Sragen (TROBOSAQUA). Aquascape mulai diperkenalkan sebagai salah satu keterampilan di bidang perikanan yang berpotensi dikembangkan menjadi peluang usaha bagi masyarakat. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Iptek bagi Desa Binaan Universitas Diponegoro (IDBU) 42 yang digelar di Sragen pada 16 Juli 2026, masyarakat, khususnya anggota karang taruna, mendapatkan pembekalan mengenai penataan ekosistem tanaman air dalam akuarium, teknik perawatan, hingga prospek bisnis di sektor aquascape.
Kegiatan yang dilaksanakan di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan, Cahya Setya Utama, tersebut bertujuan memperluas wawasan masyarakat mengenai ragam potensi usaha di sektor perikanan yang tidak hanya terbatas pada budidaya ikan konsumsi.
Mahasiswa Program Studi Akuakultur Universitas Diponegoro, Muhamad Syafrodin, menjelaskan bahwa aquascape dipilih karena masih relatif jarang diperkenalkan kepada masyarakat, padahal memiliki potensi ekonomi yang cukup besar dan dapat dipelajari dengan lebih mudah.
“Dibandingkan usaha budidaya yang umumnya membutuhkan lahan, modal, dan pemeliharaan yang lebih intensif, aquascape dapat dipelajari melalui konsep dasar yang lebih sederhana dan mudah dipraktikkan,” ujarnya.

Menurut Syafrodin, pengenalan aquascape juga menjadi sarana untuk menunjukkan bahwa sektor perikanan tidak hanya berkaitan dengan produksi ikan konsumsi, tetapi juga mencakup industri ikan hias dan sektor kreatif yang memiliki nilai ekonomi.
Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh berbagai materi, mulai dari pengenalan konsep aquascape, fungsi tanaman air dan hardscape, teknik dasar penyusunan, pemilihan jenis tanaman, hingga metode perawatan. Tim mahasiswa KKN juga mendemonstrasikan pembuatan mini aquascape menggunakan galon bekas sebagai media pembelajaran.
Pemanfaatan galon bekas dipilih untuk memberikan contoh praktik yang sederhana dan mudah diterapkan masyarakat sebelum dikembangkan menggunakan media akuarium yang lebih profesional.
Dari sisi bisnis, Syafrodin menilai jasa pembuatan aquascape, budidaya ikan hias, serta penjualan berbagai perlengkapan pendukung menjadi peluang usaha yang cukup menjanjikan dan dapat dimulai dengan modal yang relatif terjangkau.
“Peluang usaha yang paling realistis adalah jasa pembuatan aquascape serta budidaya dan penjualan ikan hias. Usaha tersebut dapat dimulai secara bertahap karena tidak membutuhkan modal yang terlalu besar,” jelasnya.
Selain itu, peluang usaha juga terbuka melalui penyediaan jasa pembuatan aquascape untuk rumah, perkantoran, dan kafe, serta penjualan tanaman air dan berbagai perlengkapan pendukung lainnya.
Syafrodin berharap kegiatan tersebut dapat menjadi langkah awal dalam meningkatkan kreativitas dan keterampilan masyarakat di bidang aquascape. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan tidak hanya dapat diterapkan untuk membuat aquascape secara mandiri, tetapi juga mendorong tumbuhnya minat masyarakat terhadap sektor ikan hias dan usaha kreatif berbasis perikanan.
Program tersebut merupakan bagian dari implementasi Iptek bagi Desa Binaan Universitas Diponegoro (IDBU) yang mendukung sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), di antaranya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDG 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan, serta SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab melalui pemanfaatan kembali galon bekas sebagai media demonstrasi.
Sementara itu, Koordinator Desa KKN, Bintang, mengatakan antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan selama kegiatan berlangsung, mulai dari teknik pembuatan, pemilihan tanaman, hingga cara perawatan aquascape.
“Beberapa peserta menyampaikan ketertarikannya untuk mencoba membuat aquascape secara mandiri di rumah,” ujarnya.dian



