Biosekuriti pada tambak udang merupakan langkah-langkah yang dirancang untuk mencegah, mendeteksi, dan merespons ancaman terhadap kehidupan dan kesehatan udang dan ekosistemnya yang disebabkan oleh agen biologis.
Budidaya udang, dikenal sebagai industri padat investasi dan berisiko tinggi. Namun, risiko tinggi yang disebabkan oleh ketidakpastian mulai dapat dikendalikan dengan teknologi budidaya yang menggabungkan teknik pemeliharaan, deteksi parameter biologis-fisika dan kimia air. Selain itu, pengendalian ekosistem dan kesehatan lingkungan juga telah berkembang secara lebih mendalam dengan biosekuriti.
Andi Tamsil, Ketua Umum Shrimp Club Indonesia (SCI), mengakui bahwa tantangan utama dalam tambak udang di Indonesia adalah serangan penyakit yang berdampak pada Survival Rate (SR). “Rata-rata di beberapa tempat itu rendah. Penyebabnya dapat berasal dari lingkungan sekitar ataupun input budidaya seperti benur dan pakan. Juga biosekuriti,” ungkap dia pada Aquabinar The Series ke-25 bertema ‘Ingin Tambak Udang Sukses? Biosekuriti Bukan Sekedar Investasi’ yang digelar TCOMM melalui platform ZOOM dan disiarkan melalui kanal youtube AgristreamTV pada 19 Juni 2025. Selain Andi, tampil pula Prof Sumardi, Kepala Lab FMIPA UNILA Lampung dan Ahmad Fikri Umam Halim, Product Executive for Aquaculture, PT Agroveta Husada Dharma.
Tak sekadar menjaga SR, biosekuriti berperan dalam meningkatkan produktivitas dan keamanan pangan. “Udang yang kita pelihara itu tidak ada kontaminasi antibiotik misalnya, tidak ada kontaminasi mikroorganisme dan logam berat,” jelas Andi. Sangat penting menjaga kualitas udang untuk pasar ekspor. Sebab lebih dari 80% udang RI diekspor ke negara yang standar keamanan pangannya tinggi.
Tiga Pilar Utama Biosekuriti
Andi Tamsil memaparkan bio-exclusion, bio-containment, dan eradication. “Pertama exclusion, mencegah masuknya penyakit. “Pokoknya penyakit itu sedapat mungkin tidak boleh masuk di tambak kita. Maka input harus bersih. Benih kita pastikan bersih, SPF, punya sertifikat dari lab yang terakreditasi,” paparnya. Pilar kedua adalah containment, mengendalikan penyebaran penyakit.
“Kalau kita punya beberapa petak tambak, ada petak terkena penyakit atau petak tetangga yang kena penyakit harus diisolasi. Pastikan penyakit di situ tidak menyebar ke mana-mana,” tandasnya. Maka peralatan yang digunakan bukan hanya steril saja, namun juga tidak boleh dipindah-pindah dari petak tambak lain. Selanjutnya adalah kontrol akses, karena tambak bukan tempat rekreasi. Maka sesama pekerja pun tidak boleh sembarang masuk ke satu petakan. Apalagi pekerja dari tambak tetangga.
Pilar ketiga adalah eradikasi, atau memusnahkan sumber penyakit. “Jadi sumber-sumber penyakit itu selain kita cegah, tentu kita hilangkan. Mencakup perlakuan pada kualitas benur, lingkungan, sterilisasi peralatan, serta manajemen pakan,” ujarnya.
Maka Andi menyerukan transparansi antar petambak saat terjadi serangan penyakit. “Kita tidak bersaing dengan tetangga, Kalau tambak kita kena penyakit, kita jujur bahwa kita kena penyakit. Sehingga tetangga yang masih sehat harus hati-hati,” dia mengimbau.
Andi mengakui bahwa penerapan biosekuriti memerlukan biaya tambahan dan kesadaran. “Pasti ada biaya, tapi biaya itu kan investasi,” ujarnya. Ia menyerukan perlunya edukasi kepada para petambak agar memahami manfaat jangka panjang biosekuriti.
