Bogor (TROBOSAQUA). Masalahnya sekarang bukan di pasar. Pasarnya ada, bahkan permintaannya naik. Yang sulit justru benihnya,” lontar Shafwan, pembudidaya lele asal Ciampea-Bogor, ketika menggambarkan kondisi usaha yang sedang dihadapinya (30/5).
Pernyataan itu juga menggambarkan tantangan yang kini dihadapi banyak pembudidaya lele. Di tengah permintaan yang terus mengalir, ketersediaan benih justru menjadi titik kritis. Ketika pasokan benih tersendat, siklus produksi pun ikut terganggu.
Menurut Shafwan, gangguan cuaca dalam beberapa bulan terakhir telah memukul sektor pembenihan. Dampaknya terasa hingga ke tingkat pembesaran karena jumlah benih yang beredar di lapangan menurun drastis.
“Biasanya satu hatchery bisa menghasilkan sekitar satu juta ekor per bulan. Sekarang paling hanya 500 sampai 600 ribu ekor,” bebernya.
Penurunan produksi yang mencapai hampir separuh kapasitas tersebut membuat pembudidaya harus bersaing mendapatkan benih. Kondisi itu terjadi ketika kebutuhan pasar justru sedang meningkat. Akibatnya, keseimbangan antara pasokan dan permintaan menjadi semakin rapuh.
“Kalau benih berkurang, ya otomatis nanti panennya juga berkurang. Efeknya memang tidak langsung, tapi pasti terasa,” katanya.
Situasi tersebut semakin menantang karena ikan berukuran kecil yang sebelumnya masih bisa dipelihara lebih lama kini lebih cepat terserap pasar. Pembudidaya pun kehilangan ruang untuk menyimpan stok cadangan yang selama ini berfungsi sebagai penyangga produksi.
Dulu, kenang Shafwan, ikan berukuran kecil masih dapat ditahan untuk dibesarkan hingga mencapai ukuran pasar yang lebih besar. Kini, seiring meningkatnya permintaan, ikan-ikan tersebut lebih cepat keluar dari kolam sehingga stok cadangan semakin menipis.
Meski demikian, ia menilai kondisi saat ini tidak mencerminkan lemahnya usaha budidaya lele. Justru sebaliknya, pasar masih menunjukkan potensi yang besar. Menurut lelaki berkacamata itu, kemampuan produksi pembudidaya sebenarnya masih dapat ditingkatkan apabila pasokan benih kembali normal.

“Kalau permintaan naik dua atau tiga kali lipat, sebenarnya pembudidaya bisa mengejar. Yang perlu diperkuat itu pembenihannya,” tegasnya.
Optimisme tersebut bukan tanpa alasan. Dibandingkan banyak komoditas budidaya lainnya, lele memiliki siklus produksi yang relatif singkat dan teknologi budidayanya telah dikuasai oleh sebagian besar pembudidaya. Dengan dukungan benih yang memadai, peningkatan produksi dapat dilakukan lebih cepat dibanding komoditas lain.
Bagi Shafwan, pasar bukan lagi persoalan utama. Permintaan tetap ada dan peluang usaha masih terbuka lebar. Tantangan sesungguhnya justru berada di hulu. Selama pasokan benih belum pulih, kemampuan produksi lele akan terus menghadapi tekanan. “Masa depan industri lele tidak hanya ditentukan oleh banyaknya ikan yang dipanen, tetapi juga oleh seberapa kuat sektor pembenihan menopang kebutuhan budidaya,” tutup Shafwan. dian



