Musim kemarau basah menjadi peringatan bahwa iklim kini tak bisa diprediksi. Bagi dunia perudangan, adaptasi bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan mendesak.
Di suatu pagi yang mestinya kering dan terik, Musyafik, petambak udang di Bintuhan, Kabupaten Kaur-Bengkulu, menatap langit mendung di atas tambaknya. Hujan deras baru saja mengguyur, membuat salinitas air di kolamnya turun tapi stabil di angka ideal. Aneh memang, tapi bagi Musyafik, ini justru membawa berkah. “Survival Rate (SR) udang saya naik, ukuran juga besar. Tahun ini panen bisa lebih lama,” tuturnya ringan.
Musyafik mencatat jelas perubahan iklim dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023 adalah musim kemarau kering ekstrem, bahkan sawah tadah hujan di sekitar tambaknya gagal ditanam. Tahun berikutnya, kemarau masih terasa, meski tak separah sebelumnya. Namun pada 2025 ini, situasinya berbalik, kemarau basah mendominasi.
“Artinya, meskipun disebut musim kemarau, tapi hujan masih sering turun,” jelasnya (13/7). Tahun lalu, Juli–Agustus itu puncaknya kemarau. Tapi sekarang, bulan Juli masih sering hujan. Sepertinya awal musim hujan bakal mundur dari tahun lalu.

Meski musim belum pasti, Musyafik tidak menunda jadwal budidayanya. Baginya, manajemen yang tepat bisa menjaga kestabilan produksi, bahkan di tengah cuaca lembap dan tak menentu. Berbeda dengan banyak petambak lain yang kewalahan mengelola air hujan berlebih, Musyafik justru melihat sisi positifnya.
Ia juga mencatat bahwa suhu dan pH tambaknya tetap berada dalam batas toleransi, sehingga tidak menimbulkan masalah berarti. FCR tetap stabil di angka 1,2–1,3, menunjukkan efisiensi pakan tetap terjaga.
Pengalaman serupa juga diungkapkan Novi Fredy Irawan, teknisi budidaya di PT Karyanesia Utama, Cikalong, Tasikmalaya-Jawa Barat. Ia mencatat bahwa sejak April 2025, perubahan cuaca semakin terasa. “Siang hari bisa panas terik, tapi malam hujan deras hingga pagi. Kualitas air berubah drastis,” ucap Novi panggilan akrabnya (10/7). Ia mencatat, suhu bisa turun ke 24-25°C, salinitas ke 8-12 ppt, dan pH ke 7,0-7,5. Akibatnya, metabolisme udang melambat, nafsu makan turun, dan gagal molting makin sering terjadi.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 158/ Juli-Agustus 2025



