Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April menjadi suatu refleksi bagi kaum perempuan, khususnya di sektor perikanan. Yakni, sudah sejauh mana peran perempuan dan ekspresi yang bisa dijalankan para perempuan untuk turut memajukan sektor kelautan dan perikanan.
Dikutip dari siaran pers Kementerian Kelautan dan Perikanan, Direktur Jenderal Penataan Ruang Laut Kartika Listriana menyebutkan PUG menjadi salah satu kunci keberhasilan implementasi kebijakan ekonomi biru yang inklusif. “Perempuan punya peran penting dalam kehidupan sosial-ekonomi wilayah pesisir, baik sebagai pelaku usaha mikro, pengolah hasil perikanan, hingga penjaga nilai-nilai lokal,” ujarnya saat berbicara pada Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Talks memperingati Hari Kartini yang berlangsung di Jakarta baru-baru ini.
Untuk mendukung program-program yang melibatkan perempuan di sektor kelautan dan perikanan, KKP telah menerbitkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 43 Tahun 2023 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengarustamaan Gender di Lingkungan KKP dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 51 Tahun 2016 tentang Pedoman Pemetaan Pelaksanaan Pengarustamaan Gender Bidang Kelautan dan Perikanan di Daerah.
Lebih lanjut Kartika menjelaskan, dalam konteks perubahan iklim dan krisis ekosistem pesisir, perspektif perempuan cenderung memperhatikan keberlanjutan, keamanan, dan keseimbangan fungsi ruang laut yang penting. Beberapa program dan kegiatan dilaksanakan KKP dalam pemberdayaan perempuan di antaranya pemberdayaan masyarakat pesisir melalui pelatihan ekonomi kreatif untuk perempuan pesisir, konservasi dan ekowisata pesisir; Sekolah Lapang Pesisir yang merupakan kerjasama antara KKP, FAO, dan UN Women; pelibatan organisasi perempuan dalam uji publik penyusunan RZWP3K Provinsi, penyusunan zonasi dan pengawasan konservasi berbasis kearifan lokal, serta Program Desa Bahari.
Disadur dari siaran tertulis dkpjatimprov.go.id, perempuan selama ini berperan aktif dalam rumah tangga dan turut bekerja membantu suami untuk meningkatkan perekonomian keluarga. Keterlibatan perempuan dalam semua aspek kehidupan adalah bukti emansipasi dan pemberdayaan perempuan. Peran gender ini dipengaruhi dengan adanya interaksi yang terjadi dalam lingkungan sosial yang bervariasi dan berubah setiap waktu.
Peran gender perempuan menjadi penting dalam pengembangan usaha perikanan di Pelabuhan Perikanan Pantai Tamperan. Di daerah Pesisir Pantai Tamperan ada sebagian wanita yang sudah berkeluarga yang berperan sebagai wanita penjual ikan demi membantu ekonomi dan kebutuhan rumah tangga.
Perputaran ekonomi transaksi jual beli ikan pada kios ikan nelayan ini tidak bisa dikesampingkan karena dampaknya dalam peningkatan harga ikan, nilai produksi, nilai konsumsi ikan dan meningkatnya pengembangan olahan usaha perikanan di Kabupaten Pacitan. Nelayan Kecil di Pelabuhan Tamperan yang memiliki penghasilan yang relatif rendah dan tidak menentu mampu bertahan dengan angka inflasi yang tidak menentu juga terbantu oleh sosok wanita nelayan (istri nelayan) yang bekerja sebagai pedagang ikan di kios.
Dalam kesehariannya perempuan yang melakukan aktivitasnya di kios mempunyai peran penting dalam pendistribusian penjualan ikan hasil tangkapan nelayan kecil. Sejak pagi petang mereka melakukan kegiatan transaksi jual beli ikan sampai siang hari, fenomena ini lazim ditemukan di pesisir Indonesia. Kontribusi perempuan pedagang ikan bukanlah hal baru di negara maju maupun berkembang di luar negeri. Eksistensi mereka diakui sebagai bagian dari aktivitas ekonomi maritim. Otomatis mereka mendapatkan perlindungan dan dukungan kebijakan negara. Jangan lagi memandang mereka sebelah mata.
Disisi lain, perempuan pun terus berjuang dalam berbagai pergolakan. Dilansir dari mongabay.co.id, semangat Kartini terus hidup dan menginspirasi para perempuan melawan tirani, pengekangan dan perampasan hak perempuan.
Semangat Kartini terus hidup dan menginspirasi para perempuan di nusantara ini. Di beberapa daerah para Kartini masa kini berjuang mempertahankan tanah leluhur dan ruang hidup dari upaya perampasan untuk proyek, khususnya di wilayah pesisir.
Perjuangan perempuan menolak segala bentuk ketidakadilan para ibu-ibu menolak rencana proyek karena ancam sumber penghidupan mereka. Di daerah-daerah, perempuan banyak menolak rencana pabrik dan tambang karena kekhawatiran sama.
Dilansir oleh mongabay, aktivis perempuan dan nelayan pesisir berpendapat, di banyak tempat, perempuan acapkali tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan oleh pemerintah. Padahal, mereka menjadi kelompok paling terdampak.
Sistem patriarki yang begitu kuat di masyarakat menjadikan perempuan kian alami beban berat. Maka, sangat penting bagi perempuan memperkuat dan mengorganisasi diri untuk memastikan hak perempuan terpenuhi.
Susan Herawati, Sekretaris Jenderal Koalisi Keadilan Perikanan untuk Rakyat (Kiara) mengatakan, Kartini adalah simbol perlawanan perempuan terhadap patriarki dan ketimpangan. Sekarang, perempuan menjadi baris paling depan perjuangan. Karena mereka paling rentan dan berpikir untuk masa depan anak cucu. “Yang paling menanggung dampak mereka. Semua yang menanggung perempuan ada relasi holistik, sehingga perempuan yang mendorong mereka paling depan,” katanya.



