Tangerang (TROBOSAQUA). Fluktuasi harga dan pasokan bahan baku masih menjadi tantangan utama bagi industri pakan ikan dan udang nasional. Pelemahan nilai tukar rupiah, tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor, serta perubahan dinamika pasar global mendorong pelaku industri pakan (feedmill) untuk menyusun formulasi yang lebih fleksibel tanpa mengorbankan kualitas maupun efisiensi produksi.
Isu tersebut menjadi fokus pembahasan dalam AquaDigest 2026 yang diselenggarakan Adisseo Indonesia bersama Minapoli di Tangerang, Senin (4/8/2026). Kegiatan ini diikuti lebih dari 30 peserta yang berasal dari kalangan ahli nutrisi, formulator, tim pengadaan, hingga peneliti dan pengembang industri pakan ikan dan udang.
Forum tersebut membahas berbagai tantangan terkait ketersediaan bahan baku, strategi formulasi pakan, hingga upaya meningkatkan efisiensi pemanfaatan nutrien di tengah ketidakpastian pasar global.
Country Manager Adisseo Indonesia, Akhmad Fuadi, mengatakan AquaDigest 2026 menjadi wadah diskusi untuk mencari solusi dan peluang dalam menjaga keberlanjutan industri pakan di tengah tekanan harga bahan baku, dinamika geopolitik, dan gangguan rantai pasok internasional.
“Kami menghadirkan para narasumber yang ahli di bidangnya untuk bersama-sama mencari peluang dan menjaga keberlanjutan industri di tengah fluktuasi harga, tantangan geopolitik, serta gangguan supply chain, sehingga industri tetap dapat beroperasi secara efisien,” jelasnya.

Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Tevi Melviana, turut menyoroti tekanan yang saat ini dihadapi industri pakan nasional. Menurutnya, perubahan kondisi ekonomi global telah memengaruhi stabilitas pasokan bahan baku dan biaya produksi.
Andhi Trapsilo dari Badan Pengurus GPMT Bidang Pakan Akuakultur menjelaskan, ketergantungan industri pakan terhadap tepung ikan dan minyak ikan impor membuat biaya produksi sangat sensitif terhadap pelemahan nilai tukar rupiah. Ia memperkirakan kurs dolar AS yang mendekati Rp18 ribu per dolar dapat meningkatkan harga bahan baku pakan sekitar Rp100 hingga Rp200 per kilogram.
Menurut Andhi, pemanfaatan bahan baku lokal dapat menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan impor, asalkan kualitas dan kontinuitas pasokannya mampu memenuhi kebutuhan industri.
“Kalau ada bahan baku lokal yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan feedmill, kami tentu sangat terbuka. Namun, kualitas dan kepastian pasokannya juga harus terjamin,” katanya.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Dedi Jusadi, menuturkan bahwa meningkatnya penggunaan protein nabati sebagai pengganti bahan baku protein hewani juga menghadirkan tantangan tersendiri.
Menurutnya, sebagian besar bahan baku nabati masih mengandung anti-nutritional factor (ANF) dan serat kasar yang dapat menghambat proses pencernaan dan penyerapan nutrien, meningkatkan beban kerja hati, serta menurunkan tingkat palatabilitas pakan.
“Selain mencari sumber bahan baku alternatif, strategi lain yang dapat dilakukan adalah melakukan substitusi bahan baku dengan menambahkan feed additive untuk mengoptimalkan penyerapan nutrisi,” jelasnya.
Ia menambahkan, penggunaan marine peptide dapat meningkatkan palatabilitas pakan, sementara bile salt berperan membantu proses emulsifikasi dan pencernaan lemak.
Dari perspektif keberlanjutan, Ei Lin Ooi menjelaskan bahwa meningkatnya kebutuhan pakan global, perubahan kebijakan, kondisi geopolitik, serta fenomena El Niño-Southern Oscillation (ENSO) turut memengaruhi ketersediaan tepung ikan dan minyak ikan di pasar internasional.
Sebagai contoh, gangguan produksi ikan teri di Peru akibat kenaikan suhu permukaan laut berdampak signifikan terhadap pasokan global, mengingat sekitar 20 persen produksi tepung ikan dunia berasal dari negara tersebut.
Menurut Ei Lin, kondisi tersebut menuntut industri pakan untuk menerapkan formulasi yang lebih fleksibel dan memperluas diversifikasi sumber bahan baku guna menjaga keberlanjutan produksi.
“Industri feedmill tidak hanya berbicara tentang konsep Fish In Fish Out (FIFO), tetapi juga berbagai aspek lain yang mendukung keberlanjutan industri secara menyeluruh,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Marleen Dehasque memaparkan manfaat pemanfaatan bile salt dan marine peptide dalam formulasi pakan modern. Menurutnya, bile salt mampu meningkatkan cadangan asam empedu (bile acid pool) sehingga membantu proses emulsifikasi dan penyerapan lemak, sedangkan marine peptide berkontribusi meningkatkan daya tarik pakan bagi ikan dan udang.
Pada forum tersebut, Adisseo juga memperkenalkan Lipogest sebagai sumber bile salt serta Pepsea S yang berbasis marine peptide.
Selanjutnya, Martin Guerin memaparkan strategi optimalisasi penggunaan minyak ikan, peningkatan efisiensi penyerapan lemak, serta pemanfaatan enzim untuk mengurangi dampak senyawa antinutrisi, seperti fitat, dalam bahan baku pakan.
Melengkapi pembahasan, Agus Sumbara menjelaskan penerapan teknologi spraying dalam aplikasi feed additive guna meningkatkan ketepatan penggunaan bahan tambahan pada proses produksi pakan.
Sementara itu, Rakhmad Syahriadi memperkenalkan metode Precise Nutrition Evaluation (PNE) berbasis Near Infrared Spectroscopy (NIR) yang memungkinkan pemantauan dan prediksi kandungan nutrisi bahan baku secara real time, sehingga industri dapat menyusun formulasi pakan yang lebih akurat, efisien, dan adaptif terhadap perubahan kondisi pasar. dian