Tidak hanya sampai pada konsep dan praktik inti biosekuriti. Namun sampai kepada perubahan perilaku dan kebiasaan semua pihak di tambak. Bahkan dia menyarankan pembangunan fasilitas pendukung seperti asrama (mess) agar pekerja tidak perlu bolak-balik ke rumah yang berisiko menyebarkan kontaminasi. “Disiapkan makanan, kopi, dll supaya fokusnya betul-betul ke pekerjaan,” saran dia.
Dia pun menyoroti perlunya dukungan pemerintah dalam pelaksanaan aturan zonasi tata ruang. “Kalau tambak-tambak itu sudah memiliki izin dan sesuai dengan tata ruang, seharusnya isin itu menjadi jaminan untuk mendapatkan perlindungan dari pemerintah. Jaminan agar tidak ada industri yang lain yang masuk namun berpotensi merusak atau bahkan menggantikan tambak,” ujarnya.
Sumardi merinci enam cara dasar dalam mengendalikan mikroba di tambak. Diantaranya, mengubah lingkungan, dengan cara mengeringkan tambak setelah panen. Mengurangi makanan mikroba, dengan cara mencegah sisa pakan berlebih melalui pengendalian pemberian pakan. Pemberian antibiotik, meski penggunaannya terbatas. Kemudian pemberian bahan herbal, untuk meningkatkan antibodi udang. Memberikan bakteri pesaing (probiotik), dan memanfaatkan musuh alami bakteri (fage).
Mikroba: Musuh atau Sahabat
Prof Sumardi membuka diskusi dengan mengajak peserta memahami bahwa budidaya udang tidak bisa dilepaskan dari mikrobiologi. “Pengetahuan saya dalam mikrobiologi di laboratorium. Jadi saya lebih banyak membahas masalah ilmu dasar dari mikrobiologi,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa ketakutan terhadap mikroba sering kali berlebihan. “Mikroba yang menakutkan itu jumlahnya hanya sekitar mungkin hanya 0,1%. Sangat kecil, ya. Tapi sudah bikin heboh,” ujarnya. Mayoritas mikroba justru menguntungkan atau bersifat netral. Mikroba oportunistik pun tidak berbahaya jika kondisi tambak sehat.
Prof. Sumardi menyoroti bahaya dari sisa pakan dan kotoran udang yang berlebih. “Kalau terlalu banyak sumber N-nya, itu nanti bisa menimbulkan penyakit karena mikroba akan menghasilkan gas-gas amonia,” jelasnya. Ia mengingatkan bahwa mikroba akan terus tumbuh jika tersedia makanan berlimpah di tambak. Maka manajemen kualitas air, pakan, dan limbah menjadi kunci.
Probiotik: Mengisi Rumah sebelum Penjahat Masuk
Menurut Prof Sumardi, mikroba baik seperti bakteri asam laktat dan Bacillus sp mampu membentuk koloni dalam tubuh udang dan mencegah mikroba patogen masuk. “Kalau sudah ada mikroba baik di dinding usus udang atau kulit udang, mikroba penyakit itu nggak bisa masuk,” tutur dia. Probiotik juga menjaga kualitas air dan membantu degradasi limbah organik. Probiotik juga dapat mempercepat pertumbuhan, mendegradasi pakan, dan meningkatkan antibodi udang.
Di sisi lain, mikroba patogen seperti Vibrio parahaemolyticus, V. vulnificus, V. harveyi, dan V. campbellii menjadi ancaman serius. Untuk melawan ini, Prof. Sumardi melakukan riset terhadap musuh alaminya: bakteriofage (fage). Fage itu nempel pada bakteri, kemudian mengendalikan metabolisme bakteri. Ibaratnya seperti pembajak pesawat. Pilot akan dikendalikan oleh pembajak. “Fage terbagi dua, tipe litik yang menghancurkan bakteri, dan lisogenik yang menyisipkan DNA ke dalam bakteri,” jelasnya.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 158/ Juli-Agustus 2025



