banner12 1
Iklan Web R

Tilapia Indonesia Bidik Pasar Dunia

tilapia 2

Jakarta (TROBOSAQUA). Budidaya ikan tilapia (nila) dinilai sebagai langkah strategis untuk mewujudkan swasembada pangan sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar global. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat produksi tilapia nasional pada 2023 mencapai 1,36 juta ton, dengan Jawa Barat sebagai penyumbang terbesar rata-rata 272.735 ton atau 20,96% dari total produksi. Menurut Dr. Suhana, Ketua Divisi Advokasi Asosiasi Tilapia Indonesia (ATI), produksi tilapia tumbuh stabil 1,27% per tahun dan menunjukkan peluang besar untuk ekspansi, khususnya di pasar domestik.

Secara global, nilai pasar tilapia pada 2024 diproyeksi mencapai US$14,4 miliar dan bisa menembus US$23 miliar dalam satu dekade mendatang. Meski Tiongkok masih mendominasi ekspor tilapia dunia dengan pangsa 54,23%, tren ekspor negeri tersebut justru turun rata-rata -5,34% per tahun sejak 2012. Kondisi ini membuka ruang bagi Indonesia yang kini memiliki pangsa 7,65% dengan pertumbuhan ekspor positif 2,68%. Ekspor fillet tilapia Indonesia pada 2024 tercatat 12,8 ribu ton dengan nilai US$93,5 juta (Rp1,4 triliun).

Namun, kontribusi ekspor terhadap total produksi nasional masih sangat kecil, yakni di bawah 1%. Untuk meningkatkan kapasitas ekspor, pemerintah meluncurkan program revitalisasi bekas tambak udang di Pantai Utara (Pantura) Jawa menjadi tambak budidaya nila salin mulai 2025. Ketua Umum ATI, Alwi Tunggul Prianggolo, menyebut program ini sebagai momentum penting agar komoditas nila naik level ke skala industri dan memperluas jaringan pasar global. “Kami mengusulkan agar hasil panen diarahkan ke industri pengolahan fillet untuk ekspor agar tidak menekan harga di pasar domestik,” ujarnya dalam Outlook Tilapia Indonesia 2025 di Ballroom GMB III, Kementerian Kelautan dan Perikanan-Jakarta (28/8).

tilapia
Diskusi santai antara peserta Outlook dan Pemateri by Nadia

Di depan para peserta acara yang terdiri dari beragam profesi, Alwi menambahkan, program revitalisasi ini diharapkan mendorong peningkatan kualitas budidaya, mulai dari perbaikan genetik induk dan benih, sertifikasi, peningkatan SDM, hingga penerapan teknologi budidaya ramah lingkungan dan pakan berkualitas. “Hal ini penting agar nila Indonesia mampu bersaing di pasar global sekaligus menjaga harga di pasar dalam negeri,” katanya.

Di sisi lain, budidaya tilapia masih menghadapi tantangan serius, salah satunya isu dugaan logam berat pada ikan di Waduk Cirata, Jawa Barat. Menurut Alwi, kabar tersebut memukul harga nila di tingkat pembudidaya hingga Rp15 ribu per kg dari harga normal Rp22 ribu per kg, serta menurunkan permintaan pasar 50%. Padahal, uji laboratorium independen oleh PT Saraswanti Indo Genetech (SIG) pada 17 Juli 2025 dan Balai Pengujian Kesehatan Ikan dan Lingkungan (BPKIL) Serang pada 3 Agustus 2023 menunjukkan ikan di Cirata bebas dari logam berat berbahaya.

“ATI berharap pemerintah pusat dan daerah melakukan uji bersama untuk memastikan keamanan ikan Cirata,” tegas Alwi. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pelaku usaha, masyarakat, dan pemerintah dalam menjaga kualitas lingkungan perairan. “Kami siap mendukung verifikasi, monitoring lingkungan, dan pengelolaan perikanan berkelanjutan di Waduk Cirata,” pungkasnya. dian

Tag:

Bagikan:

Trending

By Istimewa
Nyamankan Benur untuk Padat Tebar Tinggi
Belida by KKP
Ikan Lokal Tertinggal di Negeri Sendiri  
Hasil panen udang dok trobos
Film Komposit Kitosan/CMC Pertahankan Kualitas Vannamei
Panen nila by TROBOS
Nila Hitam dari Kediri
Fillet patin by Ramdan
Patin Indonesia Incar Pasar Haji  
banner6
banner9
Scroll to Top

Tingkatkan Strategi Budidaya Anda! Baca Insight Terbaru di Trobos Aqua!