Meski jalannya berbeda, pembudidaya generasi muda sepakat membesarkan nila adalah bentuk nyata kontribusi mereka dalam menjaga keberlanjutan agribisnis.
Di tengah derasnya arus anak muda yang berbondong-bondong memilih sektor teknologi sebagai jalan hidup, ada segelintir yang justru menempuh jalur berbeda. Yurid Kushendarsyah dari Tasikmalaya-Jawa Barat (Jabar) membangun masa depan dari sesuatu yang sederhana, yakni budidaya ikan nila. Dan ia memilih bermain aman dengan membudidayakan beberapa strain sekaligus, seperti nirwana, nila sakti, dan strain lain yang populer di pasaran. Semua melalui proses jantanisasi dengan hormon metil testosteron agar pertumbuhannya lebih cepat.
Ia hapal betul bentuk masing-masing strain, ada yang berbentuk oval berisi, memanjang, dan bulat padat. “Tapi buat pedagang, bentuk itu nggak penting. Yang penting terlihat besar,” katanya santai (19/8). Meski begitu, ia tahu ada strain yang bisa dipanen lebih cepat, selisih hingga 7–12 hari.
Laki-laki berusia 29 tahun ini sudah akrab dengan dunia air sejak kuliah. “Dulu di kampus sudah hobi pelihara ikan, mulai dari lele, patin, gurami, sampai nila. Kenapa akhirnya pilih nila? Karena hidupnya simpel, mudah dibudidayakan, banyak yang suka, dan harganya stabil,” kenangnya sambil tersenyum. Dari hobi itulah lahir usaha yang kini ia tekuni di Kawalu, Tasikmalaya.
Sementara itu, Abdul Rohman Abi dari Bogor-Jawa Barat lebih gemar bereksperimen. Saat ini ia menguji nila merah NiFi. Sebelumnya, ia pernah memelihara nila merah bangkok yang bisa tumbuh 300–500 gram hanya dalam 104 hari dari benih 15 gram, atau 7 bulan jika mulai dari larva.
“Tapi NiFi lebih mudah diperoleh bibitnya, plus induknya jelas. Ada SKAI dan sertifikat CPIB,” terangnya (21/8). Menurutnya, jaminan mutu sejak awal adalah kunci. Keunggulan NiFi juga terlihat dari proses adaptasi dan karantina yang lebih cepat dibanding strain lain.
Perkenalan Abi-sapaan dengan dunia ikan punya kisah berbeda. Di usia muda, ia tak hanya berperan sebagai pembudidaya nila, tapi juga dikenal sebagai content creator perikanan, konsultan bioflok, sekaligus tenaga kependidikan di IPB University. Ia meyakini sektor perikanan sering luput dari perhatian, padahal menyimpan potensi besar. “Saat pandemi, sektor ini tetap berjalan. Saingannya juga tidak sepadat teknologi. Justru ini peluang besar,” ujarnya penuh keyakinan.
Bahkan, Abi menyebut para konglomerat dunia sudah mulai mengalihkan investasi ke agribisnis. “Momentum ini jangan sampai kita lewatkan,” ungkapnya.
Tradisional vs Modern
Perbedaan semakin kentara saat bicara soal sistem budidaya. Yurid mengandalkan dua pilihan, kolam kincir dan bioflok. “Kalau air irigasi lancar, pakai kincir. Minimal ada pergantian 30% per hari. Kalau air terbatas, baru bioflok. Memang lebih lama 20 harian, tapi tetap bisa jalan,” ujarnya menjelaskan sistem yang diterapkan.
Di tempat lain, Abi tak ragu menyebut bioflok sebagai masa depan. Dengan padat tebar hingga 100 ekor per meter kubik, teknologi ini menjawab persoalan klasik, yakni keterbatasan lahan, air, limbah, dan pakan. “Bioflok itu paket lengkap. Hemat lahan, hemat air, limbah lebih aman, pakan bisa ditekan. Cocok banget buat zaman sekarang,” ucap pembudidaya berusia 25 tahun ini penuh keyakinan.
Namun, perjalanan awalnya tidak mulus. Abi sempat gagal. Hal itu disebabkan oleh salah menghitung jumlah titik dan ukuran aerasi, keliru mengaplikasikan probiotik dan karbon, hingga sistem bioflok yang tak stabil. Semua kesalahan itu justru menjadi guru berharga.
“Kalau bukan karena kegagalan itu, mungkin saya tidak bisa sampai di titik ini. Sekarang malah jadi konsultan bioflok, bahkan klien saya ada yang di Sulawesi Selatan,” tuturnya bangga.
Strategi Pakan dan Kualitas Air
Pakan adalah biaya terbesar dalam budidaya. Yurid memilih cara sederhana, yakni kolam kincir diberi pakan 4 kali sehari, dimulai butiran 2 mm lalu naik 3 mm. Sedangkan di kolam bioflok, hanya 3 kali sehari karena bibitnya lebih besar. Untuk menjaga kualitas air, ia rutin melakukan sifon dan pengurasan tiap 1–2 minggu, lalu mengganti 30–40% air. “Air baru bikin ikan lebih segar, tumbuh optimal,” jelasnya pada tim TROBOS Aqua sore itu.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 161/ Oktober-November 2025



