Dengan segala pasang surutnya, tambak telah mengajarkan Andi satu hal bahwa keberhasilan bukan hanya soal hasil panen, tapi keberanian untuk terus melangkah, bahkan saat laut sedang surut.
Sebelum menjadi petambak sukses, Andi Prasetya adalah anak kota biasa yang tumbuh di tengah hiruk-pikuk Jakarta. Hidup Andi-begitu sapaan akrabnya terbagi dalam dua babak. Babak pertama adalah masa kecil hingga kuliah di Jakarta, kota kelahirannya sekaligus tempat ia ditempa sejak dini. Anak kedua dari tiga bersaudara ini lahir dari keluarga sederhana, ayahnya seorang pegawai negeri sipil, sementara sang ibu mengurus rumah tangga.
Sejak taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, semua ia jalani di ibu kota. Namun hidupnya mulai berubah arah saat menempuh pendidikan D4 Teknologi Akuakultur di Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jakarta. Di kampus itulah Andi pertama kali berkenalan dengan dunia budidaya perikanan, khususnya tambak udang.
“Awalnya cuma teori dan praktikum kampus. Iseng-iseng coba, tapi justru dari situ saya jatuh cinta pada dunia tambak,” kenangnya. Meski tertarik, ia tak langsung menekuni bidang itu. Baru pada 2017, Andi mengambil keputusan besar yang menjadi titik balik hidupnya.
Dengan modal hasil kerja keras kurang lebih sebesar Rp120 juta, Andi meninggalkan keramaian Jakarta dan pindah ke pesisir selatan Purworejo-Jawa Tengah. Ia menyewa dua kolam berukuran 1.500 meter persegi dan memulai siklus pertama budidaya udang vannamei. Bekalnya tak banyak, hanya catatan kuliah, pengalaman praktikum, dan satu prinsip hidup yang menjadi pijakan. “Yang penting berani dulu. Seng penting wani sek,” tuturnya dalam logat khas Jawa sambil tersenyum.
Keberaniannya terbukti tak sia-sia. Siklus pertama berjalan sukses dan menghasilkan profit sekitar Rp200 juta. Dari sana, rasa percaya diri tumbuh. “Keberanian itu modal pertama. Tanpa itu, langkah awal tidak akan pernah ada,” ujarnya mantap. Saat itulah babak kedua hidupnya dimulai, dari anak kota menjadi petambak udang vannamei.
Dari Euforia ke Ujian Berat
Setelah kesuksesan awal, Andi mulai memperluas skala budidayanya. Dari dua kolam, perlahan-lahan bertambah menjadi sembilan petak aktif hingga tahun 2021. Namun, dunia akuakultur tak selalu ramah.
Menjelang akhir 2020, penyakit mematikan AHPND (Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease) merebak dan menghantam banyak tambak hingga kolaps. Andi pun terkena dampaknya. Dari sembilan kolam, hanya tiga yang masih bisa beroperasi. “Susah, tapi Alhamdulillah masih bisa bertahan. Kuncinya, maksimalkan apa yang ada,” terangnya.
Bagi Andi, kehilangan sebagian besar kolam bukan sekadar kerugian finansial, melainkan juga ujian mental. Di sinilah keluarga menjadi fondasi paling kokoh. “Support system terbaik itu keluarga. Mereka selalu ada dalam keadaan apapun, baik jatuh maupun bangkit. Mereka prioritas di hidup saya, jadi ketika berhasil, saya pasti sisihkan sesuatu untuk mereka,” katanya dengan nada hangat.
Baginya, bertahan adalah kemenangan tersendiri. Dunia tambak mengajarkannya bahwa tidak ada yang benar-benar bisa diprediksi. Satu-satunya cara adalah menjaga konsistensi, merawat apa yang ada, dan terus belajar tanpa henti.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 159/ Agustus-September 2025



