Jakarta (TROBOSAQUA). Program AgResults Indonesia Aquaculture Challenge berhasil memperluas adopsi teknologi akuakultur modern di kalangan pembudidaya skala kecil. Selama lima tahun pelaksanaan, program ini telah menjangkau 4.693 pembudidaya di 34 provinsi melalui distribusi teknologi budidaya dan layanan pendampingan teknis.
Melalui skema kompetisi berbasis pay-for-results, sebanyak 17 pelaku usaha dan koperasi sektor perikanan menerima insentif dengan total nilai lebih dari Rp23 miliar atas keberhasilannya memperluas akses teknologi budidaya kepada para pembudidaya.
Teknologi yang didistribusikan mencakup aerator dan autofeeder yang terbukti membantu meningkatkan efisiensi usaha budidaya ikan dan udang. Sejak 2024, program juga memperluas cakupannya dengan menghadirkan kategori pendampingan teknis yang berfokus pada pengelolaan kualitas air dan pengendalian penyakit.
Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Tb Haeru Rahayu, menegaskan bahwa peningkatan produktivitas sektor akuakultur perlu didukung oleh pemanfaatan teknologi yang mampu meningkatkan efisiensi usaha budidaya.
“Dalam kerangka Ekonomi Biru menuju Indonesia Emas 2045, peningkatan produksi perikanan budidaya didorong melalui adopsi teknologi seperti pemantauan kualitas air dan penggunaan pakan yang berkualitas,” ujarnya saat penutupan AgResults Indonesia Aquaculture Challenge di Jakarta, Kamis (11/6).

Sementara itu, CEO WWF-Indonesia, Aditya Bayunanda, menilai program tersebut tidak hanya mempercepat adopsi teknologi di tingkat pembudidaya, tetapi juga memperkuat kolaborasi antar pelaku usaha dalam rantai pasok akuakultur nasional.
Menurutnya, peningkatan produktivitas pada lahan budidaya yang sudah ada menjadi langkah penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi pembudidaya tanpa harus membuka lahan baru yang berpotensi menimbulkan tekanan terhadap lingkungan.
Sepanjang program berlangsung, sebanyak 13 pelaku usaha berpartisipasi dalam kategori teknologi dengan total penjualan dan penyewaan mencapai 14.068 unit aerator dan autofeeder. Adapun pada kategori pendampingan teknis, sembilan pelaku usaha dan koperasi berhasil menyalurkan 855 paket layanan kepada pembudidaya di berbagai daerah.
Pada akhir kompetisi, CV Republik Vannamei dinobatkan sebagai penerima penghargaan utama setelah sukses mendistribusikan 2.963 unit aerator dan autofeeder. Capaian tersebut dinilai memberikan kontribusi signifikan dalam memperluas pemanfaatan teknologi budidaya yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan.
Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, lembaga pembangunan, dan para pembudidaya diharapkan semakin mempercepat adopsi teknologi akuakultur guna mendukung peningkatan produktivitas, memperkuat ketahanan pangan, serta mendorong keberlanjutan sektor perikanan budidaya nasional. dian



