Jakarta (TROBOSAQUA). Prof Andi Tamsil, Ketua Shrimp Club Indonesia mengungkapkan, SCI terus mengupayakan pendampingan perizinan bagi petambak udang. Bahkan SCI aktif mengadvokasi persoalan yang menekan petambak, termasuk isu akses pasar serta petisi anti subsidi & anti dumping. SCI juga rutin menyelenggarakan seminar dan pameran yang berfokus pada informasi teknis dan teknologi terbaru di bidang budidaya udang.
Penguatan SDM dilakukan melalui pelatihan analisa laboratorium bekerja sama dengan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya di Probolinggo-Jawa Timur. Dalam materi yang ia sampaikan pada acara Farmers Learning Club, pentingnya sinkronisasi antara kebutuhan industri dan kurikulum pendidikan, serta kebutuhan teknisi tambak yang berkualitas dan pengusaha mau yang siap. SCI mendorong agar petambak udan semakin akrab dengan aplikasi teknologi dan menggunakan pendekatan ilmiah.
Di sisi pemerintah, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, TB Haeru Rahayu dalam siaran persnya, meminta bantuan dari pelaku industri udang, untuk memastikan pelaku industri udang telah benar-benar menerapkan protokol budi daya atau Good Aquaculture Practice. Agar dapat dijadikan bukti atas argumentasi pada adu lobi di level birokrasi.

Dia pun mengklaim siap mendampingi peningkatan kapasitas pembudidaya melalui pelatihan, diseminasi teknologi ramah lingkungan dan biosekuriti. Untuk menjamin kualitas udang sejak awal siklus produksi, sesuai dengan standar internasional.
Pada level sarana produksi, Tebe mengaku telah menghasilkan induk udang unggul sehingga tak perlu lagi impor. “Kami telah mengembangkan induk udang lokal bernama ‘nusa dewa’ melalui Balai di Karangasem-Bali. Ini menjadi bukti nyata bahwa kita mampu menghasilkan produk unggul buatan Indonesia. Sudah saatnya kita bangga dengan karya anak bangsa,” tegas Tebe.ntr/dini/edt



