkan waktu mengeringkan tambak tambak udang, memutus siklus penyakit dipastikan berkurang.
Temperatur udara dan salinitas perairan cenderung rendah. Kelimpahan protozoa, virus dan bakteri di perairan cenderung meningkat antara lain karena suplai bahan organik daratan yang tinggi.
Secara akumulasi kondisi ini tentunya akan meningkatkan serangan penyakit. Hingga dengan akhir Juni 2025 dikabarkan, pada sejumlah sentra produksi banyak panen udang berukuran kecil, karena kasus serangan penyakit.
Penyakit yang dominan antara lain Acute Hepatopancreatic Necrosis Diseases (APHND), Enterocytozoon hepatopenaei (EHP), White Feces Diseases (WFD), White Spote Syndrom Virus (WSSV) serta penyakit virus lainnya.
Jeremy Kevin dari Kalimantan Fishery, Kalimantan Selatan memberi informasi (5 Juli 2025) bahwa suplai udang tangkapan di laut menurun drastis. Diduga terkait dengan perubahan iklim yang salah satunya disebabkan karena kemarau basah yang berkepanjangan.
Sebelumnya pabrik prosesing udang laut ukuran kecil (size 200-300 head on) yang padat karya dan diekspor ke Jepang, dalam sehari bisa memproses udang kupas mencapai 3 ton bahkan lebih karena bahan baku yang melimpah.



